Masuk

Tips

Beranda / Artikel
Search:

Jangan Remehkan! Ternyata Tukang Bangunan Tak Lagi Gaptek!
<p><strong><em>Oleh: Evelyn Davsy</em></strong></p> <p>Rumah dan bangunan konstruksi merupakan hal-hal yang selalu berada di sekitar kita. Bangunan-bangunan ini pun menjadi tempat kita melakukan beragam aktivitas, misalnya saja bekerja, berbelanja, hingga beristirahat. Namun sadarkah Anda bahwa para pekerja konstruksi alias tukang merupakan orang yang berjasa pada bangunan-bangunan yang kita gunakan ini?</p> <p>Pemerintah Indonesia pun sebenarnya telah menunjukkan kepeduliannya terhadap para pekerja jasa konstruksi, yaitu dengan adanya UU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Dalam kebijakan ini, dibahas pula mengenai perlindungan hak-hak para tukang, seperti keselamatan, kesehatan, hingga jaminan sosial tenaga kerja. Lalu kira-kira, bagaimana sih peran tukang sebenarnya dalam kehidupan kita</p> <p> </p> <h2><strong>1. Tanpa Tukang, Tak Ada Bangunan yang Menjulang Tinggi di Sekitar Kita.</strong></h2> <p><img src="https://preview.ibb.co/bEJU1G/jasa_73_bengkellas_org.png" alt="" width="800" /></p> <p><a href="/backend/cms/article/article/edit/bengkellas.org"><em>bengkellas.org</em></a></p> <p>Kita tentu sering beranggapan bahwa rumah dan bangunan yang ada di sekitar kita merupakan hasil dari jerih payah para kontraktor maupun arsitek. Namun sadarkah Anda, bahwa tanpa tukang, segala rancangan arsitek dan kontraktor tidak akan menjadi bangunan nyata? Meskipun tampak ringan, pekerjaan tukang bukanlah hal yang mudah.</p> <h2><strong>2. Tukang Sangat Menguasai Kemampuan dalam Membuat Konstruksi yang Baik.</strong></h2> <p><strong><img src="https://image.ibb.co/gTywgG/jasa_tukang_bangunan_kulon_progo_info_kulonprogo_bi.jpg" alt="" width="800" height="533" /></strong></p> <p><em><a href="/backend/cms/article/article/edit/info.kulonprogo.bi">info.kulonprogo.bi</a></em></p> <p>Meskipun hampir semua tukang tidak memiliki bekal pendidikan formal mengenai konstruksi bangunan, namun kemampuan mereka dalam membangun sebuah bangunan konstruksi tidak bisa diragukan. Dengan kemampuan yang mereka peroleh dari pengalaman dan belajar secara otodidak, mereka pun dapat memberikan Anda hasil konstruksi yang kini Anda nikmati, yaitu rumah dan bangunan yang Anda gunakan dalam beraktivitas.</p> <h3><a href="/artikel/detail/52" target="_blank" rel="noopener"><strong>Baca Juga: Bagian Bagian Konstruksi Bangunan</strong></a></h3> <h2><strong>3. Penggunaan <em>Gadget</em> yang Sudah Meningkat.<br /></strong></h2> <p><strong><img src="https://image.ibb.co/eChTvb/as.png" alt="" width="800" height="711" /></strong></p> <p><a href="/backend/cms/article/article/edit/jagobangunan.com"><em>jagobangunan.com</em></a></p> <p>Kini, penggunaan <em>gadget</em> pun semakin meningkat, tak terkecuali bagi para tukang, lho. Meskipun jumlahnya masih belum terlalu banyak, namun rupanya telah banyak tukang yang menggunakan <em>gadget</em>dalam kegiatan harian mereka.</p> <h2><strong>4. Tergabung di Komunitas Jago Bangunan.</strong></h2> <p><img src="http://bisniskokoh.com/images/cms//Sertifikasi%20Tukang%20Bangunan%20(Bandung,%2010%20Agustus%202017)//media-20170811.jpg" alt="" width="800" height="531" /></p> <p><a href="/backend/cms/article/article/edit/bisniskokoh.com"><em>bisniskokoh.com</em></a></p> <p>Para tukang bangunan juga sudah mulai tergabung dengan komunitas <em>online</em> untuk meningkatkan kualitas dan pengetahuan yang menunjang pekerjaannya. Komunitas <em>online</em> ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para tukang. Selain itu, lewat portal <a href="/backend/cms/article/article/edit/jagobangunan.com" target="_blank" rel="noopener">jagobangunan.com</a>, para tukang bangunan dapat mengikuti anek program berhadiah yang dipersembahkan oleh PT. Semen Gresik</p> <h2><strong>5. Menggunakan Fitur Tanya Pak Jago dan Jago Hitung di Portal Jago Bangunan.</strong></h2> <p><strong><img src="https://preview.ibb.co/b9XNMG/as_1.png" alt="" width="800" /></strong></p> <p><a href="/backend/cms/article/article/edit/jagobangunan.com"><em>jagobangunan.com</em></a></p> <p><a href="/backend/cms/article/article/edit/jagobangunan.com" target="_blank" rel="noopener">Fitur Tanya Pak JAGO </a>merupakan layanan konsultasi <em>online</em> gratis dengan Pak JAGO tentang desain dan konstruksi bangunan, agar para tukang bangunan semakin memahami pentingnya kualitas dari hasil pekerjaan mereka. Sedangkan <a href="/jagohitung" target="_blank" rel="noopener">fitur Jago Hitung</a> adalah cara cepat dan mudah menghitung anggaran biaya bangunan. Fitur ini sangat mudah dipergunakan, sehingga dapat menjadi andalan para pemborong maupun tukang pada umumnya.</p> <p><strong>Semen Gresik</strong> pun telah menunjukkan kepeduliannya terhadap para pekerja konstruksi di Indonesia. Hal ini pun dibuktikan dengan adanya portal <a href="/backend/cms/article/article/edit/jagobangunan.com" target="_blank" rel="noopener">jagobangunan.com</a> yang ditujukan untuk para tukang di Indonesia. Dalam portal ini, para tukang bisa memperoleh berbagai informasi yang berkaitan dengan pekerjaan konstruksi yang sedang mereka jalani.</p> <h3><a href="/promosi/detail/23" target="_blank" rel="noopener"><strong>Baca Juga: Arisan Jago Bangunan Semen Gresik Diperpanjang Hingga 30 November 2017</strong></a></h3>
Tak Lulus SD Bukan Hambatan, Mantan Kuli Bangunan Ini Sukses Jadi Duta Tukang dan Pemborong di Bangkalan
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p>Maryanto, pria kelahiran Bondowoso ini sukses bekerja di bidang konstruksi berkat keuletan dan kerja kerasnya. Satu lagi mantan kuli bangunan, bahkan ia tak lulus SD, yang berhasil meraih gelar Duta Tukang Bangunan Semen Gresik dan menjadi pemborong di daerah tempat tinggalnya, Bangkalan, Madura. Ini jadi bukti jika nasib memang bisa diubah kan, #SahabatJagoBangunan?</p> <p><strong>Berkelana Jadi Kuli Bangunan Berupah 4500 Rupiah </strong></p> <p>Pekerjaan di bidang bangunan ia lakoni dengan jatuh bangun yang tak sebentar. Bermula pada 1992, ia merantau ke Surabaya untuk menjajaki dunia kuli bangunan. Namanya kuli pada masa itu, gaji besar sangat jauh dari harapan. Saban hari ia hanya mendapat upah sebesar 4500 rupiah.</p> <p>Dua tahun berselang, ia mencoba peruntungan di Bangkalan, Madura. Di sana Maryanto bergabung dengan garapan proyek RSS (Rumah Sangat Sederhana) dan RS (Rumah Sederhana), meski ternyata gaji tak kunjung naik.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Maryanto/IMG-20170927-WA0013.jpg" alt="" width="382" height="636" /><em>(Sumber: dok. Mariyanto)</em></p> <p>Pernah juga ia menjajal bekerja di sebuah toko material, masih di daerah yang sama dengan proyek perumahan. Tentunya setelah semua proyek itu rampung dan belum ada peluang proyek lain. Sayangnya, meskipun hasil kerjanya tetap belum bisa menutupi kebutuhan keluarga.</p> <p>Tak lama kemudian, pria kelahiran 1973 ini memantapkan diri kembali ke proyek pembangunan. Tawaran gaji 8000 rupiah per hari pun tak menyurutkan semangat untuk terus menggeluti dunia konstruksi.</p> <p><strong>Nekad Jadi Pemborong Tanpa Modal</strong></p> <p>Selama menekuni proyek pembangunan, Maryanto juga mencoba bidang perkayuan untuk menambah keahlian. Bermula dari ajakan teman, ia belajar cara membuat kusen, pintu, daun jendela, produk furniture, dan perlengkapan rumah lainnya.</p> <p>Lambat laun, setelah menabung dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar, ia beranikan diri menjadi pemborong tanpa modal. “ Saya tidak punya modal apa-apa waktu itu, yang saya andalkan adalah kepercayaan orang lain dan kejujuran saya sendiri”, kata bapak dari tiga orang anak ini menambahkan.</p> <p>Hingga pada 2010, ia mengikuti pelatihan tukang bangunan yang diadakan oleh Semen Gresik dan berhasil mengantarkan Maryanto menjadi juara 1 bidang perkayuan. Ia menyisihkan 169 peserta lain dan dinobatkan menjadi Duta Tukang Bangunan untuk wilayah Bangkalan, Madura.</p> <p>Kemenangan itu seakan membuka pintu kemenangan lain yang mengubah nasibnya. Tak lama setelah pelatihan itu, ia mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam program sertifikasi tukang di Malang, Jawa Timur, dan mengantongi nilai tertinggi ke-3. Hasil pelatihan dan sertifikasi tersebut mengantarkan Mariyanto menjadi pemborong yang semakin dipercaya. Orderan pun terus silih berganti hingga kini.</p> <p><strong>Nabung Recehan Hingga Bisa Bangun Dua Rumah</strong></p> <p>“Saya nabung sedikit demi sedikit dari uang receh sisa gaji harian untuk keperluan istri melahirkan”, kenangnya. Jungkir balik perjuangan pria ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat ia syukuri. Kini ia memiliki dua rumah, kendaraan, dan mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.</p> <p>Meski sudah menjadi pemborong, Maryanto tidak segan untuk turut bekerja sebagai tukang dan membuat furniture berbahan kayu. Saat ini ia banyak mengambil borongan dari proyek pembangunan rumah dan kost berlantai dua atau tiga. Kadang satu proyek belum selesai, sudah ada pesanan mengantri dan ini sangat ia syukuri.</p> <p><strong>Resep Sukses ala Maryanto</strong></p> <p>“Kunci suksesnya ya dengan berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas.", kata Maryanto saat ditanya bagaimana resep suksesnya. Maryanto juga menyarankan rekan tukang lain untuk terus menambah pengalaman dan keahlian di bidangnya dengan mengikuti pelatihan serta sertifikasi.</p> <p>Manfaatnya bukan hanya untuk meningkatkan kualitas tukang, tapi juga berdampak pada kepercayaan dan penghargaan  yang layak dari klien atas pekerjaan yang kita lakukan. Tak lupa ia berpesan agar tukang selalu kerja keras dan bersemangat, karena semua jerih payah akan terbayar pada waktunya.</p> <p>Demikian kisah Maryanto dari Bangkalan, Madura, mantan kuli bangunan yang kini sukses jadi pemborong. Semoga menginspirasi Anda untuk terus semangat bekerja.</p> <p>#SahabatJagoBangunan, untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan, Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Dua penanya terbaik tiap bulan kan mendapat merchandise menarik dari Semen Gresik. Ikuti dan simak terus artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p> <p> </p>
Terpilih Jadi Duta Terampil, Mantan Kuli Bangunan yang Hanya Lulus SMP Ini Tak Lagi Diremehkan
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p>Ulet, menjaga kepercayaan, dan percaya diri rupanya menjadi kunci kisah sukses Amir menjadi tukang bangunan yang terampil. Bapak satu anak ini juga dinobatkan menjadi Duta Terampil Bangunan oleh Semen Gresik yang mewakili kabupatennya, Jember.</p> <p>“Saya cuma lulusan SMP”, Kata pria asli Jember itu ketika ditanya pendidikan terakhirnya. Lulusan SMP membuat dia sendiri tidak heran jika akhirnya bekerja sebagai kuli bangunan setelah lulus sekolah dulu. Tahun 1991 ia memilih Surabaya untuk mengadu nasib dengan menjadi kuli bangunan.</p> <p><strong>Menjadi pedagang telur</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Amir/ilustrasiamir6.jpg" alt="" width="620" height="355" /><a href="/backend/cms/article/article/tempo.co"><em>(Ilustrasi)</em></a></p> <p>Selama kurang lebih 5 tahun, pekerjaan menjadi kuli bangunan akhirnya ia lepas. Bekal yang tak cukup, keahlian yang minim di bidang kontruksi, membuatnya memutuskan berhenti dan kembali ke kampung halamannya di Jember. Alih-alih mengadu nasib yang baru, ia memutuskan berjualan telur di pasar sekitar tempat tinggalnya.</p> <p>Rupanya berdagang bukan tempat berlabuh terbaiknya untuk mencari rezeki, terbelit modal yang pas-pasan membuat ia kembali lagi menekuni profesi sebagai kuli bangunan di sekitar tempat tinggalnya. “Yaaa Mbak, berdagang telur juga butuh modal banyak, sedangkan waktu itu dagangan saya tidak naik-naik hasilnya” tuturnya.</p> <p><strong>Semakin terasah berkat proyek pembangunan desa</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Amir/ilustrasiamir4.jpg" alt="" width="636" height="318" /><em>(<a href="/backend/cms/article/article/properti.kompas.com">Ilustrasi</a>)</em></p> <p>Baru ketika tahun 2006 ia beranikan diri mengikuti pelatihan tukang yang diadakan pemerintah Kabupaten Jember dengan Semen Gresik. “Saya percaya diri saja waktu ada yang ngajakin saya ikut.” Kata pria dengan nama Amir Mahmud itu.</p> <p>Sebelumnya, suami dari Siti Masiha ini sempat bekerja untuk proyek pembangunan desa seperti jembatan dan sarana prasarana lain. Hal tersebut cukup menjadi bekalnya dalam pelatihan. Selain itu juga sudah banyak yang merekomendasikan dirinya untuk segera mengasah kemampuan lain lewat pelatihan tersebut.</p> <p><strong>Terpilih jadi Duta Terampil Bangunan</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Amir/ilustrasiamir3.jpg" alt="" width="620" height="350" /><em>(<a href="/backend/cms/article/article/kepalatukang.com">Ilustrasi</a>)</em></p> <p>Berawal dari ajakan tetangga yang juga mengikuti pelatihan, Amir yang lumayan punya bekal menjadi kuli sebelumnya akhirnya mendapatkan peringkat pertama dalam kualifikasi tingkat kabupaten untuk menjadi Duta Terampil Bangunan Kabupaten Jember. Pelatihan  tersebut membawanya membekali ilmu-ilmu konstruksi yang lebih dalam, sehingga pamornya sebagai tukang bangunan pun terangkat.</p> <p>Meskipun penghasilan masih belum tetap seperti dulu, ia cukup bangga karena sudah mampu membeli rumah, sepeda motor, dan biaya sekolah anaknya yang mampu ia lunasi dengan pekerjaannya sebagai tukang bangunan</p> <p>“Soal penghasilan memang nggak tentu, tapi tawaran bekerja datang terus, jadi alhamdulillah pemasukan ada terus.” Ujarnya ketika disinggung masalah penghasilan saat ini. Amir mengaku satu proyek bangunan bisa mencapai 2 -3 bulanan dengan bayaran berbeda-beda. Sebelum proyek satu selesai, biasanya sudah ada yang mengantri minta dibangunkan rumah lagi.</p> <p><strong>Lebih dihargai dengan status tersertifikasi</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Amir/FER_1083.jpg" alt="" width="634" height="420" /><em>(Ilustrasi: dokumentasi Forum Terampil Semen Gresik)</em></p> <p>Semasa masih menjadi kuli, Amir mengaku sering dianggap remeh oleh mandor-mandornya dulu. Bahkan dianggap remeh oleh orang yang memperkejakan sampai tidak dibayar sesuai jumlah yang dijanjikan sebelumnya. Menurutnya, tanpa ada status tingkatan dalam bertukang, ia tidak akan dihargai seperti sekarang ini.</p> <p>Pelatihan tukang bangunan memberikan banyak sekali hal positif bagi pekerjaannya. Apalagi dengan diajarkannya cara menghitung batako, semen, dan bahan kontruksi lainnya membuat ia lebih percaya diri dalam bekerja.</p> <p><strong>Sukses </strong><strong>berkat</strong><strong> ulet dan tekun</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Amir/ilustrasiamir2.jpg" alt="" width="642" height="321" /><em>(<a href="/backend/cms/article/article/pinterest.com">Ilustrasi</a>)</em></p> <p>Ayah dari Irham Makhrus ini memang hanya lulusan SMP, tapi ia mengaku kunci dari keberhasilannya dalam bertukang adalah keuletan dan tekun dalam bekerja. “Bekerjalah yang ulet, agar mudah dipercaya orang. Setelah itu baru dapat menjaga kepercayaan orang lain, juga menjaga pekerjaannya sendiri.”</p> <p>Selain itu, ia juga menyarankan bagi para tukang bangunan lain untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tukang bangunan yang diadakan, terutama dari Semen Gresik karena sangat bermanfaat. “Jika ada kesempatan, ikutlah. Dari sana kita bisa belajar lebih banyak lagi.”, tambahnya mengakhiri perbincangan tentang resep suksesnya.</p> <p>#SahabatJagoBangunan, untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan, Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Dua penanya terbaik tiap bulan kan mendapat merchandise menarik dari Semen Gresik. Ikuti dan simak terus artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Nur Azis Kurnianto, Founder Berbagisemangat.com Beromzet 40 Juta per Bulan Ini Ternyata Mantan Kuli Bangunan
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p><em>"Tawaran iklan di instagram dan penghasilan buku, omset per bulan mencapai 40 jutaan”, kata founder @berbagisemangatcom yang kini sudah mengantongi lebih dari 278 ribu followers itu, sumringah.</em></p> <p>Azis, begitulah ia akrab disapa. Pemuda asli Klaten ini mulai bercerita tentang nasib yang terbentur keadaan. Pada 2010 silam, selepas tamat SMA 2 Purbalingga, masalah biaya membuatnya tak mungkin melanjutkan pendidikan tinggi dan berujung menjadi kuli bangunan.</p> <p>Lebih dari itu, #SahabatJagoBangunan, tak punya bekal keahlian apapun menjadi alasan paling logis ketika menerima tawaran teman untuk bekerja di sebuah bangunan.</p> <p>“Waktu itu ayah dan keluarga tidak punya rumah. Dilelang bank karena tidak bisa membayar hutang. Waktu kecil usaha orang tua bangkrut, bank melelang semua aset yang ditanggungkan”, kenangnya sebelum melanjutkan kisah.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Azis/IMG-20170830-WA0022.jpg" alt="" width="595" height="516" /><em>Azis tetap tersenyum meski impiannya berkali-kali terkubur. (Sumber: dok. Azis)</em></p> <p>Hasil kerja bangunan setahun pertama ia tabung untuk biaya kuliah, tapi ternyata masih kurang. Tahun berikutnya ia ingin mencoba lagi, namun bebarengan dengan adiknya masuk SMA. Tak ada pilihan lain, ia rela menangguhkan sekali lagi impian kuliah agar Sang Adik tidak putus sekolah. Tahun ketiga? Lagi-lagi ia harus bersabar. Tabungan harus ia bayarkan untuk hutang-hutang keluarga yang sudah jatuh tempo.</p> <p>“Setelah itu saya mulai <em>down </em>karena belum bisa kuliah. Akhirnya saya berfikir, jika jadi kuli bangunan terus saya tidak bisa melanjutkan impian untuk kuliah”, nadanya terdengar agak menyedihkan.</p> <p><strong>Banting Setir, Dari Tukang Bangunan Jadi Karyawan Hotel</strong></p> <p>Kegagalan demi kegagalan tak membuat Nur Azis Kurnianto, nama lengkapnya, menyerah. Ia terus memikirkan jalan keluar. Hendak mencoba jadi karyawan, rupanya ijazah SMA pun belum mampu ia kantongi tak punya biaya untuk menebus. Untungnya kesabaran dan usaha keras tak pernah menghianati. Tak lama setelah itu, ia mendapat kesempatan untuk bekerja di sebuah hotel.</p> <p>Tekadnya untuk melanjutkan pendidikan pun terus ia kuatkan hingga doanya terjawab: ia berhasil kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan mengambil program studi Pendidikan Agama Islam. Bahkan Tuhan memberikan bonus yang tak pernah ia bayangkan. “Alhamdulillahnya, saat saya kuliah itu mendapatkan beasiswa.", ini membuatnya merasa sangat terbantu dan masa depan mulai ada harapan.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Azis/IMG-20170830-WA0021.jpg" alt="" width="653" height="404" /><em>Azis semasa menjadi mahasiswa. (Sumber: dok. Azis)</em></p> <p>Kesibukan kuliah tak lantas membuatnya meninggalkan pekerjaan. Profesi karyawan hotel tetap ia lakoni di malam hari. Tak peduli tipisnya waktu istirahat yang ia punya, siang kuliah malam bekerja. Hari-hari ia jalani dengan penuh semangat selama 1 tahun.</p> <p><strong>Sukses Berkat "Berbagi Semangat"</strong></p> <p>“Modal semangat ini lah (yang membuat) saya ingin menjadi orang bermanfaat untuk sekitar. Walaupun belum punya harta yang bisa dibagi dan ilmu masih sangat minim.", ia melanjutkan cerita.</p> <p>Lagi-lagi keinginan kuat membuat ia berpikir keras, hingga tercetus ide gerakan "Berbagi Semangat" . Melalui website berbagisemangat.com dan akun sosial media yang berisi motivasi untuk membangkitkan semangat diri sendiri dan membagikan semangat itu Ke orang lain.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Azis/IMG-20170830-WA0020.jpg" alt="" width="632" height="322" /><em>Azis menjadi salah satu narasumber dalam acara peringatan hari besar Islam. (Sumber: dok. Azis)</em></p> <p>Bermula dari akun ini pula, ia menyalurkan hobi yang selama ini ia pendam: menulis. Hobi yang ternyata membuka jalan baru untuk mencari rezeki tanpa harus bekerja kasar (menggunakan banyak tenaga seperti tukang bangunan atau karyawan). Azis pun memantapkan langkah untuk berhenti jadi karyawan hotel dan menggeluti "dunia berbagi".</p> <p>Kini akun instagram @berbagisemangatcom telah mengantongi lebih dari 278 ribu followers. Tak ayal kemudian bermunculan tawaran dari berbagai penerbit untuk bekerjasama menggarap proyek buku. Dari situlah Allah membukakan pintu rejeki yang luar biasa.</p> <p>"Tawaran iklan di instagram dan penghasilan buku, omset per bulan mencapai 40 jutaan”, katanya sumringah. Salah satu bukunya berjudul "Habis Susah Terbitlah Mudah" bisa didapatkan di Gramedia seluruh Indonesia.</p> <p>Selain akun @berbagisemangatcom, Azis juga mengelola 10 akun sosial media lain yang kini menjadi ladang bisnis sosialnya. Diantaranya @PotretSemangat @semangatsedekah @kajiansemangat @VideoSemangat dan @SemangatMenikah, dengan inovasi layanan di bidang lain yang masih berkaitan dengan konsep #BerbagiSemangat.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Azis/IMG-20170830-WA0023.jpg" alt="" width="628" height="473" /><em>Azis bersama para penggemar karyanya. (Sumber: dok. Azis)</em></p> <p>Untuk merawat semua itu, ia dibantu 5 staff yang terbagi dalam berbagai tugas, seperti pengelolaan web dan bantuan kemanusiaan. Ada juga volunteer di berbagai daerah untuk melakukan gerakan sosial melalui akun @semangatsedekah. Kegiatan ini ia gagas untuk membantu orang yang membutuhkan uluran tangan.</p> <p>#SemangatSedekah dan 3 akun lain --@kisahsemangat, @videosemangat, @rumahsemangat, dikelola dengan apik dan terakomodir dalam satu website Berbagisemangat.com. Media ini bahkan tak sekadar menjadi sumber semangat, inspirasi, atau motivasi belaka. Bagi pembaca, followers, dan orang-orang yang telah ia bantu, media berbagisemangat.com ini semacam kepanjangan tangan Tuhan untuk menolong umat-Nya dari berbagai kesulitan.</p> <p><strong>Resep Sukses Ala Azis</strong></p> <p>Saat ditanya resep sukses, ia dengan mantap menirukan jargon berbagisemangat.com: "Spirit for Better Lillahitaála". Ia sukses berkat semangat untuk menjadi lebih baik lagi, semata karena Allah. Semangat ingin sukses juga harus dibarengi niat menuntut ilmu, agar ilmu itu bisa menuntunnya menuju kehidupan yang diridhoi Allah SWT.</p> <p>“Jangan takut gagal, karena yang menuntun langsung adalah Allah. Yang penting jalankan perintahnya sebaik dan semaksimal mungkin, dan jauhi larangannya agar bisa dibantu secara luar biasa dari Allah.". Pria berusia 25 tahun ini juga menegaskan kalau keajaiban Allah itu nyata bagi hamba-Nya yang taat.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Azis/IMG-20170830-WA0018.jpg" alt="" width="656" height="675" /><em>Azis kini sukses menjadi penulis buku "Habis Susah, Terbitlah Mudah". (Sumber: dok. Azis)</em></p> <p>Sementara untuk rekan tukang bangunan, ia mewanti-wanti agar selalu jujur dan rajin dalam segala situasi kerja. Diawasi atau tidak diawasi mandor, tetap harus melakukan tugasnya dengan baik. Jangan mentang-mentang tidak diawasi, tukang bisa malas-malasan atau bekerja semaunya.</p> <p>"Karena sesungguhnya rejeki itu bukan dari mandornya, tapi dari Allah.", pesan mahasiswa semester 6 ini mengakhiri kisahnya.</p> <p>Nah, #SahabatJagoBangunan, jika seseorang yang dulu hanya bekerja jadi kuli bangunan saja bisa sukses dan memberi banyak manfaat untuk orang lain, bagaimana dengan Anda? Semoga kisah ini menginspirasi dan senantiasa membangkitkan semangat Anda untuk meraih impian.</p> <p>#SahabatJagoBangunan, untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan, Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Dua penanya terbaik tiap bulan kan mendapat merchandise menarik dari Semen Gresik. Ikuti dan simak terus artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Dari Gaji Tiga Ribu per Hari, Tukang Batu Ini Bisa Beli Rumah dan Mobil Tanpa Nyicil
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p>“Saya pernah dibayar 3000 per hari, kalau lembur per jamnya ditambah 200 rupiah.” kenang Heru saat ditanya perjuangan awal sebelum menjadi pemborong sukses seperti sekarang.</p> <p>#SahabatJagoBangunan, kala itu ia bekerja di bagian logistik perusahaan pergudangan setelah memutuskan merantau ke Jakarta pada 1989 silam.</p> <p><strong>Terpaksa Jadi Tukang Batu</strong></p> <p>Di sela waktu bekerja di logistik, ia belajar banyak kepada orang lapangan tentang bangunan. Karena bayaran di bagian logistik sangat tidak mencukupi, ia berpindah profesi menjadi tukang batu meski pekerjaan itu tidak selalu ada. “Kontrakan nunggak, listrik, air juga nunggak, ya karena nggak mampu memenuhi. Akhirnya saya mencari jalan lain” katanya.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Heru/WhatsApp_Image_2017-08-14_at_08_01_46.jpeg" alt="" width="548" height="713" /><em>Heru di tempat proyek. (Sumber: dok. Heru)</em></p> <p>Berkat keuletannya belajar di lapangan, Heru yang pernah mengikuti ujian paket C SMA ini sering dipromosikan agar diangkat menjadi tukang bangunan. Berbekal sikap yang jujur dan rapi, bapak yang mengaku sudah memiliki 3 anak ini menjadi kepercayaan orang-orang bangunan.</p> <p>Kepercayaan inilah yang membuatnya yakin untuk melanjutkan langkah di bidang konstruksi. Ditambah desakan untuk memperbaiki nasib, lelaki berusia 45 tahun ini memutuskan memulai usaha sebagai pemborong. Berbekal nekat tanpa modal sepeser pun, Heru mengandalkan uang DP dari pelanggan. Keuntungannya Heru bayarkan untuk melunasi berbagai tagihan dan sisanya ditabung.</p> <p><strong>Proyek Sering Tidak Dibayar</strong></p> <p>Meski banyak yang memercayainya sebagai pemborong, tak jarang pula ia ditipu dan tidak dibayar proyeknya. Bahkan tak jarang ia malah rugi puluhan juta. Di tengah kondisi jungkir balik usahanya, istrinya berulang kali jatuh sakit.</p> <p>“Tapi saya berusaha setia sama Tuhan, bagaimana pun Tuhan itu pasti mau mendengar doa saya”. Benar saja, Tuhan memang tidak pernah tidur. Berkat kerja keras dan doa itu, lambat laun usahanya mulai dikenal banyak orang. Dalam satu tahun bisa ada 2-3 proyek bangunan rumah bertingkat.</p> <p>Sebelum menjadi pemborong, orang-orang pernah merendahkan lelaki asli Semarang ini. Saat masih menjadi tukang batu, ia bermimpi memiliki mobil sendiri. “Saya dibilang gini, meski ayam beranak - kucing bertelur, kamu tidak mungkin bisa beli mobil” tuturnya menirukan orang-orang yang pernah mengejeknya.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Heru/WhatsApp_Image_2017-08-22_at_12_53_19.jpeg" alt="" width="463" height="487" /><em>Heru di depan rumah. (Sumber: dok. Heru)</em></p> <p>Untungnya, ejekan itu justru membuat tekadnya semakin besar. Heru berjanji akan membuktikan bahwa suatu saat nanti ia akan memiliki rumah dan tanah sendiri, serta mobil baru yang ia bayar secara cash. Kini, lelaki yang sudah memiliki satu cucu ini berhasil membuktikan tekadnya.</p> <p><strong>Kunci Sukses Heru: </strong><strong>Tuhan Selalu Bersama Kita</strong></p> <p>Doa, ikhtiar, pasrah kepada rencana Tuhan akhirnya membuahkan hasil. Kini proyeknya berjalan lancar dan pekerjaan terus datang silih berganti. Satu borongan belum selesai, sudah ada yang memesannya lagi. Heru mengaku lebih memilih mengerjakan proyek bangunan rumah bertingkat di kawasan perumahan, sampai renovasi. Omzet tiap proyeknya bisa mencapai tiga puluh sampai ratusan juta rupiah.</p> <p>Saat ini hasil kerja kerasnya itu ia belikan rumah dan tanah sebagai investasi tua di Semarang, kampung halamannya, serta mobil yang langsung ia bayar lunas. Heru, berkat kesabaran dan kerja kerasnya, kini tak perlu khawatir menunggak uang kontrakan dan listrik seperti dulu.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Heru/WhatsApp_Image_2017-08-22_at_12_53_18.jpeg" alt="" width="451" height="666" /><em>Heru bersama mobil hasil jerih payahnya. (Sumber: dok. Heru)</em></p> <p>“Intinya yang pertama itu harus Tuhan. Apapun yang kita usahakan harus kita pasrahkan kepada Tuhan.” tegasnya saat ditanya tentang resep sukses. Selain itu, menurutnya, kunci sukses yang bisa ia bagikan untuk orang lain ada 4 hal:</p> <p>1. Apapun kondisinya, selalu bersyukur karena setiap ujian dan cobaan pasti ada hikmahnya.</p> <p>2. Jangan malas belajar dan menambah ilmu baru. Meskipun hanya sebagai tukang bangunan, harus memahami dasar-dasar kontruksi dengan baik agar bisa memberikan hasil yang memuaskan.</p> <p>3. Tidak perlu takut mencoba pekerjaan baru. Bermula dari tukang batu, bertahap jadi tukang bangunan, hingga takut untuk mencoba jadi pemborong.</p> <p>4. Pastikan bekerja dengan rapi agar selalu mendapatkan kepercayaan pelanggan.</p> <p>Itulah kisah Heru, Sahabat. Gaji 3000 per hari yang ia terima pertama kali saat mulai bekerja, justru menjadi penyulut semangat untuk melampaui batas kemampuan. Hinaan orang lain ia balas dengan ketulusan doa, hingga apa yang impikan kini sudah terwujud semua. Semoga kisah ini menginspirasi dan terus mamacu semangat Anda, #SahabatJagoBangunan.</p> <p>Untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p> </p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Kuli Aduk Modal “Dengkul” Ini Sukses Berbisnis dengan Omzet Ratusan Juta
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p>#SahabatJagoBangunan, siapa yang bisa menebak nasib? Seorang tukang bangunan bermodal dengkul kini menjadi pemborong dan pengusaha furniture dengan omset ratusan juta rupiah. Itulah yang dialami Tas’an, pria asal Demak yang kini sukses dengan proyek bangunan serta interior.</p> <p>“Semua harus gigih, mau kerja keras, mau mensyukuri apa saja. Apapaun pekerjaannya harus menikmati. Kalau tidak, jenuh.” kata Tas'an saat ditanya awal mula kisah suksesnya itu.</p> <p><strong>Sukses Modal </strong><strong>“</strong><strong>Dengkul</strong><strong>”</strong></p> <p>Dulu, ia hanya lulusan SD yang nekat merantau ikut tetangga ke Jakarta, sebagai kuli aduk di sebuah proyek bangunan. Bermodal <em>dengkul, </em>pekerjaan apapun ia lakoni asalkan halal. Hingga kegigihan dan ketekunan untuk terus belajar membawanya menjadi seorang pemborong dan pebisnis sukses.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Tasan/WhatsApp_Image_2017-08-14_at_08_03_14.jpeg" alt="" width="357" height="355" /><em>Sumber: dok. Tas'an.</em></p> <p>Kini Tas'an memiliki tiga ruko khusus untuk bisnis furniturenya dan satu kantor untuk bisnis proyek sipil dengan jumlah karyawan tetap 23 orang. Tiga ruko furniturenya berada di daerah Cempaka Putih, Cilandak, dan Bintaro. Sementara kantornya ada di daerah Jogrek Cisaeng. Omzetnya pun tidak main-main. Tiap bulan dapat mencapai ratusan juta rupiah dari semua bisnis yang ia jalankan.</p> <p><strong>Kemauan Besar untuk Terus Belajar</strong></p> <p>Saat ditanya bagaimana liku perjalanan hidupnya, ia mengaku mulai belajar <em>nukang </em>seperti jadi tukang cat, tukang batu, tukang besi, saat pertama bekerja sebagai kuli aduk. Alhasil keseluruhan ilmu pembuatan rumah tersebut dapat ia kuasai.</p> <p>Setelah diangkat menjadi tukang bangunan tetap dan memiliki sedikit tabungan, ia lanjutkan lagi sekolahnya hingga SMP. Namun terbentur biaya lagi-lagi menjadi masalah. Tas’an kembali merantau ke Ibu Kota.</p> <p>Menjadi tukang bangunan tidak membuat kebutuhan hidupnya tercukupi, apalagi ia sudah berkeluarga sejak 1995 yang memaksa untuk mencari jalan rezeki lain. Bermodal tekat yang kuat ia mulai belajar sedikit demi sedikit menjadi pemborong tenaga kerja. Beruntung ada seorang kontraktor yang membimbing bagaimana mengelola proyek, sampai diajari cara menjadi mandor.</p> <p>“Saya juga belajar ngitung-ngitung material sendiri, dibantu oleh orang-orang PT yang dulu mempekerjakan saya” ceritanya.</p> <p>Tas’an memang dikenal gigih dan ulet dalam menekuni pekerjaan. Meski hanya lulusan SMP, kemauan belajar banyak tentang konstruksi bangunan ini sangat besar. Ia belajar bersama para kontraktornya tentang bagaimana menghitung uang proyek, sampai pemanfaatan komputer dengan perangkat Ms. Excel, Autocad, Ms. Word, untuk menunjang kemampuannya menjadi pemborong dan mandor proyek.</p> <p>Alhasil, banyak yang percaya dengan hasil pekerjaan dia. Memborong tenaga kerja dan material menjadi pekerjaan tetapnya setelah itu.</p> <p><strong>Bisnis Berbekal Niat dan Tekat</strong></p> <p>Pendapatan dari borongan tenaga kerja dan material itu tak lantas ia sia-siakan. Justru ia kumpulkan untuk modal bisnis baru. “Dari nabung, sedikit demi sedikit saya sisihkan untuk modal. Lha wong saya ini nggak berpendidikan, orang tua juga hanya petani di kampung. Modalnya ya niat dan tekat saja” tuturnya saat ditanya bagaimana modal awal bisnisnya yang kini melesat.</p> <p>Saat krisis moneter melanda negeri ini, proyek-proyek bangunan yang biasa ia borong mulai sepi. Ia kreatif membuka usaha interior, sembari mengembangkan kemampuannya dalam membuat berbagai furniture rumah. Dimulai dari menyewa satu ruko yang dulu hanya 3 juta per tahun, hingga membuka <em>showroom furniture</em> sekaligus menawarkan borongan tenaga maupun material sipil kepada pelanggan. Dari situlah para pelanggannya mulai mengakui kerja bagus Tas’an.</p> <p><strong>Kejujuran, Kunci Sukses Tas’an</strong></p> <p>“Saya bukan orang berpendidikan, modal juga tidak punya dulu. Kunci untuk sukses bagi saya ya yang paling pertama kejujuran.” Pak Tas’an mengawali resep suksesnya. Setelah dirangkum, resep sukses yang menjadi andalannya ini ada 4 hal:</p> <p>- Siapapun kita, ketika jujur, dimanapun itu kita akan sukses.</p> <p>- Disiplin dalam pekerjaan</p> <p>- Menepati janji</p> <p>- Menjaga kepercayaan orang lain. Dengan menjaga kepercayaan orang lain, mereka pun akan percaya kepada kita.</p> <p>Nah, itu dia kisah sukses Tas'an yang tak malu dan tak lelah berjuang dari nol, dari tak punya bekal apa pun. Dia juga mau berjuang keras untuk memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan, meski harus memaksa dirinya belajar banyak hal. Mulai semua ketrampilan konstruksi bangunan, sampai penggunaan komputer yang sebelumnya tak pernah ia sentuh.</p> <p>Terbukti, kurang tingginya pendidikan formal dan profesi sebagai kuli bangunan ternyata bukan halangan untuk bisa meraih kesuksesan. Bagaimana menurut Anda, #SahabatJagoBangunan?</p> <p>Untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p> </p> <p><em> Editor: Damae Wardani</em></p>
25 Tahun Jatuh Bangun, Kuli Bangunan Ini Sukses Jadi Kepala Tukang dengan 3 Sertifikasi
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p>“Yang penting itu tekun, apa pun pekerjaannya kalau tekun kan lama-lama menguasai ilmunya.”, kata Supiyat membuka cerita.</p> <p>SahabatJagoBangunan, semangat hidup itu yang menjadi pegangan Supiyat, pria kelahiran Jember yang kini sukses di bidang konstruksi. Setelah 25 tahun jatuh bangun sebagai tukang bangunan, ketekunan membawa Supiyat jadi kepala tukang untuk berbagai proyek pembangunan rumah di Sidoarjo, daerah sekitar tempat tinggalnya.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Supiyat/WhatsApp_Image_2017-08-21_at_16_45_58.jpeg" alt="" width="672" height="478" /><em>Sertifikatifikasi Tukang Bangunan Semen Gresik. (Sumber: dok. Supiyat)</em></p> <p>Kisah bermula dari selepas SMA pada 1986, berbekal nekat tanpa menguasai bidang apa pun, ia merantau dari Jember ke Surabaya untuk mengadu nasib. Pekerjaan kuli bangunan pun jadi pilihan untuk menyambung hidup di tanah rantau. Beberapa tahun berselang, ia mulai diangkat menjadi tukang bangunan. <em>Ngikut sana ngikut sini </em>dari kota satu ke kota lain. “Apa pun itu saya lakoni dengan tekun”, ia berkata dengan penuh keyakinan.</p> <p><strong>Mengantongi 3 Sertifikasi dan Juara 1 Lomba Pertukangan Tingkat Nasional</strong></p> <p>Meskipun tidak banyak menghasilkan perubahan, pekerjaan menjadi tukang bangunan yang berpindah-pindah proyek tetap dilakukan. Supiyat sempat mengikuti mandornya sampai ke Pasuruan untuk mengejar rezeki.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Supiyat/WhatsApp_Image_2017-08-18_at_11_18_50.jpeg" alt="" width="592" height="751" /><em>Supiyat mendapat plakat penghargaan. Sumber: dok. Supiyat.</em></p> <p>Pengalaman menjadi tukang bangunan sealma 25 tahun itu membuatnya cukup percaya diri untuk mengikuti sertifikasi tukang bangunan yang diselenggarakan oleh Semen Gresik pada tahun 2009. Dari 36 peserta yang berdomisili Sidoarjo, ia mengantongi peringkat pertama dan berhasil mendapatkan pengakuan sebagai tukang bangunan mumpuni.</p> <p>Lelaki yang mengaku sangat cinta dengan pekerjaanya ini lantas berani mencoba mengikuti pelatihan tukang bangunan dan lomba-lomba lain. Seperti Lomba Pertukangan Tingkat Nasional 2011 oleh Dinas Pekerjaan Umum Pusat di Jakarta dan berhasil menyabet juara 1.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Supiyat/WhatsApp_Image_2017-08-21_at_16_45_59.jpeg" alt="" width="572" height="791" /><em>Piagam Penghargaan Juara 1 Lomba Konstruksi Tingkat Nasional. (Sumber: dok. Supiyat)</em></p> <p>Ayah dari dua anak ini juga mendapatkan sertifikasi mandor dan instruktur tukang. Beragam sertifikasi ini membuat Supiyat menjadi tukang bangunan yang patut diperhitungkan. Banyak yang kemudian menawari proyek bangunan rumah di kampungnya.</p> <p><strong>Cintai Pekerjaan</strong><strong> dan Lakukan Dengan Hati Senang</strong></p> <p>“Dari sana itu, saya mulai diakui di dunia pertukangan. Alhamdulillah rezeki jadi lancar terus.”  kenang Supiyat.</p> <p>Saat ini Supiyat lebih banyak menggarap proyek rumah hingga rusun di daerah perkampungannya sekarang. Bersama para karyawan yang lebih sering ia sebut sebagai rekan kerja sebanyak 6-8 orang.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Supiyat/WhatsApp_Image_2017-08-21_at_16_45_57.jpeg" alt="" width="655" height="467" /><em>Sertifikasi tukang bangunan Semen Gresik. (Sumber: dok. Supiyat)</em></p> <p>“Saya itu senang jadi tukang bangunan, karena sudah lama sekali menjadi pekerjaan saya. Dari dulu sampai sekarang juga pekerjaannya tukang bangunan. Bedanya sekarang saya sudah enak. Jadi kepala tukang yang kerjaannya tidak terlalu berat.” imbuhnya.</p> <p>Berkat pengakuan orang-orang sebagai tukang bangunan profesional dan bersertifikat, Supiyat menjadi kepala tukang yang jauh lebih sejahtera dibanding dulu saat masih jadi tukang bangunan biasa. </p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Supiyat/WhatsApp_Image_2017-08-13_at_20_17_39.jpeg" alt="" width="632" height="355" /><em>Supiyat bersama rekan kerjanya, duduk nomor 2 dari kanan. Sumber: dok. Supiyat.</em></p> <p>Ia bercerita, “Sekarang tawaran bikin rumah itu dalam setahun bisa 3-5 kali. Jadi lancar terus, satu rumah selesai, langsung ada lagi proyek yang harus digarap. Gitu terus. Ya itu yang saya sebut rezeki nggak pernah putus.” terangnya seraya mengucap 'alhamdulillah'.</p> <p>Namun ketika ditanya berapa omzet yang diraup per bulan, lelaki ini tak mau menjawab nominalnya. Yang jelas ia sudah merasa sukses dan sangat tercukupi dengan menjadi tukang bangunan sekarang. “Intinya saya itu bersyukur dengan apa yang saya dapat sekarang” tegas Supiyat.</p> <p><strong>Tekun dan Istiqomah itu Kunci Suksesnya</strong></p> <p>Menyoal resep suksesnya, lelaki berusia 49 tahun ini mewanti-wanti untuk selalu tekun dan istiqomah dalam bekerja. Garis takdir sudah ada yang mengatur, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin. Ia juga berpesan untuk bangga dengan apa yang kita kerjakan sekarang.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Supiyat/WhatsApp_Image_2017-08-13_at_20_28_50.jpeg" alt="" width="613" height="460" /><em>Supiyat bersama rekan kerja dan staff Semen Gresik, nomor 4 dari kanan. Sumber: dok. Supiyat.</em></p> <p>Sementara untuk tukang pemula, ia menyarankan untuk mengikuti kegiatan sertifikasi dan pelatihan dari Dinas Pekerjaan Umum maupun yang diadakan oleh Semen Gresik. Selain bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengalaman, sertifikasi juga menjadi bukti kualitas tukang agar layak dihargai dan membuka peluang pekerjaan lain.</p> <p>“Yang terpenting dari kesuksesan itu ya merasa cukup, sebesar apa pun pencapaian kita kalau tidak bersyukur ya tidak akan pernah merasa tercukupi”. pesan terakhirnya menutup wawancara.</p> <p>Itu dia kisah sukses Supiyat, Sahabat.</p> <p> </p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p> <p> </p>
Didi Sunardi, Menyulap Nasib Kuli Bangunan Jadi Komika Bertarif Jutaan
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>#SahabatJagoBangunan, agaknya pepatah “tak penting kartu apa yang dipegang, yang penting bagaimana cara menggunakannya” berlaku dalam hidup Didi. Pekerjaan kuli bangunan yang seringkali dipandang rendah orang lain, justru mengantarkan pria kelahiran Cianjur ini naik daun sebagai komika.</p> <p>Didi Sunardi, nama lengkapnya, yang dulu begitu sering menelan asam garam hujatan, kini mampu menghasilkan sekitar 5 juta untuk 10-15 menit sekali naik panggung. Ia terus memupuk mimpi agar bisa membawa keluarganya hidup lebih baik lagi. Membuat asap dapur terus mengepul dan anak-anaknya tumbuh dewasa tanpa beban dan kekurangan.</p> <p style="text-align: center;"><iframe src="//www.youtube.com/embed/g7Uh_NLQX5Y" width="560" height="314" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p> <p>Perjuangan ayah dari 3 anak ini membawanya berhasil masuk babak lima besar di ajang Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 7 Kompas TV, yang baru saja berakhir bulan lalu. Nama pria berusia 35 tahun itu pun tercatat sebagai salah satu komika sukses dengan ciri khas cerita kehidupan kuli bangunan.</p> <p><strong>Bermimpi Jadi Penulis</strong></p> <p>Sejujurnya menjadi kuli bangunan maupun komika bukanlah mimpi Didi. Dulu, Didi kecil sangat menyukai dunia menulis. Wajar jika pelajaran favoritnya saat di bangku sekolah ialah bahasa Indonesia. Ia bahkan bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk menuangkan inspirasi kala sang guru memberikan tugas untuk membuat cerita.</p> <p><img style="margin-right: auto; margin-left: auto; display: block;" src="/images/cms///articles/DIDI KOMIKA/WhatsApp_Image_2017-08-09_at_07_56_21.jpeg" alt="" width="644" height="642" /></p> <p>Sayangnya, cita-cita bekerja di bidang kepenulisan tak bisa ia capai. Himpitan kebutuhan membuatnya harus memilih: merintis jadi penulis atau bekerja dengan tenaga yang ia punya. Pilihan kedua dirasa paling realistis bagi Didi kala itu, mengingat ia harus memenuhi kebutuhan hidup yang terus menuntut setiap hari. Ditambah, sebagian besar keluarganya memang bekerja dengan tenaga sebagai tukang bangunan.</p> <p><strong><em>Nguli</em></strong><strong> Bangunan Sejak Usia 18</strong></p> <p>Jadilah ia mengawali karir sebagai kuli bangunan begitu lulus SMK. Namun bertahun-tahun setelah melakoni pekerjaan itu, ia baru mendapat upah. "Saya resmi dapat bayaran ya mulai 2005.", kenangnya.</p> <p><img style="margin-right: auto; margin-left: auto; display: block;" src="/images/cms///articles/DIDI KOMIKA/WhatsApp_Image_2017-08-09_at_07_56_17.jpeg" alt="" width="555" height="552" /></p> <p>Didi juga pernah bekerja di bidang instalasi listrik. Kemampuan yang ia dapatkan dari bangku SMK itu ia praktikkan untuk mengisi kekosongan kerjaan karena memang pemasangan listrik tak butuh waktu lama. Meski baginya pekerjaan kuli bangunan itu mudah dicari, tapi tetap ada saat ketika satu proyek sudah selesai dan belum ada tawaran proyek lain.</p> <p>“Saat bangunan sepi ya bisa sampai sebulan menganggur. Tapi kalau sedang banyak sampai bingung mau ikut siapa.”, ungkap Didi.</p> <p>Selama menjadi kuli, Didi aktif belajar teknik pertukangan dari ayah, kakek, dan saudara yang juga berprofesi sebagai tukang. Hingga enam tahun berselang, Didi mulai dipercaya menjadi tukang bangunan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan bangunan yang ia terima, terutama rumah tinggal. Gaji kuli yang awalnya 60-65 ribu pun mengalami peningkatan menjadi 70-100 ribu per hari.</p> <p><strong>Tertarik Jadi Komika Gegara Materi Ceritanya Nulis Sendiri</strong></p> <p>Kisahnya menjadi pekerja bangunan tak lantas ia akhiri meski sudah memutuskan untuk banting setir menjadi komika. Alasannya sederhana, pria yang kini menetap di Bandung ini ingin mewujudkan impian untuk menulis cerita. Rupanya, Didi baru tahu kalau ada beberapa komika yang menulis ceritanya sendiri. Dari sana pulalah hatinya tertarik pada dunia yang penuh dengan tawa itu.</p> <p><img style="margin-right: auto; margin-left: auto; display: block;" src="/images/cms///articles/DIDI KOMIKA/didi2.jpg" alt="" width="542" height="514" /></p> <p>Pemilik akun Instagram @didi_sunardi07 ini pun mulai menulis pengalamannya sebagai kuli bangunan dan membawakannya di panggung SUCI 7. Tak disangka, kisah yang dianggap remeh oleh rekan sesama pekerja bangunan itu justru disukai juri dan para penggemarnya. Tak ayal perjuangan itu membuatnya berhasil menembus posisi 5 besar.</p> <p>Jika ia pikir ulang, uniknya, justru pengalaman menjadi kuli bangunanlah yang mengantarkan ia menjadi komika. Tak pernah sekali pun dalam setiap penampilan, Didi melupakan statusnya sebagai kuli bangunan. Beragam cerita lucu nan menusuk hati tentang masyarakat kelas bawah, ia bungkus apik dalam penampilan Stand Up Comedy-nya.</p> <p><img style="margin-right: auto; margin-left: auto; display: block;" src="/images/cms///articles/DIDI KOMIKA/didi4.png" alt="" width="551" height="310" /></p> <p>Namun untuk sampai di titik itu, tak sedikit perjuangan yang Didi lakukan. Bahkan saat baru mulai belajar stand up di sela pekerjaan, ada saja rekan sesama kuli dan tukang bangunan yang mencoba menyurutkan semangatnya. “Ya dibilang tidak pantas ikut Stand Up Comedy karena sudah tua. Malu sama umur katanya.”, keluh Didi.</p> <p>Beruntung Didi memiliki mental baja dan tetap tegap berjalan hingga berhasil tampil di atas panggung SUCI 7.  Menyuarakan banyolan yang membawa tawa seraya menutup telinga akan hujatan yang terus menerpanya. “Saya termasuk orang yang cuek. Tidak terlalu suka mendengarkan omongan orang lain yang hanya membuat lemah semangat saya. Kalau saya sudah yakin saya bisa, ya tinggal lakukan saja”, tegas Didi.</p> <p><strong>Resep Sukses Didi: Menikmati Kerja Bangunan</strong></p> <p>Sebelum mengakhiri wawancara, Didi berpesan untuk rekan kuli bangunan, terutama yang baru mulai bekerja, agar tak perlu malu menjadi seorang kuli. Asal dikerjakan dengan ikhlas, pasti akan membawa kebaikan. Sementara untuk menjadi tukang bangunan, yang terpenting menurut Didi ialah bekerja dengan rapi dan menjaga kepercayaan.</p> <p><img style="margin-right: auto; margin-left: auto; display: block;" src="/images/cms///articles/DIDI KOMIKA/WhatsApp_Image_2017-08-09_at_07_55_36.jpeg" alt="" width="625" height="616" /></p> <p>"Kerja bangunan memang capek, tapi kalau sudah lama dan sudah menikmati ya nggak kerasa capeknya". Apalagi ada anak-anak yang menjadi penghibur dan penebar kebahagiaan kala sudah tiba di rumah. Keletihan bekerja sepenuh tenaga seakan menghilang, berubah jadi semangat orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.</p> <p>Saat ditanya pilih tetap jadi tukang bangunan atau komika, Didi berkelakar, "Kalau dilihat secara materi ya pilih komika. Biar kebutuhan keluarga tercukupi dan taraf hidup jadi lebih baik lagi." Tapi bukan berarti Didi akan meninggalkan profesi tukang. Walau bagaimana pun, kehidupan di bidang bangunan inilah yang membesarkan namanya dan mewujudkan sebagian impian masa kecil. Impian yang sempat pupus terbentur keadaan.</p> <p>Nah, #SahabatJagoBangunan, itu dia kisah seorang mantan kuli bangunan yang kini sukses jadi komika, Didi Sunardi. Semoga menjadi inspirasi untuk Anda agar senantiasa semangat dalam bekerja. Apakah Anda juga punya impian yang belum terwujud, Sahabat? Jika iya, jangan pantang menyerah. Didi sudah membuktikan perjuangannya, kini giliran Anda.</p> <p>Untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p> </p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Ini Tips Sukses Ala #PakJago Agar Tukang Bangunan Bisa Naik "Pangkat"
<p><em>Oleh: Dwi Klarasari</em></p> <p>Setiap jenis pekerjaan memberi kesempatan dan harapan bagi pekerjanya untuk berkembang. Tak terkecuali bagi pekerja bangunan. Semua tergantung pada pola pikir, semangat kerja, juga cita-cita yang dimiliki. Sudah banyak contohnya, seorang yang mengawali karir sebagai buruh bangunan di tingkat terendah bisa berkembang hingga menjadi tukang, mandor, bahkan kontraktor.</p> <p>#SahabatJagoBangunan, apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan karir? Ini tips sukses berkarir ala #PakJago untuk #PakTukang yang juga bisa diterapkan oleh #SahabatJagoBangunan.</p> <ol> <li><strong>Mencintai pekerjaan</strong></li> </ol> <p>Bekerja bukan hanya mencari uang, tetapi juga bentuk aktualisasi diri. Dengan bekerja kita bisa mendapat penghargaan karena mampu menunjukkan keberadaan serta potensi diri. Jadi, sudah seharusnya kita mencintai pekerjaan. Seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya akan menguras energi lebih besar untuk bekerja dan cenderung stres karena pekerjaan menjadi beban.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Karir tukang/karir1.jpg" alt="" width="627" height="392" /></p> <p>Sebaliknya, jika mencintai pekerjaan, Anda pasti akan bekerja lebih tekun, bersemangat dan dipenuhi harapan positif yang ingin Anda perjuangkan. Hal ini akan membuat hidup Anda lebih berarti dan bahagia.</p> <ol start="2"> <li><strong>Memiliki kemauan kuat untuk maju</strong></li> </ol> <p>Pekerja bangunan juga memiliki tingkatan. “Pangkat” terendah adalah pembantu tukang atau laden, dan di atasnya adalah tukang—dengan spesifikasi keahlian (tukang kayu, tukang batu, dll). Di atas tukang ada kepala tukang yang membawahi beberapa tukang. Sementara yang membawahi puluhan tukang dan laden adalah mandor. Mandor bertanggung jawab kepada pemborong atau pelaksana bangunan.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Karir tukang/karir2.jpg" alt="" width="618" height="348" /></p> <p>Kecuali berpendidikan, seperti lulusan SMK jurusan Teknik Bangunan yang memiliki ilmu dan keterampilan khusus, kebanyakan pekerja bangunan mengawali karier dari tingkat terendah. Namun, bukan mustahil jika seorang kernet kelak akan menjadi tukang; tukang menjadi kepala tukang; dan seterusnya. Anda harus memiliki kemauan kuat untuk maju dan meningkatkan “pangkat”.</p> <ol start="3"> <li><strong>Menjadi pekerja keras sekaligus pembelajar</strong></li> </ol> <p>Tidak cukup jika #SahabatJagoBangunan hanya memiliki kemauan kuat untuk maju. Di lapangan Anda harus menunjukkan diri sebagai seorang pekerja keras yang melakukan pekerjaan dengan tekun, bersemangat. Tindakan ini akan menjadi salah satu nilai positif yang akan dipertimbangkan atasan Anda jika ingin memberikan kepercayaan atau tanggung jawab lebih besar kepada Anda.</p> <p>Nilai positif tersebut tidak akan berarti jika keterampilan Anda tidak pernah meningkat. Anda harus menjadi seorang pembelajar, yang dapat menyerap ilmu dari orang-orang di lingkungan kerja Anda. Terutama dari mereka yang lebih ahli. Bekerja dan belajarlah sekaligus.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Karir tukang/karir4.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p> <p>Sebagai contoh, jika Anda seorang kernet tukang batu, jangan sekadar melakukan perintah mengangkat material. Tetapi pelajari cara membuat adukan pasangan pondasi atau bata, juga plesteran. Jangan segan untuk bertanya dan menimba ilmu—asalkan tidak mengganggu tugas Anda juga orang lain.</p> <p>Pastikan dari waktu ke waktu ilmu dan keterampilan Anda bertambah—menguasai berbagai keahlian—sehingga pangkat Anda kelak meningkat menjadi tukang. Demikian pula bagi Anda yang seorang #PakTukang, kepala tukang, dan sebagainya.</p> <ol start="4"> <li><strong>Mampu memanfaatkan kesempatan</strong></li> </ol> <p>Manfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada, baik yang diberikan atasan maupun pihak-pihak terkait. Jika Anda sebagai kernet diminta mengerjakan tugassedikit melebihi tanggung jawab, terimalah dengan senang hati. Boleh jadi ini adalah kesempatan Anda untuk belajar.</p> <p>Manfaatkan pula kesempatan untuk turut dalam berbagai kegiatan, baik di lingkungan pekerjaan di luar. Misalnya, mengikuti kegiatan pelatihan dan sertifikasi, berpartisipasi dalam berbagai lomba pertukangan, hingga bergabung dalam perkumpulan profesi tukang. Manfaatkan kesempatan untuk menimba berbagai pengalaman berharga yang ditawarkan oleh berbagai pihak.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/Karir tukang/Gambar_2__Manfaatkan_kesempatan_untuk_menambah_ilmu_dan_meningkatkan_keterampilan___sumber_global-energi_com_.jpg" alt="" width="494" height="328" /></p> <ol start="5"> <li><strong>Membangun reputasi yang baik</strong></li> </ol> <p>Bangunlah hubungan baik dengan atasan serta miliki toleransi terhadap rekan kerja. Sangat baik bila Anda menjadi pribadi terbuka terhadap kritik dan saran, tetapi juga bila dimintai bantuan. Lebih dari itu, Anda harus tampil sebagai pekerja yang baik, bekerja dengan ikhlas dan sepenuh hati. Tekun, bertanggung jawab, pantang mengeluh, dan selalu berlaku jujur.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/Karir tukang/karir5.jpg" alt="" width="662" height="441" /></p> <p>Kepribadian demikian akan membangun reputasi yang baik serta menciptakan kepercayaan dari pihak-pihak lain, terutama orang yang mempekerjakan Anda. Hal ini tentu akan mendukung jalan sukses meningkatkan karier Anda.</p> <p>Nah #SahabatJagoBangunan dan #PakTukang semangat terus untuk menekuni karir dan berkembang di dunia pertukangan. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan, jangan ragu untuk berkonsultasi melalui website maupun callcenter – Bebas Pulsa di nomor 0800-188-5656.</p> <p>Ikuti dan simak terus artikel #PakJago berikutnya. Semoga bermanfaat.</p> <p> </p>
Dari Kuli Bangunan Hingga Duta Terampil Situbondo, Liku Perjalanan Anang Sukardi
<p><em>Oleh: Joko Ristono</em></p> <p><br />Anang Sukardi, lelaki yang lahir, besar, dan menetap di Kota Situbondo, Jawa Timur, ini berhasil menjadi pengusaha sukses di bidang konstruksi bangunan. Ia bersama 60 karyawannya kini menggarap berbagai proyek pembangunan rumah, kantor, jalan, jembatan, irigasi, hingga hotel yang tersebar di wilayah Situbondo dan sekitarnya.</p> <p><strong>(Baca juga: <a href="/artikel/detail/982">Hari Martono: Jangan Pelit Berbagi Ilmu, Hasilnya Akan Kembali ke Diri Sendiri )</a></strong></p> <p>Pria yang akrab disapa Haji Anang ini selalu berusaha memberi hasil terbaik untuk kepuasan pelanggannya. Hal ini terbukti dari pekerjaan yang tidak pernah sepi. Bahkan ia dipercaya oleh pihak desa dan kecamatan untuk mengelola proyek pembangunan desa di wilayahnya. Kesuksesan ayah dari putri semata wayang ini tak lain ialah buah jerih payah sejak usia muda.</p> <p><strong>Ikhlas, Kunci Keberhasilan Anang</strong></p> <p>“Selama beberapa tahun sejak 1974, saya merantau ke berbagai kota seperti Surabaya, Malang dan paling lama di Cilacap”. Selama di perantauan inilah Haji Anang belajar ilmu pertukangan. Dimulai dari pekerjaan di bagian pengecoran beton laut seperti tiang pancang, pipa, dan bangunan dermaga saat ia bekerja di perusahaan Amerika dan Belanda selama di Cilacap.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/anang_2.jpg" alt="" width="591" height="418" /></p> <p>“Selama bekerja di perusahaan Amerika dan Belanda ini, saya banyak belajar bahwa untuk sukses itu harus disiplin, kerja keras, mau belajar dan terus semangat untuk maju, dan saya beruntung mendapatkan kesempatan itu” dengan semangat ia bercerita. Sebelumnya ia mengawali pekerjaan di Cilacap di Pertamina Refinery Project selama 1975-1976.</p> <p>Puas merantau di berbagai kota dan mendapat banyak ilmu pertukangan, ia memutuskan kembali ke Situbondo dan memantapkan diri menjadi seorang tukang bangunan. Berbekal pendidikan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan pembangunan, seperti sudah digariskan bahwa memang jalan hidupnya di bidang pertukangan. Bertahun-tahun lalu, lelaki berdarah Madura ini menjalani kehidupan sebagai seorang kenek atau kuli bangunan, sebelum menjadi tukang.</p> <p>“Saya menjalaninya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, mencari uang sambil terus belajar” kenangnya. Begitulah Anang Sukardi menjalankan peran menjadi seorang tukang. Ia melakukan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh, tidak pernah mengeluh, justru semua dilakukan dengan penuh semangat.</p> <p><strong>Pelatihan Semen Gresik Jadi Titik Balik Kesuksesan</strong></p> <p>Pada 2007, Haji Anang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh Semen Gresik. Dari 34 peserta dI 17 kecamatan yang terdapat di kabupaten Situbondo, Haji Anang masuk 5 besar. Meski ia tidak mendapat nilai terbaik, namun panitia melihat "sesuatu" dalam diri Haji Anang, yang tidak dimiliki peserta lain. “Selama kegiatan training dilakukan penilaian, hari pertama 3 orang gugur, hari kedua ada 13 orang gugur” cerita Anang.</p> <p>“Saya orangnya tidak bisa diam, tidak bisa melihat pekerjaan yang tidak tuntas, jadi selama pelatihan 3 hari, ketika peserta yang lain menghabiskan waktu dengan ngobrol, saya merapikan pekerjaan, membereskan peralatan dan material, memastikan pekerjaan praktik 100% sempurna” ia melanjutkan cerita. Faktor inilah yang dilihat oleh tim juri, sehingga bukan orang lain yang ditunjuk menjadi Duta Terampil Situbondo, melainkan dia.</p> <p>Terpilihnya Anang menjadi Duta Terampil Situbondo dan mendapat sertifikasi pertukangan dari program pelatihan Semen Gresik itu, menjadi titik balik kesuksesannya. Pelatihan yang diantaranya tentang pemasangan kusen, keramik, bata, pembesian, dan kayu, membuat dirinya semakin dikenal sebagai tukang yang memiliki standar kerja yang baik.</p> <p>“Sejak terpilih menjadi Duta Terampil Situbondo dan berbekal sertifikasi pertukangan semakin banyak orang mempercayakan pekerjaan kepada saya, bahkan proyek dari desa dan kecamatan dipercayakan kepada saya” terangnya.</p> <p>Tak tanggung-tanggung nilai proyek yang dikerjakan Haji Anang. Diantaranya ada yang bernilai 800 juta untuk membangun masjid di desanya. Bahkan, pada 2009 ia dipercaya mengelola dana desa sejumlah 1,2 milyar. “Saya diminta menentukan dana tersebut untuk proyek apa, dan saya waktu itu menyarankan untuk proyek perbaikan jalan dan saluran air” jelas Anang. Berbagai kesuksesan itu mengantarkan Anang dan istri untuk menjalankan ibadah haji pada 2012. Sejak itulah ia dipanggil Haji Anang.</p> <p><strong>Kesibukan Bukan Halangan untuk Mengabdi di Mayarakat</strong></p> <p>Setelah pelatihan itu hingga 2012 lalu, Anang selalu aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Semen Gresik. Ia percaya bahwa pelatihan sangat penting untuk menambah ilmu dan menyambung silaturahmi.</p> <p>Meski sibuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan di wilayah Situbondo, Haji Anang tetap meluangkan waktu untuk aktif berkegiatan di masyarakat. Saat ini ia menjadi pengurus dan aktif dalam empat kegiatan pengajian di tingkat kelurahan. Semua dilakukan semata-mata sebagai bentuk rasa syukur dengan cara berperan aktif untuk kepentingan orang lain.</p> <p><strong>(Baca juga: <a href="/artikel/detail/623">Anto, Sukses Berkat Ketekunan</a>)</strong></p> <p>Berkat kemampuannya menjaga hubungan baik dengan banyak pihak, baik pemerintah maupun perorangan, kini Haji Anang tidak lagi kesulitan mendapatkan order pekerjaan. Banyak yang sudah langganan dan merekomendasikan ke orang lain.</p> <p><strong>Ingin Sukses seperti Haji Anang?</strong></p> <p>Haji Anang memiliki cita-cita ingin merangkul para tukang untuk sukses. Kurang lebih ada 450 tukang di Situbondo (baik bersertifikat maupun belum) yang ingin ia bantu untuk terus belajar dan sukses bersama.</p> <p>Karenanya ia berbagi tips untuk menjadi tukang bangunan yang sukses.</p> <p>1. Terus Belajar. Ilmu bangunan tambah lama tambah maju dan tambah beragam sehingga para tukang dan pembantu tukang harus terus belajar.</p> <p>2. Harus pandai membaca situasi. Jangan pasif. Harus aktif "jemput bola". Bawa sertifikasi Tukang yang dimiliki dari Semen Gresik, pasti laku.</p> <p>3. Selalu semangat, jangan mudah mengeluh.</p> <p>4. Satu hal terpenting adalah harus berbuat lurus dan jujur.</p> <p>Kini Haji Anang menjadi koordinator perkumpulan tukang Jawa Bali. Ia selalu mendorong para tukang untuk terus belajar agar tidak ketinggalan ilmu pertukangan terbaru. Para tukang juga selalu melakukan koordinasi dan dengan senang hati Haji Anang berbagi ilmu dan menjawab pertanyaan seputar pertukangan.</p> <p>#SahabatJagoBangunan, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – Bebas Pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel #PakJago berikutnya, ya.</p>