Masuk

Tips

Beranda / Tips
Tak Harus Kayu, Ini Ragam Jenis Konstruksi Rangka Atap yang Bisa Anda Pilih Sesuai Kebutuhan
Konstruksi Sipil | 03 Aug 2017

Oleh: Dwi Klarasari

#SahabatJagoBangunan, tak melulu harus berbahan material kayu untuk membuat rangka atap. Bagian teratas bangunan yang berfungsi menahan beban penutup atap ini makin banyak jenis materialnya. Bentuk rangka juga bisa dimodifikasi sedemikian rupa hingga menghasilakn aneka bentuk atap, seperti pelana dan perisai (limas).

Rangkaian batang-batang disusun menjadi satu kesatuan dalam bentuk standar segitiga—yang terbukti paling stabil dan kokoh. Prinsip rangka pada kuda-kuda adalah membagi segitiga menjadi bentuk segitiga-segitiga yang lebih kecil. Berikut ini akan #PakJago jelaskan beberapa jenis konstruksi rangka atap (kuda-kuda) berdasar materialnya.

  1. Rangka atap kayu

Kayu memang telah lama menjadi material utama dalam pembangunan, termasuk rangka atap, karena banyak tersedia di alam bebas. Jenis kayu untuk rangka atap diantaranya kamfer, bangkirai, jati, dan keruing.

Kayu yang ulet dan elastis mampu menahan beban, baik tekanan maupun lenturan. Dengan rangka atap kayu yang ringan, tidak terlalu membebani struktur di bawahnya. Rangka atap kayu juga dapat dibentuk dengan relatif mudah dan cepat. Selain kelebihan teknisnya, kayu terkesan natural dan eksotis sehingga dapat menambah keindahan ruangan.

Namun rangka atap kayu juga memiliki kekurangan. Diantaranya tidak tahan rayap, mudah terbakar, dan mudah terpengaruh perubahan suhu. Kayu perlu perlakuan dan perawatan khusus, seperti pelapisan anti rayap.

  1. Rangka atap beton

Rangka atap beton terbuat dari bahan beton. Ialah campuran pasir, semen, dan split dengan rasio tertentu yang dicor pada cetakan dengan memberikan baja tulangan di dalamnya. Ukuran lebar dan panjang balok dibuat dengan perbandingan 2:3, dengan ukuran tinggi sekitar 1/10 sampai 1/12 bentang.

Rangka atap beton biasanya dikombinasikan dengan material lain untuk gording, kasau, dan reng, seperti material kayu atau baja ringan. Rangka atap beton memiliki beban paling berat dibanding rangka atap lain. Karenanya beban atap beton lebih besar untuk struktur di bawahnya (balok, kolom, pondasi). 

Kekurangan lainnya, pengerjaannya relatif rumit. Dimulai dari arus proses penulangan dan pemasangan bekisting, pengecoran, pembongkaran bekisting, pengeringan, dan pengacian. Waktu pengeringan juga relatif lama, minimal sekitar 28 hari. Terkadang ukurannya bisa juga kurang tepat.

Namun rangka atap beton juga memiliki beberapa kelebihan. Seperti anti rayap, anti jamur, antikarat, tidak mudah terbakar, dan tidak memiliki muai susut. Rangka atap beton juga lebih tahan lama, dan menyediakan ruang lebih lapang untuk struktur di bawahnya.

  1. Rangka atap baja konvensional

Baja merupakan logam yang terbuat dari campuran besi dan karbon. Sedangkan baja konvensional ialah jenis baja yang proses pembentukannya dilakukan saat bahan masih berwujud cair dan bersuhu tinggi. Karena kekuatan dan daya tahannya, baja banyak dimanfaatkan untuk struktur jembatan, menara, gedung, dan rangka atap.

Rangka atap baja biasanya digunakan profil wide flange (WF) untuk kolom dan balok. Sedangkan gording dan balok dudukan penutup atap dipakai profil C (baja kanal C atau CNP). Perangkaian profil relatif mudah dan cepat. Meskipun berat, bobot rangka atap baja jauh lebih ringan dari rangka atap beton.

Keunggulan lain rangka atap baja adalah kuat, kokoh, stabil, dan tahan lama. Rangka atap baja juga anti rayap, tidak mudah terbakar, dan tidak mengalami muai susut. Namun rangka atap baja harus dilapisi anti karat agar tahan terhadap perubahan cuaca.

  1. Rangka atap baja ringan

Baja ringan dibentuk saat mulai dingin. Dalam prosesnya, molekul-molekul baja tersusun lebih rapat. Ini menghasilkan jenis baja yang lebih berkualitas dari baja konvensional. Dengan kekuatan sama, baja ringan memiliki bobot yang jauh lebih ringan daripada baja biasa.

Karakteristik tersebut menjadi kelebihan rangka atap baja ringan. Bobot yang hanya 6 kg/m2 jauh lebih ringan dari bobot rangka atap baja konvensional (20 kg/m2), rangka atap beton (30 kg/m2) maupun rangka atap kayu (10 kg/m 2). Beban yang harus ditopang struktur di bawahnya pun jauh lebih kecil.

Proses pemasangan rangka atap baja ringan relatif mudah dan cepat, serta lebih gampang dibentuk sesuai desain. Kelebihan lainnya, atap baja ringan ini anti rayap, tahan karat, tidak mudah terbakar, dan tidak mengalami muai susut. Sayangnya, jika perhitungannya kurang teliti, kekuatannya akan jauh berkurang dan berisiko tidak mampu menahan beban.

Keempat rangka atap dapat diterapkan sesuai kebutuhan. Misal, untuk rumah tahan gempa, rangka atap kayu atau rangka atap baja ringan tentu menjadi pilihan terbaik. Itu dia penjelasan tentang ragam konstruksi atap yang bisa Anda pilih, semoga bermanfaat.

#SahabatJagoBangunan, untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya, ya.

 

Editor: Damae Wardani