Masuk

Tips

Beranda / Tips
Ternyata Arsitektur Tak Hanya Soal Desain, Tapi Juga Makna Spiritual dan Identitas Bangunan
Desain Bangunan | 25 Nov 2017

Oleh: Dwi Klarasari

#SahabatJagoBangunan, kata spirit sering diartikan sebagai semangat, ruh atau jiwa. Sementara spiritual berhubungan dengan rohani, batin, atau bersifat kejiwaan. Manusia memiliki jiwa dan raga, dan keduanya memerlukan wadah untuk bersemayam serta mengaktualisasikan diri.

Arsitektur, selain berarti seni dan ilmu merancang, juga merujuk pada hasil perancangan, yakni ruang tempat hidup manusia. Arsitektur tidak selalu berupa bangunan (rumah, kantor, dan sebagainya) tetapi juga berkaitan dengan interior, ruang terbuka hijau (lansekap), juga ruang kota.

(Sumber: disini)

Arsitektur dirancang karena adanya kebutuhan manusia, baik yang bersifat fisik (badan) maupun nonfisik (jiwa atau batin). Sebaliknya, arsitektur dapat memengaruhi kondisi fisik dan kejiwaan seseorang yang tinggal atau beraktivitas di dalamnya.

Rancangan arsitektur yang juga mengandung unsur-unsur estetika dapat digunakan untuk mewujudkan nilai-nilai spiritual. Makna spiritual terutama dihadirkan pada bangunan religius. Namun, jika diinginkan, juga bisa dihadirkan pada bangunan sekuler, termasuk rumah tinggal.

#PakJago mencatat, makna spiritual dapat dihadirkan pada rancangan arsitektur lewat berbagai elemen berikut.

Bentuk

(Sumber: disini)

Baca Juga: Mau Bikin Teras Tapi Lahan Terbatas? Coba Pilih Aneka Model Ini

Bentuk bangunan dapat memberikan makna spiritual. Sejak zaman dahulu manusia telah menyadari hal ini. Bahkan, pada bangunan telah diterapkan bentuk-bentuk geometris (garis, lingkaran, persegi, segitiga), yang diilhami dari berbagai bentuk di alam semesta (matahari, bulan, bintang, gunung) untuk memberikan makna spiritual.

Tempat ibadah atau pemujaan dibuat dengan bentuk geometri tertentu untuk memberikan makna spritual bahwa Tuhanlah Penguasa alam semesta. Konon, denah candi Borobudur berbentuk “mandala” yang merupakan lambang alam semesta dalam kosmologi Budha. Bentuk denah masjid, kubah masjid, denah gereja dan menaranya, juga dibuat untuk memberikan makna spiritual tertentu.

Ukuran

(Sumber: disini)

Seperti halnya bentuk, jika diinginkan, lewat ukuran dapat dihadirkan makna spiritual dalam rancangan arsitektur. Bangunan religius dan tempat ibadah, umumnya dibuat dengan ukuran jauh melebihi skala manusia serta cenderung menjulang, sehingga memiliki kesan monumental.

Mencakup ukuran massa bangunan serta ruang dalam. Ukuran yang relatif besar dimaksudkan agar manusia yang beribadah di dalamnya merasakan kebesaran Tuhan. Demikian pula jika melihat tampak bangunan. Bangunan religius berukuran besar serta bersifat monumental juga menjadi simbol bahwa Tuhan Maha Besar atau Maha Agung.

Struktur Bangunan

(Sumber: disini)

Struktur terkait erat dengan bentuk dan ukuran bangunan. Untuk mendapatkan massa bangunan berukuran besar dan juga interior berbentang lebar, diperlukan tipe struktur tertentu. Secara teknis kemampuan struktur mendukung bentuk dan ukuran bangunan bermakna spiritual sangat penting. Namun, untuk menghadirkan makna spiritual, struktur bangunan tidak saja harus kuat, kokoh dan tahan lama, tetapi perlu memiliki detail konstruksi yang indah dan bermakna.

Jika diamati, bangunan religius (gereja, masjid, kelenteng, vihara), juga berbagai rumah adat tradisional di Indonesia, yang direncanakan secara mendalam, memiliki detail konstruksi yang indah sekaligus bermakna. Sebagai contoh, atap berstruktur tajuk susun tiga pada banyak masjid di Jawa, konon bermakna tingkatan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.

Tata Ruang

(Sumber: disini)

Tata ruang dengan konsep tertentu juga dapat memberikan makna spiritual. Pada bangunan religius hal ini sangat jelas terlihat. Contohnya, makna spiritual pada tingkatan candi Borobudur menggambarkan ranah spiritual dalam kosmologi Budha (kamadhatu, rupadhatu, arupadhatu).

Rumah tradisional Bali yang ditata dengan pedoman Asta Kosala Kosali menempatkan area suci (sanggah) pada posisi timur laut yang dianggap sebagai arah paling suci. Mbaru Niang, rumah adat salah satu suku di Flores, yang berbentuk kerucut, di dalamnya terbagi atas 5 tingkat, di mana tingkat tertinggi (hekang kode) digunakan sebagai tempat sesaji bagi para leluhur.

Warna

(Sumber: disini)

Setiap warna memiliki sifat dan karakter berbeda. Tiap-tiap warna juga memberi efek (visual maupun psikologis) serta makna berbeda-beda. Dalam arsitektur warna dapat menghadirkan makna spiritual sesuai keyakinan atau tradisi yang dijadikan pedoman. Bagi banyak keyakinan dan tradisi, warna putih secara spiritual bermakna kesucian.

Namun, setiap keyakinan juga memiliki warna khusus. Misalnya, warna hijau memiliki makna spiritual mendalam bagi yang berkeyakinan Islam; warna putih-kuning nyaris identik dengan Hindu (Bali), atau warna emas dan merah menjadi warna dominan pada tempat ibadah umat Khonghucu (kelenteng).

Elemen Dekoratif

(Sumber: disini)

Elemen dekoratif, seperti lukisan, foto, patung, dan berbagai unsur dekoratif—dapat dipajang di area ruang luar maupun interior—berperan menghadirkan makna spiritual dalam arsitektur. Meskipun demikian, benda-benda bermakna spiritual bukan sekadar hiasan seperti halnya elemen dekoratif lain.

Baca Juga: Jangan Bingung, Begini Penerapan Praktis Fengshui dalam Konsep Arsitektur Rumah

Misalnya, jika di rumah tinggal dibuat sebuah ruang doa maka berbagai gambar, patung, benda-benda yang diletakkan dalam ruang tersebut menjadi sarana ibadah yang sakral. Jadi, perletakan atau penataannya pun tidak bisa sembarangan.

Demikian ulasan #PakJago terkait arsitektur dan makna spiritual ini, semoga bermanfaat untuk menambah khazanah pengetahuan Anda.

Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu pada artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani