Masuk

Tips

Beranda / Tips
Tak Disangka, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Berkat Ketulusannya Mengajari Pemuda Putus Pekolah
Kisah Inspirasi | 29 Dec 2017

Oleh: Hildatun Najah

Kondisi pemuda desa yang mayoritas putus sekolah, menggerakkan hati Sakurun untuk berbagi ketrampilan pertukangan agar mereka bisa bekerja tanpa perlu bersekolah tinggi. Tak memungut biaya sepeser pun, ia membimbing para pemuda itu selama 10 tahun.

Minder Hanya Lulus SD, Sakurun Nekad Jadi Kuli Bangunan

(Sumber: dok. Sakurun)

Berasal dari keluarga kurang mampu, terlebih hanya dibesarkan oleh ibu, membuat Sakurun tak mampu meneruskan pendidikan ke SMP. Ia sadar tak banyak yang bisa ia lakukan hanya dengan izasah SD, hingga ia putuskan untuk menjadi kuli bangunan pada 1982.

Baca Juga: Nur Azis Kurnianto, Founder Berbagisemangat.com Beromzet 40 Juta per Bulan Ini Ternyata Mantan Kuli Bangunan

Pekerjaan pertama membawa Sakurun ke Semarang, meninggalkan desa Mranggen, Kabupaten Demak, kampung halamannya. Di usia yang masih belia kala itu, ia tinggal dengan tukang lain di bedeng selama 1,5 tahun. Setelah proyek rampung, bapak satu anak ini  mengikuti teman seperjuangannya untuk jadi kuli bangunan di Jakarta.

(Sumber: dok. Sakurun)

Kehidupan sebagai kuli dijalani pria yang lahir di Demak, 18 September 1967 ini selama 3 tahun sebelum diangkat menjadi tukang. Sikapnya yang rajin ketika bekerja membuat kepala tukang menyukainya. Bahkan beberapa kali ia diajari untuk membuat desain bangunan.

Empat belas tahun berselang, Sakurun mulai dipercaya menjadi kepala tukang. Sejak itu ketertarikannya pada dunia desain semakin menggebu. Tak hanya berbagai proyek pembangunan dan renovasi yang ia garap, Sakurun juga pernah membangun rumah yang ia desain sendiri.

Prihatin pada Pemuda Desa yang Putus Sekolah, Sakurun Berbagi Ketrampilan Pertukangan

(Sumber: dok. Sakurun)

Kesuksesan Sakurun di bidang pertukangan tak membuatnya lupa pada sekitar. Suami dari Sumarni ini justru sangat khawatir dengan nasib para pemuda desanya yang putus sekolah, seperti melihat dirinya di masa lalu. Sakurun lantas memutuskan untuk membagikan ilmu dan ketrampilan pertukangan yang ia punya untuk mereka. Sebanyak 5-10 pemuda silih berganti datang ke rumahnya untuk belajar pertukangan. Hingga 10 tahun berselang, beberapa pemuda hasil didikannya kini sudah jadi mandor.

Sakurun bercerita, keinginannya untuk mengentaskan para pemuda desa itu diilhami dari acara pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan (Edutrain) yang diadakan oleh PT Semen Gresik, 2005 silam. Berkat program ini pula, Sakurun semakin dipercaya orang lain. Jika biasanya hanya proyek perumahan yang dikerjakan, sejak 3 tahun terakhir Sakurun diamanati membangun insfrastruktur desa.

(Sumber: dok. Jago Bangunan)

Program Edutrain ini merupakan wujud apresiasi sekaligus kepedulian PT Semen Gresik pada tukang bangunan, yang merupakan salah satu segmen pelanggan Semen Gresik. Tentu pelatihan dan sertifikasi sangat penting guna meningkatkan kompetensi tukang agar mendapat pekerjaan yang layak dan mampu bersaing dengan tenaga asing.

Baca Juga: Didi Sunardi, Menyulap Nasib Kuli Bangunan Jadi Komika Bertarif Jutaan

Selain itu, Semen Gresik juga membuat program berkelanjutan bernama Komunitas Jago Bangunan. Didukung portal jagobangunan.com, tukang dapat memperkaya pengetahuan secara mandiri melalui berbagai artikel seputar konstruksi. Tukang juga bisa berkonsultasi gratis dengan Pak Jago melalui website, call center, maupun Fanpage Jago Bangunan.

(Sumber: dok. Jago Bangunan)

Sebagai bentuk penghargaan pada anggota komunitas, Semen Gresik bahkan membuat Arisan Jago Bangunan yang memberikan hadiah fantastis, berupa 1 Honda Mobilio, 10 paket umroh, 50 HP Samsung J5, dan 500 Jaket Eksklusif. Program yang berlangsung selama 9 bulan ini diikuti oleh 4.577 peserta, dan nama Sakurun keluar sebagai salah satu pemenang hadiah paket umroh dalam pengundian yang dilaksanakan pada 18 Desember 2017 lalu. Kemenangan ini seakan menjadi balasan Tuhan untuk kebaikan dan ketulusan Sakurun selama 10 tahun.

Editor: Damae Wardani