Masuk

Tips

Beranda / Tips
Tak Hanya Tetap Kokoh, Konstruksi Bangunan Tahan Gempa Ini Juga Bisa Kurangi Korban Jiwa
Konstruksi Sipil | 29 Jul 2017

Oleh: Dwi Klarasari 

#SahabatJagoBangunan, bencana gempa bumi mengintai sebagian besar wilayah Indonesia. Selain memahami risiko gempa, #SahabatJagoBangunan dapat turut berupaya mengurangi korban jiwa dan dampak kerusakan pada bangunan. Salah satunya dengan membangun rumah tahan gempa.

Berikut ini #PakJago akan berbagi informasi tentang prinsip dasar pembangunan rumah tahan gempa dan berbagai hal terkait.

Prinsip dasar konstruksi bangunan tahan gempa

Prinsip dasar rumah tahan gempa adalah mengikat seluruh struktur bangunan—vertikal dan horizontal, di bawah maupun di atas permukaan tanah—menjadi satu kesatuan utuh. Penyatuan membuat seluruh elemen struktur bangunan bersama-sama menyalurkan beban yang diterimanya secara proporsional, sehingga dapat bertahan saat terdampak getaran dan goncangan gempa.

Bangunan dengan kekakuan struktur dapat bertahan dan cenderung kembali ke bentuk semula meskipun mengalami goncangan berkali-kali. Namun, bukan berarti rumah dengan konstruksi tahan gempa tidak dapat rusak sama sekali.

Jika kekuatan gempa sangat besar, potensi rusak tentu ada tetapi tidak semudah rumah biasa. Bahkan boleh jadi akan tetap berdiri. Karenanya, bila bencana terjadi mereka yang berada di dalam rumah punya kesempatan lebih besar untuk selamat.

Gambar 1. Pada rumah-rumah tradisional telah diterapkan konsep menyatukan struktur dan terbukti dapat bertahan saat terjadi gempa. (Sumber foto: kiri - www.visitniasisland.com dan kanan – koleksi dwiklarasari).

Karakteristik elemen struktur

Agar prinsip kekakuan struktur terpenuhi dan berhasil menjadikan sebuah rumah relatif tahan gempa, setiap elemen strukturnya harus dibangun dengan karakteristik tertentu.

  • Pondasi

Karena pondasi bertugas menyalurkan beban bangunan ke tanah, maka harus dibangun pada tanah keras dan stabil. Jika tanah lunak harus dibuat struktur perkerasan atau diterapkan jenis pondasi khusus, misalnya pondasi plat.

Penempatan pondasi pada dua karakter tanah berbeda (keras dan lunak) harus dihindari, demikian juga pembuatan pondasi bertangga. Pondasi harus dibuat menerus tanpa terputus. Karena itu pada penerapan pondasi setempat, harus dibuat sloof untuk mengikat seluruh pondasi.

Gambar 2. Ilustrasi pondasi menerus yang juga terikat dengan sloof pada konstruksi beton maupun kayu. (Sumber: ciptakarya.pu.go.id).

  • Sloof dan ring balk

Sloof berfungsi mengikat dan menguatkan pondasi serta kolom. Sloof akan menerima beban dari kolom dan menyebarkannya secara merata ke seluruh pondasi. Beban dinding bangunan juga harus ditopang oleh sloof. Fungsi ring balk tidak jauh berbeda.

Ring balk mengikat kolom di bagian atas sehingga menyatu dan bila terjadi goncangan akan tetap pada posisinya. Ring balk juga mengikat dinding dan bertugas menerima beban di atasnya, terutama rangka dan penutup atap, kemudian menyalurkannya ke kolom—yang terhubung dengan pondasi.

Mengingat fungsi struktural, material, bentuk, dan dimensi sloof maupun ring balk, semua harus direncanakan serta dihitung secara tepat. Sebagai contoh, untuk rumah satu lantai dengan pondasi batu kali dapat diterapkan sloof beton bertulang berdimensi 15/20; di lain hal sloof dari susunan bata (rolag) tidak tepat untuk membagi beban. Sementara, spesifikasi ring balk sebaiknya dibuat seperti kolom sehingga keduanya memiliki hubungan yang kaku dan pola gaya yang sama.    

  • Kolom

Kolom merupakan rangka struktur yang menerima dan menyalurkan beban dari atas. Untuk menciptakan struktur yang kaku, kolom harus terikat dengan pondasi, sloof, dan ring balk. Jika menggunakan struktur beton bertulang, harus terdapat tulangan kolom yang melewati tulangan ring balk dan juga sloof. Demikian sebaliknya.

Gambar 3. Untuk menciptakan keakuan struktur maka pondasi, sloof kolom dan ring balk harus saling terikat (Sumber: ciptakarya.pu.go.id).

  • Dinding

Dinding struktural berfungsi sebagai pendukung dan penyalur beban sehingga sangat mempengaruhi prinsip kesatuan struktur. Karenanya dinding ini harus dibuat kuat dan kokoh sebagaimana elemen struktural lain—kolom, balok, dll. Sementara dinding pengisi yang tidak terkait langsung dengan kekuatan struktur (nonstruktural) meskipun mengalami kerusakan relatif tidak mempengaruhi struktur. 

  • Konstruksi atap

Rangka atap berfungsi memikul beban sendiri, beban penutup atap juga beban luar dan menyalurkannya ke ring balk. Karena itu elemen-elemennya (kuda penopang, ander, gording, kasau dan reng) harus menyatu dan dikokohkan dengan batang pengaku yang mengikat seluruh kuda-kuda. Bahan konstruksi rangka atap sebaiknya juga ringan namun kokoh.

Gambar 4. Elemen-elemen pada konstruksi atap menyatu dan kokoh. (Sumber foto: kiri – moresunwoodworking.com dan kanan - img.olx.biz.id) 

Kelenturan bangunan

Agar mampu meredam getaran dan bertahan saat mengalami goncangan, selain kekuatan struktur, rumah harus memiliki kelenturan tinggi. Kelenturan bangunan antara lain dipengaruhi oleh penggunaan material.

Besarnya gaya inersia gempa berbanding lurus dengan beban bangunan. Semakin ringan bangunan, semakin kecil gaya yang membebaninya. Karena itu pemilihan jenis material ringan namun kuat, akan sangat membantu menciptakan rumah tahan gempa.

Alam menyediakan banyak material ringan, elastis sekaligus kuat, seperti kayu, bambu, rotan. Material ringan dan kuat juga telah diproduksi oleh industri modern, misalnya baja ringan, fiberboard, zincalume, polikarbonat.

Silakan #SahabatJagoBangunan mengenal lebih jauh dengan membaca artikel “Daerah Anda Rawan Bencana? Pilih Material Ini Agar Bangunan Tahan Gempa” yang telah #PakJago sajikan.

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun callcenter – Bebas Pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya.