Masuk

Tips

Beranda / Tips
Siapa Sangka, Pemilik 4 Bidang Usaha ini Ternyata Mantan Pengaduk Semen
Kisah Inspirasi | 14 Nov 2017

Oleh: Hildatun Najah

Memang garis hidup manusia memang tidak dapat ditebak. Siapa sangka Agi Sugiyanto berhasil membeli salah satu tempat di Plaza Atrium, proyek yang sempat ia kerjakan ketika menjadi laden di usia 12 tahun?

Menjadi Laden Sejak Kecil

Masa kecil Agi serba kekurangan. Kedua orangtuanya meninggal sebelum Agi genap berusia 8 tahun. Sejak saat itu, ia hidup bersama neneknya dan membantu menggembala kerbau ke hutan dekat tempat tinggalnya, sebuah desa terpencil di Boyolali.

(Sumber ilustrasi: disini

Setelah lulus SD, Agi berpisah dengan kakak dan adiknya untuk ikut para tetangganya yang menjadi pekerja migran karena tidak mimiliki biaya untuk melanjutkan sekolah.

Baca Juga: Didi Sunardi, Menyulap Nasib Kuli Bangunan Jadi Komika Bertarif Jutaan

Dengan tubuh kecilnya, Agi bekerja mengaduk semen, mengangkat batu, bata dan melakukan pekerjaan laden (kuli bangunan) lainnya. Kala itu, pria yang lahir pada 7 Juli 1965 ini tinggal di bedeng yang dibuat di samping lahan proyek bersama sesame pekerja bangunan.

Beragam proyek ia ikuti, berganti dari pemborong satu ke pemborong lain. Mulai proyek Kelapa Gading, Cileduk, Plaza Atrium, hingga pekerjaan terakhirnya sebagai laden di rumah salah satu pejabat.

Rezeki Tak Melulu Soal Uang, Tapi Juga Pendidikan

(Sumber ilustrasi: disini)

Kehidupan laden ia jalani selama dua tahun sebelum akhirnya kerja keras itu berbuah manis. Bapak 5 anak itu mendapatkan kesempatan untuk kembali bersekolah. Seseorang menawari Agi untuk bekerja di rumahnya sebagai tukang kebun sekaligus menyekolahkannya.

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Agi bekerja membersihkan kebun. Kemudian sepulang sekolah ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjadi tukang kebun Agi jalani hingga lulus SMA di tahun 1987.

Bersama dengan lulusnya Agi dari bangku SMA, pekerjaan Agi sebagai tukang kebun pun selesai. Agi kembali berkelana mencari pekerjaan. Beruntunglah Agi memiliki kemampuan menulis sehingga ia bisa mendapatkan penghasilan dengan menjadi penulis lepas. Pekerjaan lain pun Agi lakukan untuk menyambung hidup. Mulai dari menjadi sales, hingga ikut orang berjualan.

Selama dua tahun Agi tidak memliki pekerjaan tetap. Namun berbekal pengalaman menulisnya, Agi melamar menjadi wartawan di Kompas Gramedia. Meski pada awalnya Agi diragukan karena tidak memiliki gelar sarjana, pria dengan nama lengkap Agi Sugiyanto ini berhasil membuktikan dedikasi dan kemampuannya.

Keluar dari Zona Nyaman

(Sumber: dok. Agi)

Selama lebih dari 10 tahun, Agi bergelut di bidang jurnalistik, Agi merasa terpanggil untuk membantu keluarga dan saudaranya yang masih hidup dalam keadaan kurang layak. Pada akhir tahun 90-an, Agi mencoba mencari pekerjaan sampingan. Mulai Event Organizer sub produksi talent atau pengisi acara untuk acara televisi, kegiatan khusus di Taman Mini dan Ancol, hingga membuka klinik bekam.

Berkat kerja kerasnya, kini anak ketiga dari lima bersaudara ini telah memiliki perusahaan rekaman music digital dan manajemen artis (PT. Media Musik Proaktif), juga klinik pengobatan tradisonal atau pengobatan herbal yang bernaung dalam PT. Tradisi Untuk Semesta (Trust Indonesia).

Meski pekerjaan sebagai wartawan telah Agi lepaskan sejak tahun 2000, pengalamannya bekerja dan membangun relasi dengan berbagai media membuat Agi berhasil mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang advertising. Berkat kerja kerasnya, kini usaha Agi mulai merambah ke dunia kuliner dan coffee shop.

(Agi di coffe shop miliknya. Sumber: dok. Agi)

 “Saya membangun usaha ini dari nol, lepas dari zona nyaman saya sebagai pekerja kantoran. Dari pekerjaan kecil-kecilan menjadi EO di sela-sela pekerjaan saya sebagai wartawan. Hal ini karena saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pencapaian terbesar saya adalah ketika saya bisa mengumpulkan kembali dan membantu keluarga saya untuk hidup lebih baik,” ujar Agi ketika ditanya mengenai pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Baca Juga: Nur Azis Kurnianto, Founder Berbagisemangat.com Beromzet 40 Juta per Bulan Ini Ternyata Mantan Kuli Bangunan

Kehidupan Tukang Bangunan Bagi Agi

Bagi Agi, masa kecilnya sebagai asisten tukang mampu membuatnya berada hingga diposisinya sekarang ini. Dari pekerjaan sebagai laden ia belajar artinya kerja keras, kesabaran, keikhlasan, hingga hidup dalam komunitas. Hidup sebagai laden juga melatih Agi agar melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati dan tidak mudah mengeluh.

(Buku Biografi Agi Sugiyanto. Sumber: dok. Agi)

“Saya belajar kehidupan dari dunia pertukangan. Dari sana saya belajar bersabar, ikhlas dan sepenuh hati. Saya juga belajar bagiamana hidup, berinteraksi dan beradaptasi dengan komunitas. Pengalaman ini yang membuat saya terus bekerja keras hingga sekarang,” katanya.

Agi juga berpesan pada tukang masa kini untuk lebih meningkatkan kemampuannya. Baik dalam menganalisis desain bangunan maupun menggunakan dan mengontrol teknologi yang kini banyak digunakan dalam dunia konstruksi.

“Zaman sekarang teknologi sudah banyak dipergunakan termasuk dalam dunia konstruksi. Para tukang harus mulai mengasah kemampuannya secara analitis maupun memahami penggunaan teknologi tersebut,” kata Agi menutup kisahnya.

Editor: Damae Wardani