Masuk

Tips

Beranda / Tips
Yuk, Kenali Kelebihan dan Kekurangan Konstruksi Bangunan Kayu Sebelum Anda Membangun
Konstruksi Sipil | 24 Nov 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Sejak zaman dahulu, kayu telah digunakan sebagai bahan bangunan. Jika kita cermati, sebagian besar rumah tradisional di Indonesia menggunakan kayu sebagai material utama, baik untuk elemen struktural maupun nonstruktural.

Hingga kini kayu masih menjadi material favorit. Setidaknya pasti ada satu elemen bangunan yang memanfaatkan kayu sebagai materialnya. Kali ini #PakJago akan membahas seluk-beluk kayu dan prinsip-prinsip konstruksi bangunan kayu.

Kekurangan dan Kelebihan Material Kayu

(sumber: disini)

Baca Juga: Begini Proses Pembuatan Dak Beton untuk Atap Datar dan Bangunan Bertingkat

Setiap material memiliki kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan kayu, terutama sebagai material konstruksi bangunan. Kelebihannya, kayu memiliki kekuatan tarik sekaligus kekuatan tekan, sehingga membuat material ini cocok diaplikasikan sebagai bahan struktur bangunan yang menopang beban tekan dan tarik aksial dan juga beban lentur.

Merujuk pada kebanyakan rumah tradisional yang kebanyakan berbahan kayu, penggunaan kayu sebagai material konstruksi sudah terbukti keandalannya. Meski demikian, material kayu juga memiliki berbagai kekurangan. Di antaranya, kayu relatif lemah jika menerima beban yang tegak lurus dengan arah seratnya. Bahan alami ini juga berpotensi diserang rayap dan jamur serta mudah lapuk pada kelembapan tinggi.

Kayu juga relatif mudah terbakar. Karenanya, untuk aplikasi konstruksi harus dipilih jenis kayu yang kuat dan awet, tidak bercacat, telah melalui proses pengeringan yang tepat, dan juga proses pengawetan (sehingga bahan relatif antirayap atau jamur).

Konstruksi Bangunan Kayu

(Sumber: disini)

Mengingat karakteristik kayu maka penggunaannya sebagai elemen struktural maupun nonstruktural perlu memperhatikan beberapa hal berikut.

• Konstruksi kayu harus dibuat dari jenis kayu berkualitas sesuai fungsinya, dan tidak cacat. Untuk elemen struktural—kolom, balok, plat lantai, kuda-kuda—idealnya dipilih kayu solid bermutu tinggi, karena daya dukungnya relatif lebih baik. Jenis kayu yang sesuai untuk elemen struktural, antar lain jati, ulin, bengkirai, dan merbau.

Kayu bermutu sedang atau lebih rendah (kamper dan meranti) maupun kayu olahan (plywood, blockboard, dan particle board) lebih tepat diaplikasikan pada elemen bangunan yang tidak menopang beban, seperti dinding partisi, plafon, pintu, dan jendela.

• Konstruksi kayu, baik untuk menciptakan konstruksi bidang (2D) ataupun konstruksi ruang (3D) dibuat dengan sistem sambungan dan hubungan. Sambungan prinsipnya menyambung dua batang kayu atau lebih sehingga menjadi lebih panjang; sedangkan sistem hubungan adalah menghubungkan dua kayu atau lebih pada titik tertentu sehingga menjadi suatu konsturuksi atau bagian konstruksi. Ada sambungan bibir, sambungan lidah dan alur, sambungan takikan, hubungan tegak lurus, hubungan menyudut, dan sebagainya.

(Sumber: disini)

Berbagai macam sambungan pada prinsipnya dikelompokkan menjadi tiga:

- Sambungan memanjang, misalnya untuk menyambung gording dan balok tembok.
- Sambungan melebar, misalnya untuk pembuatan lantai, dinding, dan atap.
- Sambungan menyudut (berbeda arah seratnya), misalnya untuk kuda-kuda dan kusen.

• Agar hubungan dan sambungan kuat dan stabil harus memenuhi beberapa syarat berikut.
- Sambungan harus sederhana dan kuat. Takikan yang terlalu besar dan dalam sebaiknya dihindari, karena berpotensi menurunkan kekuatan kayu dan cenderung boros.
- Posisi sambungan harus tepat agar mampu menahan gaya-gaya yang bekerja padanya.
- Pembuatan sambungan harus menyesuaikan sifat kayu yang menyusut dan mengembang.

• Agar tetap kokoh dan tahan lama, konstruksi kayu harus mendapat perawatan khusus sebelum dan setelah pemasangan. Perawatan terutama ditujukan untuk mengantisipasi kayu tidak rusak atau keropos akibat faktor cuaca dan hewan pengganggu.

• Jika mungkin, konstruksi bangunan kayu sebaiknya tidak diterapkan pada daerah yang berpotensi merusak konstruksi kayu. Misalnya daerah berkadar garam tinggi seperti tepi laut.

Baca Juga: Mau Bikin Teras Tapi Lahan Terbatas? Coba Pilih Aneka Model Ini

Demikian ulasan tentang seluk-beluk konstruksi bangunan kayu dari #PakJago. Semoga bermanfaat. Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Simak juga artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani