Masuk

Tips

Beranda / Artikel
Search:

Wow! Ternyata Ini yang Terjadi pada Seorang Tukang Bangunan Setelah Istrinya Mimpi Kejatuhan Bulan
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Bagi sebagian masyarakat, mimpi kerap dianggap sebagai firasat atau pertanda akan terjadinya sesuatu. Bahkan banyak tafsir mimpi yang mencoba menguraikan arti dari mimpi yang dianggap umum. Namun, apa jadinya jika istri seorang tukang bangunan bermimpi kejatuhan bulan lalu memasukkannya ke dalam zak semen?</p> <h3>Sejak Lulus SMP Sudah Wara-Wiri “Nguli”</h3> <p>Tukang bangunan itu bernama Edi Suroso (50). Pahit getir dunia kerja sudah Edi jalani sejak lulus SMP, 1987. Ketidaksanggupan orang tua Edi membiayai sekolah ke jenjang yang lebih tinggi memaksa Edi untuk bekerja di usia belia. Berpindah dari satu pabrik ke pabrik lain, sebelum memilih banting setir menjadi kuli bangunan. Meski sempat ditentang orang tua, jiwa muda Edi ingin terus bekerja di bawah terik matahari.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms///articles/EDI/0100B272-0B38-4853-AB52-3157DB882B3A.jpg" alt="" width="756" height="747" /><em>(Sumber: dok. Edi Suroso)</em></p> <p>Kehidupan kuli yang kerap berpindah tempat dan terbilang melelahkan itu berhasil Edi jalani selama enam tahun. Hingga pada 1993, keinginannya menjadi tukang pun meledak. Dengan sedikit paksaan, ia meminta mandor untuk memberikan pekerjaan tukang padanya. Ia bahkan tak masalah jika masih digaji sebagai kuli bangunan, asalkan ia bisa mencecap pekerjaan tukang.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/tak-disangka-ini-yang-didapat-seorang-mantan-kuli-berkat-ketulusannya-mengajari-pemuda-putus-sekolah">Tak Disangka, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Berkat Ketulusannya Mengajari Pemuda Putus Pekolah</a></h3> <p>“Saya meminta kepada mandor agar bisa menjadi tukang, meski bayarannya tetap kuli. Dan <em>alhamdulillah</em> diterima,” kata Edi. Selama 24 tahun ia menjadi tukang, sudah banyak daerah yang ia jelajahi. Sebut saja Semarang, Jakarta, Bogor, hingga Sulawesi pernah menjadi tempatnya menetap beberapa tahun, sebelum kembali ke pelukan keluarganya di Kudus.</p> <h3>Coba-Coba Jadi Mandor Malah Ditipu Pemborong</h3> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms///articles/EDI/2.JPG" alt="" width="761" height="507" /><em>(Sumber: dok. Jago Bangunan)</em></p> <p>Saat menjalani hari sebagai tukang, pernah terbersit dalam hatinya untuk menjadi mandor. Sayangnya, kesempatan yang datang saat itu malah membawa petaka. Dalam percobaan pertamanya menjadi mandor, ia ditipu oleh pemborong yang bekerjasama dengannya. Gaji yang dijanjikan tak kunjung dibayar, bahkan hingga proyek rumah itu rampung dan siap ditempati.</p> <p>Alih-alih untung, pria yang lahir pada 4 April 1967 ini malah harus merogoh tabungan untuk membayar para tukangnya. Apesnya, sampai sekarang jejak pemborong itu tak pernah Edi temukan, pun utangnya tak ada kabar. Sayang, saat ditanya berapa nominal kerugian proyek ini, Edi enggan menjawab. Sejak itulah Edi kapok jadi mandor dan memilih kehidupan sederhana sebagai tukang bangunan saja.</p> <h3><strong>Hanya Ingin Punya Toko Sembako Saja Tak Cukup Modal</strong></h3> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms///articles/EDI/69A6BBAB-CB17-4FAD-B117-76F557D4786E.jpg" alt="" width="756" height="856" /><em>(Sumber: dok. Edi Suroso)</em></p> <p>Seiring usianya yang kian senja, Edi ingin menjalani pekerjaan yang lebih ringan. Karenanya, punya toko sembako pernah menjadi cita-cita Edi. Tapi kebutuhan sekolah kedua anaknya, Viona (16) dan Alif Ainunnisa (12) di bangku SD dan SMK ini tak memberinya kesempatan untuk mengumpulkan modal. Penghasilan sebagai tukang yang berkisar 90 ribu per hari ditambah gaji istrinya, Heni, di sebuah pabrik rokok, hanya cukup untuk membuat dapur terus mengepul.</p> <p>Namun, rejeki kadang memang tak bisa diduga dari mana datangnya. Sekian lama harapan pupus untuk punya toko sembako, pun sudah ikhlas dengan penipuan pemborong proyek, Edi malah mendapat keberuntungan yang tak pernah terduga. Pada 18 Desember 2017 lalu, Edi Suroso dinyatakan sebagai pemenang 1 unit Mobil Honda Mobilio.</p> <h3><strong>Firasat Jadi Pemenang Honda Mobilio, Istri Edi Mimpi Kejatuhan Bulan</strong></h3> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms///articles/EDI/_DSC0442.JPG" alt="" width="760" height="534" /><em>(Sumber: dok. Jago Bangunan)</em></p> <p>Meski Edi sama sekali tak menyangka, namun istri Edi mengaku pernah bermimpi kejatuhan bulan. Ia lalu mengambil bulan tersebut dan memasukkannya ke dalam zak Semen Gresik dan dibawa pulang. Ternyata mimpi ini menjadi pertanda bahwa Edi akan mendapat sebuah mobil dari hasil pengumpulan 200 guntingan zak semen selama 3 bulan dalam program Arisan Jago Bangunan.</p> <p>Selain 1 unit mobil Honda Mobilio, Arisan Jago Bangunan juga memberikan hadiah 10 paket umroh, 50 HP Samsung J5, dan 500 Jaket Eksklusif, yang semua pemenangnya diundi secara digital. Selama 9 bulan program berlangsung, telah berhasil terkumpul sebanyak 632.170 guntingan zak semen dari 4.577 peserta yang semuanya tergabung dalam Komunitas Jago Bangunan.</p> <p>Program ini merupakan wujud apresiasi dan kepedulian PT Semen Gresik pada tukang bangunan, yang merupakan salah satu segmen pelanggan Semen Gresik. Tak hanya itu, PT Semen Gresik juga berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi tukang agar mendapat pekerjaan yang layak dan mampu bersaing dengan tenaga asing dengan memberikan pelatihan dan sertifikasi tukang yang sudah berlangsung sejak 2007.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms///articles/EDI/SAM_2183.jpg" alt="" width="761" height="509" /><em>(Sumber: dok. Jago Bangunan)</em></p> <p>Melalui berbagai program tersebut, Semen Gresik berhasil membangun Komunitas Jago Bangunan yang beranggotakan 18.622 tukang bangunan di seluruh Indonesia. Didukung portal jagobangunan.com, tukang dapat memperkaya pengetahuan secara mandiri melalui berbagai artikel seputar konstruksi. Tukang juga bisa berkonsultasi gratis dengan Pak Jago melalui website, call center, maupun Fanpage Jago Bangunan.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/siapa-sangka-pemilik-4-bidang-usaha-ini-ternyata-mantan-pengaduk-semen">Siapa Sangka, Pemilik 4 Bidang Usaha ini Ternyata Mantan Pengaduk Semen</a></h3> <p>Edi sendiri bergabung dengan komunitas ini saat mengikuti program pelatihan di Kudus 2010 silam. Baginya, program Jago Bangunan tak hanya bermanfaat untuk meningkatkan ketrampilan tukang, tapi juga menambah teman dan jaringan pekerjaan. Terlebih 200 peserta di Kudus itu membentuk komunitas kecil untuk mempererat silaturahmi yang bernama Patung Seger (Paguyuban Tukang Semen Gresik).</p> <p>Pada 27 Desember kemarin, tim Semen Gresik berkunjung ke kediaman Edi untuk menyerahkan hadiah 1 unit mobil Honda Mobilio. Sujud syukur berkali-kali dilakukan istri Edi, bahkan tangis haru pun tak terbendung di wajah kedua anak Edi. Ketika ditanya hadiah mobilnya akan digunakan untuk apa, Edi menjawab, “Akan dinikmati, karena itu merupakan hadiah yang disangka-sangka untuk menyenangkan keluarga.”.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Tak Disangka, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Berkat Ketulusannya Mengajari Pemuda Putus Pekolah
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Kondisi pemuda desa yang mayoritas putus sekolah, menggerakkan hati Sakurun untuk berbagi ketrampilan pertukangan agar mereka bisa bekerja tanpa perlu bersekolah tinggi. Tak memungut biaya sepeser pun, ia membimbing para pemuda itu selama 10 tahun.</p> <h3><strong>Minder Hanya Lulus SD, Sakurun Nekad Jadi Kuli Bangunan</strong></h3> <p style="text-align: center;"><em><img src="/images/cms//articles/SAKURUN/5.jpg" alt="" width="767" height="469" /></em><em>(Sumber: dok. Sakurun)</em></p> <p>Berasal dari keluarga kurang mampu, terlebih hanya dibesarkan oleh ibu, membuat Sakurun tak mampu meneruskan pendidikan ke SMP. Ia sadar tak banyak yang bisa ia lakukan hanya dengan izasah SD, hingga ia putuskan untuk menjadi kuli bangunan pada 1982.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/nur-azis-kurnianto-founder-berbagisemangat-com-beromzet-40-juta-per-bulan-ini-ternyata-mantan-kuli-bangunan">Nur Azis Kurnianto, Founder Berbagisemangat.com Beromzet 40 Juta per Bulan Ini Ternyata Mantan Kuli Bangunan</a></h3> <p>Pekerjaan pertama membawa Sakurun ke Semarang, meninggalkan desa Mranggen, Kabupaten Demak, kampung halamannya. Di usia yang masih belia kala itu, ia tinggal dengan tukang lain di bedeng selama 1,5 tahun. Setelah proyek rampung, bapak satu anak ini  mengikuti teman seperjuangannya untuk jadi kuli bangunan di Jakarta.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/SAKURUN/3.jpg" alt="" width="759" height="501" /><em>(Sumber: dok. Sakurun)</em></p> <p>Kehidupan sebagai kuli dijalani pria yang lahir di Demak, 18 September 1967 ini selama 3 tahun sebelum diangkat menjadi tukang. Sikapnya yang rajin ketika bekerja membuat kepala tukang menyukainya. Bahkan beberapa kali ia diajari untuk membuat desain bangunan.</p> <p>Empat belas tahun berselang, Sakurun mulai dipercaya menjadi kepala tukang. Sejak itu ketertarikannya pada dunia desain semakin menggebu. Tak hanya berbagai proyek pembangunan dan renovasi yang ia garap, Sakurun juga pernah membangun rumah yang ia desain sendiri.</p> <h3><strong>Prihatin pada Pemuda Desa yang Putus Sekolah, Sakurun Berbagi Ketrampilan Pertukangan</strong></h3> <p style="text-align: center;"><strong><img src="/images/cms//articles/SAKURUN/4.jpg" alt="" width="754" height="566" /></strong><em>(Sumber: dok. Sakurun)</em></p> <p>Kesuksesan Sakurun di bidang pertukangan tak membuatnya lupa pada sekitar. Suami dari Sumarni ini justru sangat khawatir dengan nasib para pemuda desanya yang putus sekolah, seperti melihat dirinya di masa lalu. Sakurun lantas memutuskan untuk membagikan ilmu dan ketrampilan pertukangan yang ia punya untuk mereka. Sebanyak 5-10 pemuda silih berganti datang ke rumahnya untuk belajar pertukangan. Hingga 10 tahun berselang, beberapa pemuda hasil didikannya kini sudah jadi mandor.</p> <p>Sakurun bercerita, keinginannya untuk mengentaskan para pemuda desa itu diilhami dari acara pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan (Edutrain) yang diadakan oleh PT Semen Gresik, 2005 silam. Berkat program ini pula, Sakurun semakin dipercaya orang lain. Jika biasanya hanya proyek perumahan yang dikerjakan, sejak 3 tahun terakhir Sakurun diamanati membangun insfrastruktur desa.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/SAKURUN/DSC_3803.JPG" alt="" width="760" height="506" /><em>(Sumber: dok. Jago Bangunan)</em></p> <p>Program Edutrain ini merupakan wujud apresiasi sekaligus kepedulian PT Semen Gresik pada tukang bangunan, yang merupakan salah satu segmen pelanggan Semen Gresik. Tentu pelatihan dan sertifikasi sangat penting guna meningkatkan kompetensi tukang agar mendapat pekerjaan yang layak dan mampu bersaing dengan tenaga asing.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/didi-sunardi-menyulap-nasib-kuli-bangunan-jadi-komika-bertarif-jutaan">Didi Sunardi, Menyulap Nasib Kuli Bangunan Jadi Komika Bertarif Jutaan</a></h3> <p>Selain itu, Semen Gresik juga membuat program berkelanjutan bernama Komunitas Jago Bangunan. Didukung portal jagobangunan.com, tukang dapat memperkaya pengetahuan secara mandiri melalui berbagai artikel seputar konstruksi. Tukang juga bisa berkonsultasi gratis dengan Pak Jago melalui website, call center, maupun Fanpage Jago Bangunan.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/SAKURUN/40.jpg" alt="" width="759" height="735" /><em>(Sumber: dok. Jago Bangunan)</em></p> <p>Sebagai bentuk penghargaan pada anggota komunitas, Semen Gresik bahkan membuat Arisan Jago Bangunan yang memberikan hadiah fantastis, berupa 1 Honda Mobilio, 10 paket umroh, 50 HP Samsung J5, dan 500 Jaket Eksklusif. Program yang berlangsung selama 9 bulan ini diikuti oleh 4.577 peserta, dan nama Sakurun keluar sebagai salah satu pemenang hadiah paket umroh dalam pengundian yang dilaksanakan pada 18 Desember 2017 lalu. Kemenangan ini seakan menjadi balasan Tuhan untuk kebaikan dan ketulusan Sakurun selama 10 tahun.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Nasib Memang Tak Bisa Ditebak, Kuli Bangunan yang Hanya Lulus SMP Ini Berhasil Jadi PNS
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Pepatah bilang, “Kitalah yang menciptakan setiap kesempatan dalam hidup dan bukan orang lain.”, tampaknya berlaku dalam kehidupan Kusno. Langkahnya bermula dari pekerja serabutan, penjaga toko, kuli bangunan, hingga kini 7 tahun sudah Kusno menjadi PNS. Bagaimana kisahnya?</p> <h3><strong>Menikah Dulu, Jadi Kuli Kemudian</strong></h3> <p>Setelah lulus SMP, Kusno terpaksa berhenti sekolah karena tak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Kusno kesulitan mencari pekerjaan karena ia hanya memiliki ijazah SMP. Ini membuat Kusno bekerja serabutan selama 3 tahun. Pekerjaan serabutan itu mengantarkan Kusno pada dunia pertukangan.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/Kusno/E8E49B23-A263-4827-B07E-285E9C03F804.jpg" alt="" width="758" height="986" /><em>(Sumber: dok. Kusno)</em></p> <p>Beruntung, Kusno mendapatkan kesempatan bekerja di toko sepatu pada 1987. Bahkan Kusno diminta untuk mengelola cabang toko sepatu di beberapa kota, seperti Cilacap, Tegal dan Purwokerto. Inilah yang membuat Kusno hidup berpindah sesuai dengan perintah bosnya. Lima tahun berselang, Kusno menikah dengan Kusmayanti dan dikarunia seorang putri setahun kemudian.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/rasidi-mantan-kuli-yang-sukses-jadi-wakil-kepala-sekolah-dan-pengusaha-mangga-dengan-omzet-ratusan-juta">Rasidi, Mantan Kuli yang Sukses Jadi Wakil Kepala Sekolah dan Pengusaha Mangga dengan Omzet Ratusan Juta</a></h3> <p>Sayangnya di tahun keenam, toko sepatu di Purwokerto yang saat itu sedang Kusno kelola tidak dapat berjalan dengan baik dan membuat toko ditutup. Kondisi tersebut memaksa pria kelahiran 18 Desember 1967 ini, memutuskan untuk keluar karena tidak ingin dipindahtugaskan ke gudang dengan gaji rendah. Sejak itulah karir Kusno sebagai kuli bangunan dimulai.</p> <p><strong>Pagi Nukang, Malam Jaga</strong></p> <p style="text-align: center;"><strong><img src="/images/cms//articles/Kusno/410F8C74-B815-4022-910D-A9A1D20D2E18.jpg" alt="" width="758" height="771" /></strong><em>(Sumber: dok. Kusno)</em></p> <p>Kehidupan kuli, Kusno jalani selama dua tahun. Bapak dua anak ini akhirnya berhasil menjadi tukang pada 1995 dan pertama mengerjakan proyek di kantor Inspektorat. Bersama dengan itu, Kusno mulai mencari tambahan karena gaji tukang yang saat itu masih 5000 rupiah perhari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.</p> <p>Beruntung ada tawaran untuk menjadi petugas jaga malam di tempat ia bekerja sebagai tukang. Tak  mau menyiakan kesempatan, tawaran itu Kusno terima. Pekerjaan ganda ia jalani selama 5 tahun.</p> <p>Pada 2000 silam, Kusno berpindah tugas malam ke kantor dinas. Di tahun yang sama, pria kelahiran Purwokerto ini juga mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan yang diselenggarakan oleh Semen Gresik.</p> <p><strong>Nasib Baik Terus Berpihak</strong></p> <p style="text-align: center;"><strong><img src="/images/cms//articles/Kusno/93AB54BF-BD70-4769-A3E5-1C7C33F621F6.jpg" alt="" width="760" height="1148" /></strong><em>(Sumber: dok. Kusno)</em></p> <p>Setelah pelatihan, tawaran pun mengalir deras. Sayangnya, pekerjaan di kantor dinas menuntut Kusno untuk berjaga siang dan malam. Hal ini yang membuat pekerjaannya sebagai tukang hanya bisa ia lakukan pada Sabtu dan Minggu saja.</p> <p>Hingga pada 2006, Kusno mendapat kesempatan kali kedua (setelah sebelumnya ditolak karena kala itu usianya mencapai batas), untuk mengajukan diri menjadi PNS berdasar surat Kementrian Dalam Negeri. Namun kali ini nasib berpihak pada Kusno, ia berhasil masuk dan mulai mengikuti pelatihan CPNS pada tahun 2008.</p> <p>Kini Kusno berkantor di DPPKBP3A Kabupaten Banyumas, Jl. Dr. Soeparno No. 24. Uniknya, tahun ini ia baru saja merampungkan pendidikan setara SMA, jadi saat itu ia nekat hanya bermodal ijazah SMP.</p> <h3><strong>Liku Perjuangan Kusno Selama Menjadi Tukang</strong></h3> <p style="text-align: center;"><strong><img src="/images/cms//articles/Kusno/5D72C1B9-A4DB-4843-9F07-3B8DD4DC28DB.jpg" alt="" width="760" height="504" /></strong><em>(Sumber: dok. Kusno)</em></p> <p>Pria yang kini menetap di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, bersama keluarganya ini mengaku mendapat banyak pengalaman yang tidak mampu ia lupakan kala menjadi tukang. Beberapa kali ia terjatuh dari ketinggian yang membuat urat kakinya membengkak dan mengakibatkan Kusno tidak dapat berjaalan selama sebulan. Tidak hanya itu, kaki Kusno juga pernah bengkak karena tertimbun semen saat melakukan pengecoran sedari siang hingga malam hari.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/disiplin-dan-jujur-kunci-sukses-tukang-batu-yang-kini-jadi-pemborong-beromzet-20-juta">Disiplin dan Jujur, Kunci Sukses Tukang Batu yang Kini Jadi Pemborong Beromzet 20 Juta</a></h3> <p>Meski sosok ayah bagi Evi dan Anggi yang berusia 50 tahun ini sudah tak lagi menjadi tukang sejak tahun 2008, Kusno menganggap pekerjaan Kusno dulu yang ikut mengantarkannya hingga saat ini. Ia belajar artinya bekerja dengan baik, maksimal dan dari hati. Ditambah dengan kejujuran, Kusno, mampu membuat pelanggan puas, bahkan direkomendasikan kepada orang lain.</p> <p>“Konstruksi sekarang lebih maju, pemborong (harus) lebih bertanggung jawab. Jika tidak begitu, tukang yang menjadi korban.” kata Kusno menyuarakan harapannya. Ia juga berpesan untuk rekan sesama tukang agar selalu jujur dalam bekerja, tidak asal garap, dikerjakan sebaik-baiknya, dan dilakukan  dari hati. Semata agar hasil bangunan sesuai keinginan pelanggan dan tidak mengecewakan.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani </em></p> <p> </p>
Rasidi, Mantan Kuli yang Sukses Jadi Wakil Kepala Sekolah dan Pengusaha Mangga dengan Omzet Ratusan Juta
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Sukses hanya memilih orang yang berani mencoba. Agaknya kalimat ini tepat menggambarkan kesuksesan Rasidi. Keberanian mencoba jadi kuli bangunan tanpa pengalaman, kini mengantarkannya menjadi pemborong, wakil kepala sekolah, hingga pengusaha mangga dengan omzet 150 juta sekali panen.</p> <h3><strong>Dari Kuli Jadi Pemborong</strong></h3> <p>Rasidi memulai karirnya di dunia konstruksi sebagai kuli pada 1994. Tepat setelah lulus SMA, ia memilih untuk menjadi kuli karena ia sadar tak memiliki skill atau kemampuan apa pun. Namun nihil pengalaman bekerja di proyek bangunan tak membuat Rasidi menyerah.</p> <p>Pria yang lahir di Sumenep, Madura ini mempelajari ilmu pertukangan dari nol. Mendapatkan lebih banyak pelajaran dibanding gajinya yang kala itu masih Rp. 7500 per hari. Kehidupan sebagai kuli, Rasidi jalani selama lima tahun sebelum akhirnya menjadi tukang bangunan.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/RASIDI/FA8823E7-9B32-46C8-8276-21540FE4542C.jpg" alt="" width="766" height="494" /><em>(Sumber: dok. Rasidi)</em></p> <p>Sejak itu kemampuan dan kehidupan Rasidi terus berkemban. Ia bahkan mulai mencoba jadi pemborong. Di sela padatnya pekerjaan, Rasidi tak ingin berhenti belajar. Ia memanfaatkan waktu luang untuk mengambil kuliah di Universitas Terbuka, jenjang D2 dan lulus pada 2008.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/siapa-sangka-pemilik-4-bidang-usaha-ini-ternyata-mantan-pengaduk-semen">Siapa Sangka, Pemilik 4 Bidang Usaha ini Ternyata Mantan Pengaduk Semen</a></h3> <p>Perjalanannya bergelut di bidang konstruksi mengantarkan Rasidi untuk mewakili desanya guna mengikuti pelatihan tukang Semen Gresik di Situbondo 2010 silam. Tak hanya itu, Rasidi juga diberi kesempatan untuk mengajarkan pengalamannya sebagai tukang di PNPM. Tidak tanggung-tanggung, Rasidi berhasil menjadi ketua PNPM dan menempati posisi tersebut selama lima tahun.</p> <h3><strong>Mengejar Mimpi Jadi Guru dan Pengusaha</strong></h3> <p>Mengadu peruntungan tak hanya Rasidi lakukan saat mencoba menjadi kuli atau pun pemborong, tapi juga lika-liku perjuangan menjadi seorang guru. Kala itu, Rasidi ditawari temannya yang sudah terlebih dulu mengajar di Pondok Sumber Bunga. Meski tanpa bekal mengajar, lulusan S1 di STKIP Situbondo ini nekat mencoba memulai karirnya sebagai guru. Ia pun mengajar di MTs Baitul Arifin Pondok Sumber Bunga sebagai pengampu mata pelajaran ekonomi.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/RASIDI/B21AB569-AD2D-4A43-BE7A-C520821DA4C2.jpg" alt="" width="763" height="788" /><em>(Sumber: dok. Rasidi)</em></p> <p>Menjadi guru, tidak menghalangi Rasidi untuk tetap bekerja sebagai mandor atau pun pemborong. Bahkan, beberapa kali Rasidi menjadi mandor untuk pembangunan pondok maupun sekolah tempat ia mengajar. Lima tahun setelah Rasidi mulai mengajar, bapak 2 anak ini diangkat menjadi wakil kepala sekaligus ketua sarana dan prasarana sekolah.</p> <p>Kini, selain mengajar dan menjadi mandor untuk proyek sekolah, Rasidi juga sibuk mengelola perkebunan mangga miliknya. Luas kebun mangga pria yang tinggal di Jalan Setonggak L, Slentingan, Situbondo ini sekitar dua hektar. Ditambah lahan sewaan yang mencapai  5 hektar, Rasidi mampu mendapatkan keuntungan hingga ratusan juta setiap kali panen.</p> <p>“Lahan milik saya sendiri luasnya 2 hektar, ditambah saya menyewa lahan 5 hektar. Saya bisa mendapatkan keuntungan antara Rp. 100-150 juta setiap kali panen mangga,” kata Rasidi.</p> <h3><strong>Resep Sukses Ala Rasidi</strong></h3> <p style="text-align: center;"><strong><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/RASIDI/14AA2C4A-8C69-4090-B6AB-C1D881E824CB.jpg" alt="" width="761" height="413" /></strong><em>(Sumber: dok. Rasidi)</em></p> <p>Bagi Rasidi, pengalamannya mencoba hal baru adalah pengalaman yang paling tidak bisa ia lupakan. Termasuk pengalamannya ketika mencoba menjadi kuli dan pemborong. Memulai semuanya dari nol hingga bisa berada di posisinya sekarang, berhasil memperbaiki kehidupannya.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/rampung-kuliah-berkat-upah-kuli-bangunan-komari-kini-jadi-perangkat-desa-dan-bisa-naik-haji">Rampung Kuliah Berkat Upah Kuli Bangunan, Komari Kini Jadi Perangkat Desa dan Bisa Naik Haji</a></h3> <p>Beberapa kali mengajarkan pengalamannya di PNPM, mulai dari memasang bata, keramik, dan lainnya, Rasidi selalu berpesan pada para tukang lain agar senantiasa mengikuti aturan yang ada. Tidak menambahkan ataupun mengurangi patokan yang sudah ditentukan. Rasidi juga menyarankan untuk selalu meminta masukan dari pemilik bangunan.</p> <p>“Dalam membangun itu harus ikut aturan, jangan seenaknya sendiri. Harus sesuai dengan permintaan pemilik, karena yang akan menempati adalah pemilik rumah,” pungkas Rasidi mengakhiri cerita.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Rampung Kuliah Berkat Upah Kuli Bangunan, Komari Kini Jadi Perangkat Desa dan Bisa Naik Haji
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Lahir di lingkungan keluarga yang mayoritas menjadi tukang, dari bapak hingga kedua kakak laki-lakinya, Komari kecil sudah tidak asing dengan semen, batu, kayu, pasir, atau peralatan dan material pertukangan lainnya. Tak jarang Komari ikut bapaknya bekerja, memperhatikan bagaimana bapaknya membangun sebuah rumah bersama tukang bangunan lain.</p> <p><strong>Sudah <em>Nguli </em>Sejak SD Hingga Lulus Kuliah</strong></p> <p>Hingga pada suatu saat, pria asal Nganjuk ini tertarik untuk mencoba. Ia membantu pekerjaan bapaknya dan sebagai upahnya ia diberi sarapan. Bagi Komari yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar, meski hanya diberi sebungkus nasi, mendapatkan hasil dari pekerjaan yang dilakukannya sangatlah menyenangkan. Bahkan selama SMP Komari memanfaatkan waktu libur untuk menjadi kuli.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/komari/2.jpg" alt="" width="764" height="506" /><em>(Sumber ilustrasi: <a href="https://www.thelocal.at/20170221/austrian-government-agrees-on-plan-to-boost-jobs">disini</a>)</em></p> <p>Selepas SMA, Komari melanjutkan pendidikannya di IAIN Surabaya dengan mengambil jurusan Syariah. Komari menumpang di rumah saudara, tepatnya di Desa Tambak Sawah, Waru, Sidoarjo, dan mulai mencoba pekerjaan kuli bangunan yang melayani jasa konstruksi di sekitar rumah saudaranya.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/kuli-aduk-modal-dengkul-ini-sukses-berbisnis-dengan-omzet-ratusan-juta">Kuli Aduk Modal “Dengkul” Ini Sukses Berbisnis dengan Omzet Ratusan Juta</a></h3> <p>Sebagian besar biaya kuliah, Komari dapatkan dari pekerjaan kuli bangunan. Hal ini pula yang membuat Komari memutuskan untuk menjalani profesi sebagai tukang selepas ia kuliah tahun 1987.</p> <p><strong>Pagi <em>Ngantor</em>, Sore <em>Nukang</em></strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/komari/1.jpg" alt="" width="761" height="664" /><em>(Komari saat masih menjadi tukang. Sumber: dok. Komari)</em></p> <p>Selama menjadi tukang, Komari sangat gemar menabung. Kala itu, gajinya masih Rp. 1.500 per hari. Sedikit demi sedikit ia sisihkan sebagian penghasilannya. Hingga tahun 1991 Komari berhasil membuat rumah dengan uang yang ia kumpulkan dari pekerjaannya sebagai tukang.</p> <p>Pada 2000 silam, pria yang kini berusia 55 tahun ini ingin mencoba peruntungan lain dengan mendaftar sebagai perangkat desa. Namun kecintaannya pada dunia pertukangan tak lantas ia tinggalkan. Waktu kerja yang hanya setengah hari di kantor desa memberi kesempatan pada bapak tiga anak ini untuk nyambi kerja bangunan.</p> <p><strong>Berhasil Naik Haji dan Dua Anaknya Jadi Sarjana</strong> </p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/komari/A741C9D2-8D6F-4930-B4E5-48F6324C83B0.jpg" alt="" width="756" height="1007" /><em>(Kedua anak Komari menjadi Sarjana. Sumber: dok. Komari)</em></p> <p>Berkat kerja kerasnya ini, Komari berhasil naik haji pada tahun 2008 lalu. Tak hanya itu, Komari pun bisa menyekolahkan kedua putranya hingga mendapat gelar sarjana.</p> <p>“Waktu itu saya menjadi tukang di sore hari selepas pekerjaan saya di kantor desa. Penghasilannya saya kumpulkan, ditambah dengan penghasilan dari usaha toko kecil di depan rumah. <em>Alhamdulillah</em>, saya sudah berangkat haji.” ujar Komari.</p> <p><strong>Meski Sudah Jadi Pemborong, Komari Memilih Perangkat Desa Saja</strong></p> <p>Di tengah kesibukannya sebagai perangkat desa, beberapa kali Komari juga menjadi pemborong. Ia membawa teman dan sanak saudaranya di kampung untuk membantu pekerjaannya. Bahkan tidak sekali dua kali Komari harus mengerjakan dua bangunan di tempat yang berbeda karena banyaknya permintaan pelanggan.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/komari/68DB080B-0704-44E0-8723-A4B530F1C61A.jpg" alt="" width="767" height="407" /><em>(Komari saat bertugas sebagai Perangkat Desa. Sumber: dok. Komari)</em></p> <p>Namun, mulusnya karir di bidang konstruksi ini harus berakhir karena kesibukannya menjadi perangkat desa sejak 2015. Jam kerjanya yang semakin padat tidak memungkinkannya bekerja lagi sebagai tukang maupun pemborong.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/ini-tips-sukses-ala-pakjago-agar-tukang-bangunan-bisa-naik-pangkat-">Ini Tips Sukses Ala #PakJago Agar Tukang Bangunan Bisa Naik "Pangkat"</a></h3> <p><strong>Pesan Komari untuk Rekan Tukang Bangunan</strong></p> <p>Meski begitu, Komari mengaku banyak pengalaman yang telah ia dapatkan selama menjadi tukang. Ia belajar untuk lebih percaya diri dan mau belajar dari kesalahan. “Seorang tukang harus bekerja dengan giat dan mau terus belajar.” kata Komari.</p> <p>Ia juga menyarankan pada rekan sesame tukang untuk selalu percaya dengan kemampuan diri sendiri, agar hasil maksimal bisa dicapai dan tidak mengecewakan pelanggan. Terlebih, ia mengingatkan untuk selalu jujur. “Jangan lupa bahwa kita selalu diawasi oleh Allah, bukan hanya juragan saja,” pesan Komari menutup perbincangan.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Siapa Sangka, Pemilik 4 Bidang Usaha ini Ternyata Mantan Pengaduk Semen
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Memang garis hidup manusia memang tidak dapat ditebak. Siapa sangka Agi Sugiyanto berhasil membeli salah satu tempat di Plaza Atrium, proyek yang sempat ia kerjakan ketika menjadi <em>laden</em> di usia 12 tahun?</p> <p><strong>Menjadi Laden Sejak Kecil</strong></p> <p>Masa kecil Agi serba kekurangan. Kedua orangtuanya meninggal sebelum Agi genap berusia 8 tahun. Sejak saat itu, ia hidup bersama neneknya dan membantu menggembala kerbau ke hutan dekat tempat tinggalnya, sebuah desa terpencil di Boyolali.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/AGI/1.jpg" alt="" width="756" height="426" /><em>(Sumber ilustrasi: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=4ySPFOzb8cw">disini</a>) </em></p> <p>Setelah lulus SD, Agi berpisah dengan kakak dan adiknya untuk ikut para tetangganya yang menjadi pekerja migran karena tidak mimiliki biaya untuk melanjutkan sekolah.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/didi-sunardi-menyulap-nasib-kuli-bangunan-jadi-komika-bertarif-jutaan">Didi Sunardi, Menyulap Nasib Kuli Bangunan Jadi Komika Bertarif Jutaan</a></h3> <p>Dengan tubuh kecilnya, Agi bekerja mengaduk semen, mengangkat batu, bata dan melakukan pekerjaan <em>laden </em>(kuli bangunan) lainnya. Kala itu, pria yang lahir pada 7 Juli 1965 ini tinggal di <em>bedeng</em> yang dibuat di samping lahan proyek bersama sesame pekerja bangunan.</p> <p>Beragam proyek ia ikuti, berganti dari pemborong satu ke pemborong lain. Mulai proyek Kelapa Gading, Cileduk, Plaza Atrium, hingga pekerjaan terakhirnya sebagai laden di rumah salah satu pejabat.</p> <p><strong>Rezeki Tak Melulu Soal Uang, Tapi Juga Pendidikan</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/AGI/2.jpg" alt="" width="760" height="491" /><em>(Sumber ilustrasi: <a href="http://amazingnara.com/menarik-apabila-seorang-pekebun-sangat-kreatif-mengambil-gambar-gambar/">disini</a>)</em></p> <p>Kehidupan <em>laden </em>ia jalani selama dua tahun sebelum akhirnya kerja keras itu berbuah manis. Bapak 5 anak itu mendapatkan kesempatan untuk kembali bersekolah. Seseorang menawari Agi untuk bekerja di rumahnya sebagai tukang kebun sekaligus menyekolahkannya.</p> <p>Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Agi bekerja membersihkan kebun. Kemudian sepulang sekolah ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjadi tukang kebun Agi jalani hingga lulus SMA di tahun 1987.</p> <p>Bersama dengan lulusnya Agi dari bangku SMA, pekerjaan Agi sebagai tukang kebun pun selesai. Agi kembali berkelana mencari pekerjaan. Beruntunglah Agi memiliki kemampuan menulis sehingga ia bisa mendapatkan penghasilan dengan menjadi penulis lepas. Pekerjaan lain pun Agi lakukan untuk menyambung hidup. Mulai dari menjadi sales, hingga ikut orang berjualan.</p> <p>Selama dua tahun Agi tidak memliki pekerjaan tetap. Namun berbekal pengalaman menulisnya, Agi melamar menjadi wartawan di Kompas Gramedia. Meski pada awalnya Agi diragukan karena tidak memiliki gelar sarjana, pria dengan nama lengkap Agi Sugiyanto ini berhasil membuktikan dedikasi dan kemampuannya.</p> <p><strong>Keluar dari Zona Nyaman</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/AGI/9D3D83F4-92FD-4C77-A654-75F9861218B7.jpg" alt="" width="765" height="335" /><em>(Sumber: dok. Agi)</em></p> <p>Selama lebih dari 10 tahun, Agi bergelut di bidang jurnalistik, Agi merasa terpanggil untuk membantu keluarga dan saudaranya yang masih hidup dalam keadaan kurang layak. Pada akhir tahun 90-an, Agi mencoba mencari pekerjaan sampingan. Mulai Event Organizer sub produksi talent atau pengisi acara untuk acara televisi, kegiatan khusus di Taman Mini dan Ancol, hingga membuka klinik bekam.</p> <p>Berkat kerja kerasnya, kini anak ketiga dari lima bersaudara ini telah memiliki perusahaan rekaman music digital dan manajemen artis (PT. Media Musik Proaktif), juga klinik pengobatan tradisonal atau pengobatan herbal yang bernaung dalam PT. Tradisi Untuk Semesta (Trust Indonesia).</p> <p>Meski pekerjaan sebagai wartawan telah Agi lepaskan sejak tahun 2000, pengalamannya bekerja dan membangun relasi dengan berbagai media membuat Agi berhasil mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang <em>advertising</em>. Berkat kerja kerasnya, kini usaha Agi mulai merambah ke dunia kuliner dan <em>coffee shop</em>.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/AGI/E8A2B655-8939-4599-8E57-39662473F3B3.jpg" alt="" width="762" height="562" /><em>(Agi di coffe shop miliknya. Sumber: dok. Agi)</em></p> <p> “Saya membangun usaha ini dari nol, lepas dari zona nyaman saya sebagai pekerja kantoran. Dari pekerjaan kecil-kecilan menjadi EO di sela-sela pekerjaan saya sebagai wartawan. Hal ini karena saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain.</p> <p>Pencapaian terbesar saya adalah ketika saya bisa mengumpulkan kembali dan membantu keluarga saya untuk hidup lebih baik,” ujar Agi ketika ditanya mengenai pencapaian terbesar dalam hidupnya.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/nur-azis-kurnianto-founder-berbagisemangat-com-beromzet-40-juta-per-bulan-ini-ternyata-mantan-kuli-bangunan">Nur Azis Kurnianto, Founder Berbagisemangat.com Beromzet 40 Juta per Bulan Ini Ternyata Mantan Kuli Bangunan</a></h3> <p><strong>Kehidupan Tukang Bangunan Bagi Agi</strong></p> <p>Bagi Agi, masa kecilnya sebagai asisten tukang mampu membuatnya berada hingga diposisinya sekarang ini. Dari pekerjaan sebagai <em>laden</em> ia belajar artinya kerja keras, kesabaran, keikhlasan, hingga hidup dalam komunitas. Hidup sebagai <em>laden</em> juga melatih Agi agar melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati dan tidak mudah mengeluh.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/AGI/962C7D7F-540E-439D-8DDC-6A4436D32F4B.jpg" alt="" width="761" height="815" /><em>(Buku Biografi Agi Sugiyanto. Sumber: dok. Agi)</em></p> <p>“Saya belajar kehidupan dari dunia pertukangan. Dari sana saya belajar bersabar, ikhlas dan sepenuh hati. Saya juga belajar bagiamana hidup, berinteraksi dan beradaptasi dengan komunitas. Pengalaman ini yang membuat saya terus bekerja keras hingga sekarang,” katanya.</p> <p>Agi juga berpesan pada tukang masa kini untuk lebih meningkatkan kemampuannya. Baik dalam menganalisis desain bangunan maupun menggunakan dan mengontrol teknologi yang kini banyak digunakan dalam dunia konstruksi.</p> <p>“Zaman sekarang teknologi sudah banyak dipergunakan termasuk dalam dunia konstruksi. Para tukang harus mulai mengasah kemampuannya secara analitis maupun memahami penggunaan teknologi tersebut,” kata Agi menutup kisahnya.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani </em></p>
Coba-coba Nukang, Guru SMA Ini Malah Sukses Jadi Mandor
<p><em>Oleh: Hildatun Najah</em></p> <p>Tampaknya istilah “coba-coba berhadiah” berlaku untuk menggambarkan keberhasilan kehidupan Nurul. Keinginannya untuk terus mencoba, berkembang, dan belajar membawa Nurul yang awalnya hanya guru olahraga biasa menjadi seorang tukang bangunan, bahkan mencicipi rasanya jadi mandor.</p> <p><strong>Ikut Edutrain Semen Gresik Berkat PNPM</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/NURUL/IMG_9154.jpg" alt="" width="762" height="507" /><em>(Sumber: dok. Edutrain Blora 2013)</em></p> <p>Kisahnya menjadi seorang tukang berawal dari keikutsertaannya dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM yang diselenggarakan pemerintah di desanya. Awalnya ia hanya ingin coba-coba, mengikuti arus yang mengalir. Namun tanpa terasa, melewati tahun kelima ia mengikuti PNPM, bapak 4 anak ini mendapatkan kesempatan untuk menjadi perwakilan desanya dalam pelatihan tukang bangunan yang diadakan oleh Semen Indonesia.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/tak-lulus-sd-bukan-hambatan-mantan-kuli-bangunan-ini-sukses-jadi-duta-tukang-dan-pemborong-di-bangkalan">Tak Lulus SD Bukan Hambatan, Mantan Kuli Bangunan Ini Sukses Jadi Duta Tukang dan Pemborong di Bangkalan</a></h3> <p>Pelatihan Edutrain yang diadakan selama 3 hari di Kabupaten Blora pada 2013 silam, membuat pria yang tinggal di desa Wado, Blora, ini tergerak untuk mempraktikkan apa yang telah ia pelajari. Kesempatan itu pun datang pada Nurul. Temannya yang merupakan pemilik toko bangunan memberinya tantangan untuk menyelesaikan pembuatan dinding rumah dalam waktu sehari. Jika ia Nurul berhasil, maka tidak hanya akan mendapatkan bayaran Rp. 65.000 ia juga akan mendapatkan bonus.</p> <p>Nurul pun tidak menyianyiakan kesempatan tersebut. Berbekal ilmu yang telah ia dapatkan dalam pelatihan, Nurul mulai melakukan pekerjaannya dengan hati-hati. Bermodalkan benang dan cetok, alat untuk mengambil adukan, dinding setinggi 1 meter dengan panjang 5 meter berhasil berdiri dalam waktu sehari.</p> <p><strong>Tawaran Pekerjaan Bangunan Terus Mengalir</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/NURUL/DBF7D087-F93C-49FC-B830-A0CB10AC4F31.jpg" alt="" width="761" height="473" /><em>(Sumber: dok. Nurul)</em></p> <p>Sebenarnya, tukang bukanlah profesi utama Nurul. Sebelum menjadi tukang, pria kelahiran 3 April 1979 ini seorang guru olahraga. Seusai SMA, yayasan tempat ia bernaung membutuhkan tenaga guru olahraga baru. Bagai “pucuk dicinta ulam pun tiba”, Nurul yang memang menyukai olahraga sedari dulu, ditawari mengajar. Sejak tahun 2003 itulah, karir Nurul sebagai guru olah raga dimulai.</p> <p>Baru pada sekitar tahun 2012 Nurul mencoba menerima garapan berbagai bangunan. Bahkan, Nurul pernah menjadi tukang di Madrasah Aliyah Kartayuda, tempat ia mengajar. Hal ini dilakukan Nurul agar asap dapur rumahnya tetap mengepul.</p> <p>“Mulanya saya mengajar seminggu full, tapi karena pekerjaan tukang yang datang terus menerus, saya hanya mengajar sehari saja.”, kisahnya.</p> <p><strong>Berkesempatan Jadi Mandor dalam Proyek Perumahan</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/NURUL/1.jpg" alt="" width="757" height="544" /><em>(Sumber: dok. Nurul)</em></p> <p>Rasa ingin tahu dan semangat untuk terus belajarlah yang menuntun Nurul untuk terus berkembang. Berbekal sebuah desain bangunan, Nurul mulai menganalisa struktur, angka, maupun skala.</p> <p>Setelah 2 bulan mempelajari desain sendiri, ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada seorang pemborong yang ia kenal. Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari cara mengatur tukang, hingga bagian mana dulu yang harus dikerjakan agar bisa lebih efektif.</p> <p>Peluang untuk menerapkan ilmu kembali datang setelah Nurul dipercaya menjadi mandor untuk proyek rumah Depo 32 pada awal tahun 2017 lalu. Bersama 2 tukang dan 5 kuli yang merupakan teman-teman sendiri, ia mulai menggarap proyek rumah dari awal.</p> <p>Berkat perhitungan yang cermat dan gotong royong, Nurul bisa menghemat 4 hari kerja. Timnya berhasil mengerjakan proyek yang seharusnya selesai dalam sebulan hanya dalam waktu 26 hari.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/NURUL/48D3DA6C-2C91-42BA-B5A5-6CB66D140F59.jpg" alt="" width="784" height="391" /><em>(Sumber: dok. Nurul)</em></p> <p>Sayangnya, meski masa depan pekerjaan di bidang konstruksi ini tampak cerah, pria bernama lengkap Muhammad Nurul Hilal ini menganggap ini hanya kerja sampingan saja. Hal ini pula yang membuat Nurul kini tak lagi menerima tawaran sebagai mandor.</p> <p>“Tapi bagi saya, menjadi tukang bangunan hanya sebagai sampingan saja”, ungkap Nurul.</p> <h3>Baca Juga: <a href="/article/read/nur-azis-kurnianto-founder-berbagisemangat-com-beromzet-40-juta-per-bulan-ini-ternyata-mantan-kuli-bangunan">Nur Azis Kurnianto, Founder Berbagisemangat.com Beromzet 40 Juta per Bulan Ini Ternyata Mantan Kuli Bangunan</a></h3> <p><strong>Resep Sukses Ala Nurul</strong></p> <p>Bagi pria berusia 38 tahun ini, menjadi tukang membawanya pada pencapaian tertinggi dalam hidupnya, yakni mendapatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain. Nurul juga belajar arti kesabaran dari pekerjaannya sebagai tukang.</p> <p>“Menjadi tukang itu harus sabar. Mencari cara yang paling efektif dalam pengerjaan bangunan dibutuhkan kesabaran yang besar. Terlebih agar awal dan akhir berjalan sesuai jalur,” kata Nurul ketika ditanya resep suksesnya.</p> <p>Nurul juga menyarankan pada tukang lainnya agar mampu memanfaatkan material, bahan maupun alat yang ada untuk dapat bekerja secara maksimal. Dengan begitu, dapat menghasilkan bangunan yang memuaskan meski dengan modal terbatas.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Disiplin dan Jujur, Kunci Sukses Tukang Batu yang Kini Jadi Pemborong Beromzet 20 Juta
<p><em>Oleh: Khusana Anik</em></p> <p>“Saya memang selalu mengutamakan kedisiplinan dan kejujuran kalau bekerja, jadi banyak orang yang percaya dengan saya”, jawab Jani, lelaki asal Ngawi, saat ditanya apa yang membuatnya sukses jadi tukang batu dan pemborong.</p> <p>Setiap perjuangan memang tak luput dari jatuh bangun. Termasuk kisah kakek satu cucu ini selama menjalani hidupnya sebagai tukang batu. Setelah puluhan tahun, ketekunan dan kedisiplinan membawa bapak dua anak ini jadi pemborong berbagai proyek pembangunan rumah di Ngawi.</p> <p><strong>Pernah dibayar 1200</strong><strong> rupiah</strong><strong> per hari</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/JANI/receh.jpg" alt="" width="646" height="323" /><em>(Sumber: <a href="https://www.merdeka.com/uang/pulau-jawa-krisis-uang-receh.html">disini</a>)</em></p> <p>Kisah Jani bermula pada 1987, selepas lulus SMP dan ia tak mampu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Keterbatasan biaya membuatnya berkeinginan untuk membantu keluarga di rumah. Tanpa pilah-pilih, ia pun bekerja sebagai kernek bus dengan bayaran 1200 rupiah per hari. Meski sama sekali tak dirasa cukup, pekerjaan itu ia lakoni selama tiga tahun.</p> <p>Ia lalu memutuskan pindah profesi menjadi tukang batu, dengan kenaikan upah 1000 rupiah dari pendapatan sebelumnya. Menjadi tukang batu ternyata juga tak semulus yang ia harapkan. Berulang ia kali mendapatkan atasan yang super galak dan kejam. “Dulu itu bos saya galak-galak dan kejam-kejam sekali. Dapet yang pelit juga pernah”, kenang Jani.</p> <p><strong>Me</strong><strong>raih Gelar </strong><strong>Duta </strong><strong>Tukang </strong><strong>Semen Gresik</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/JANI/2.jpg" alt="" width="632" height="337" /><em>(Sumber: dok. Jani)</em></p> <p>Namun, semua kerja keras memang tak pernah menghianati hasil. Pengalaman perih selama jadi tukang batu justru memberinya peluang untuk ikut Lomba Konstruksi yang diadakan oleh Semen Gresik, lewat tawaran seorang teman. Siapa sangka, pada 2006 silam, Joni berhasil menjadi Juara 1 Tingkat Ngawi, dan berhasil lolos ke babak final yang diadakan di kota Malang.</p> <p>Meski pada tahap akhir ia hanya bertahan di posisi ke-2, lelaki dengan nama lengkap Jani Purwanto ini bersyukur telah menerima banyak ilmu dari pelatihan dan perlombaan yang ia ikuti. Terlebih, ia dinobatkan sebagai Duta Tukang Semen Gresik untuk daerah Ngawi. Ia juga lebih percaya diri bekerja di bidang konstruksi.</p> <p>Mulai mendesain posisi keramik, memilih warna  keramik yang cocok dengan desain rumah, memilih bahan-bahan bangunan serta menghitung kebutuhan material untuk satu kali proyek, semua sudah ia kuasai dengan baik.</p> <p><strong>Jadi P</strong><strong>emborong </strong><strong>ber</strong><strong>om</strong><strong>z</strong><strong>et  hingga 20 juta</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/JANI/pemborong.jpg" alt="" width="640" height="352" /><em>(Sumber: <a href="http://kontraktorbangunrumah.biz/">disini</a>)</em></p> <p>Jani pun merasakan berkah tukang bangunan yang telah mengantongi sertifikasi. Tawaran pekerjaan banyak berdatangan setiap tahun. Orang-orang semakin percaya atas hasil kerjanya. Hal ini cukup menjadi bekal baginya untuk mengembangkan keahlian di bidang konstruksi dengan menjadi pemborong.</p> <p>Kini ia lebih banyak menerima proyek borongan rumah dibanding bekerja sebagai tukang bangunan. Omzetnya bisa mencapai 5-20 juta per proyek, tergantung ukuran rumah yang dipesan. Keuntungan yang didapat kemudian ia bagikan kembali kepada para pekerjanya yang berjumlah 10-15 orang.</p> <p><strong>Resep sukses Jani</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/JANI/resep.jpg" alt="" width="642" height="321" /><em>(Sumber: <a href="https://news.ralali.com/tips-mengerjakan-proyek-bangunan-saat-musim-hujan/">disini</a>)</em></p> <p>Jani mengaku bahwa kedisiplinan dan kejujuran menjadi kunci penting kesuksesannya sekarang. Tak lupa ia menyarankan kepada rekan tukang bangunan lain untuk tidak ceroboh dalam bekerja dan teliti. Serta mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Semen Gresik maupun Dinas PU setempat. Menurutnya, "Dari sanalah banyak sekali ilmu pertukangan yang bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan tukang bangunan.", pungkas Jani.</p> <p>Itulah kisah sukses Jani yang kini terus meningkatkan kualitasnya sebagai pemborong terpercaya. Semoga menginspirasi Anda, ya.</p> <p>#SahabatJagoBanguunan, untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya, ya.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
P4TK Malang, Kawah Candradimuka-nya Jawara Tukang Bangunan Indonesia
<p><em>Oleh: Amin Zainulloh</em></p> <p>Jika Anda memasuki kawasan kota Malang, cobalah lewati rute terminal Arjosari. Di sebelah timurnya ada sebuah bangunan lembaga pendidikan teknik, yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bernama Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK).</p> <p><strong>Kerjasama dengan Semen Gresik</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/P4TK Malang/SAM_2183.jpg" alt="" width="719" height="479" /><em>Sertifikasi Jago Bangunan di Bandung, 2017. (Sumber: dok. Jago Bangunan)</em></p> <p>Lembaga yang dulu dikenal dengan <em>Vocetional Education Development Center</em> (VEDC) Malang ini berperan besar dalam mewujudkan jawara-jawara tukang bangunan di Indonesia. Berkat kerjasama yang apik dengan Semen Gresik, Program Studi Teknologi Batu dan Beton di P4TK telah memberikan pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan yang kini tergabung dalam komunitas Jago Bangunan.</p> <p>Lebih dari 3.000 tukang dari Provinsi Jatim, Bali, Jateng, DIY, Jabar, Banten, Kalsel, dan Kalbar berhasil dilatih dan disertifikasi melalui program Edutrain. Jebolan terbaik dari Edutrain mendapat kepercayaan sebagai Duta Tukang Semen Gresik yang mewakili masing-masing kabupaten/kota di tiap provinsi. Ada juga program pelatihan tanpa sertifikasi yang dikenal dengan Forum Terampil, sama-sama diselenggarakan oleh Semen Gresik.</p> <p><strong>Awal Mula Berdirinya P4TK Malang</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/P4TK Malang/BAB4F2C3-8339-41C7-8FA5-369FBA59411F.jpg" alt="" width="687" height="415" /><em>(Sumber: dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Sebelum menjadi P4TK, gedung yang berdiri di atas lahan seluas 9 hektare ini menjadi tempat untuk mendidik calon guru SMK (dulu STM) atau Sekolah Menengah Kejuruan. Di sini berbagai pelatihan dan pendidikan teknik diajarkan, terutama praktiknya.</p> <p>Seiring perkembangan fungsi bangunan, tempat ini menjadi "bengkel" yang memberi pelatihan dan ketrampilan dalam bidang konstruksi yang dibutuhkan masyarakat. Disiplin ilmu dan suasana pembelajaran mengacu pada etos kerja Swiss, karena awal mula berdirinya lembaga ini berkat kerjasama pemerintah Indonesia dengan Swiss.</p> <p><strong>Prestasi P4TK Malang</strong></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/P4TK Malang/23153E41-B66D-4184-A683-50D26FE5A1BA.jpg" alt="" width="717" height="377" /><em>(Sumber: dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Hingga kini, P4TK telah berperan besar dalam melahirkan jawara-jawara tukang bangunan tingkat nasional, Asean, dan dunia. Untuk tingkat nasional, P4TK membantu kontingen Jawa Timur, terutama tukang bangunan yang tergabung dalam Komunitas Jago bangunan Semen Gresik, dalam memborong kejuaraan Lomba Pekerja Konstruksi Nasional selama 6 tahun berturut-turut (2008-2013).</p> <p>Bidangnya meliputi tukang batu, tukang besi, tukang plambing, tukang kayu, tukang keramik, tukang listrik, juru ukur, juru gambar, dan berbagai bidang konstruksi lainnya.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/P4TK Malang/E2762DF8-12C9-407A-9F93-64E8E03D8B29.jpg" alt="" width="704" height="443" /><em>(Sumber: dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Sedang untuk kejuaraan tingkat Asia atau dikenal dengan <em>Asean Skills Competition</em> (ASC), lembaga ini behasil melatih tukang batu (<em>bricklaying</em>) hingga mendapatkan medali emas pada 2006 di Brunei, 2008 di Malaysia, 2010 di Thailand, dan 2016 di Malaysia.</p> <p>Untuk tingkat dunia, peserta tukang batu maupun tukang keramik Indonesia belum mampu meraih medali emas. Namun pernah mendapatkan predikat Diploma (pengakuan akan kualitas) pada 2011 di London (Inggris), dan 2013 di Leipzig (Jerman).</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/P4TK Malang/42C8DE28-13B2-42C6-9D78-EC864E37B1E2.jpg" alt="" width="431" height="559" /><em>Perwakilan P4TK Malang untuk WSC 2017. (Sumber: dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Tahun ini, P4TK Malang optimis bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia lewat ajang ketrampilan internasional, <em>World Skilss Competition</em>, di Abu Dhabi, yang akan berlangsung pada 15-20 Oktober 2017. Semoga harapan ini bisa diwujudkan oleh dua perwakilan dari P4TK Malang, Muhammad Nasir untuk lomba pasang batu, dan Muhammad Muslih untuk kompetisi pasang keramik. Selamat berjuang, Nasir dan Muslih!</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>
Persiapan Matang, Perwakilan P4TK Malang Siap Bertanding di World Skills Competition Abu Dhabi
<p><em>Oleh: Amin Zainulloh </em></p> <p style="text-align: left;">Program Studi Teknologi Batu dan Beton di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Malang mengirimkan satu tukang batu dan satu tukang keramik dalam kompetisi keahlian dan ketrampilan internasional, <em>World Skills Competition</em> (WSC) 2017. Ialah Muhammad Nasir dan Muhammad Muslih, dari SMK Negeri 2 Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms//articles/P4TK Malang/42C8DE28-13B2-42C6-9D78-EC864E37B1E2.jpg" alt="" width="431" height="559" /><em>Muhammad Muslih (kiri) dan Muhammad Nasir (kanan).</em></p> <p>Keduanya siap berlaga di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 15-20 Oktober mendatang, bersama 29 siswa SMK lainnya dari seluruh Indonesia. Nasir dan Muslih telah berlatih selama 6 bulan secara intensif dalam bimbingan instruktur P4TK (dulu bernama <em>Vocetional Education Development Center</em> atau VEDC) Malang, yang sudah terbukti berpengalaman melahirkan Jawara Tukang Bangunan.</p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/images/cms///articles/P4TK Malang/E2762DF8-12C9-407A-9F93-64E8E03D8B29.jpg" alt="" width="739" height="466" /><em>Hasil Latihan Muslih (dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Tahun ini merupakan WSC ke-44 yang diikuti oleh 76 negara anggota. Program dua tahunan ini melombakan kompetensi kejuruan yang menjadi kebutuhan dunia internasional. Tim Indonesia akan mengikuti 29 bidang lomba yang terbagi menjadi tiga kelompok.</p> <p>Pertama, <em>Manufacturing Technology</em>, mencakup 16 bidang lomba diantaranya<em> mechatronics, car painting,</em> dan<em> prototype modelling</em>. Kelompok kedua, <em>Tourism</em> terdiri dari delapan bidang lomba antara lain<em> Fashion, Technology, Cooking</em> dan <em>Beauty Therapy</em>. Terakhir, <em>Information Technology,</em> terdiri dari empat bidang lomba, termasuk diantaranya <em>Web Design and Development, Graphic Design and Technology,</em> dan <em>Mobile Robotic.</em></p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms//articles/P4TK Malang/DCDEC173-DDF7-479D-A622-82071BFF70C6.jpg" alt="" width="742" height="471" /><em>Hasil Latihan Nasir (dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Sementara dari Kota Malang, Muhammad Muslih akan mengikuti lomba pasang keramik dan Muhammad Nasir mewakili Indonesia dalam bidang pemasangan bata. Pada lomba tersebut, peserta harus membuat benda kerja yang telah ditentukan baik ukuran maupun modelnya selama sekitar 21 jam. Penilaian hasil praktik ini meliputi aspek ketepatan dan keakuratan benda kerja, diantaranya ukuran, kesikuan, kerataan, dan keserasian nat-natnya.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/images/cms///articles/P4TK Malang/2.png" alt="" width="344" height="236" /><img src="/images/cms///articles/P4TK Malang/3.png" alt="" width="377" height="234" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Modul Lomba WSC 2017 (dok. P4TK Malang)</em></p> <p>Berikut ini tantangan yang harus digarap peserta lomba tukang batu yang baru saja dikeluarkan oleh dewan juri. Terdiri dari 3 benda kerja yang masing-masing harus dikerjakan selama sekitar 7 jam sehari. Selesai atau tidak, setelah waktu habis untuk 1 benda kerja, tidak bisa dilanjutkan. Esoknya peserta harus beralih ke benda kerja ke-2 dan seterusnya.</p> <p>Selamat bertanding, Nasir dan Muslih. Semoga menjadi yang terbaik.</p> <p><em>Editor: Damae Wardani</em></p>