Masuk

Tips

Beranda / Tips
Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Tukang di Indonesia
Konstruksi Sipil | 29 Jun 2017

Tukang (pekerja) bangunan adalah salah satu profesi paling dibutuhkan di negara yang sedang gencar membangun, seperti halnya Indonesia. Namun sangat disayangkan, tingkat kesejahteraan pekerja bangunan belum sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa hal yang harus diupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja konstruksi di Indonesia.    

 

MENGUPAYAKAN PENINGKATAN UPAH

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa rata-rata upah pekerja bangunan (tukang bukan mandor) di Indonesia pada Mei 2017 adalah Rp83.958,00 per hari. Nilai tersebut lebih tinggi 0,26 persen dari bulan sebelumnya. Namun, peningkatan upah dari bulan ke bulan belum sesuai dengan harapan para pekerja, bahkan dinilai masih lebih rendah dibandingkan upah di negara-negara lain di kawasan ASEAN. Upah pekerja bangunan di Indonesia masih di bawah Thailand dan Filipina; apalagi Singapura. Oleh karena itu peningkatan upah masih harus terus-menerus diperjuangkan agar dapat bersaing dengan negara ASEAN lain, terutama di era pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang telah diberlakukan sejak Januari 2016. Peningkatan upah pekerja bangunan sangat erat hubungannya dengan peningkatan daya beli mereka, yang berarti semakin tercapailah kesejahteraan mereka beserta keluarganya.      

 

MENGUPAYAKAN KESEJAHTERAAN DI LOKASI PROYEK

Kesejahteraan juga menyangkut aspek keamanan, keselamatan dan ketenteraman. Jadi, selain mengupayakan kenaikan upah, pekerja juga harus berupaya mendapat kesejahteraan di lingkungan kerja. Tidak semua pekerja konstruksi beruntung mendapat pengelola proyek yang mengupah sekaligus memperlakukannya dengan baik. Kesejahteraan di lokasi kerja yang masih perlu diperjuangkan oleh para pekerja bangunan antara lain:

  • Mendapatkan asuransi kecelakaan, terlebih bila bekerja pada proyek berisiko tinggi, seperti pembangunan gedung berlantai banyak, penggunaan alat berat dan/atau alat berbahaya, dsb.
  • Mendapatkan jaminan kesehatan/biaya pengobatan jika sakit atau terserang penyakit, terlebih jika diakibatkan oleh kerentanan pekerja karena pemberlakuan lembur dalam berbagai cuaca.
  • Mendapatkan tempat berlindung (bedeng/mes) yang layak, aman dan terjamin kesehatannya.
  • Mendapatkan perlengkapan keselamatan kerja sesuai risiko pekerjaan.

Sebagai bekal pengetahuan, pekerja bangunan perlu memahami Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mengatur penjaminan kesehatan dan keselamatan buruh di tempat kerja.