Masuk

Tips

Beranda / Tips
Siap Mandiri, Warga Binaan Lapas Kelas II B Singaraja Ikuti Pelatihan dan Sertifikasi Pekerja Konstruksi
Kisah Inspirasi | 16 Feb 2019

Oleh: Amin Zainullah

Sahabat Jago Bangunan, banyak Narapidana (Napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Singaraja, Bali, mengisi harinya dengan berkarya yang menghasilkan nilai jual, seperti melukis, menjahit, dan membuat kerajinan tangan. Diantara ratusan warga binaan, begitu mereka lebih akrab disapa, ternyata ada yang memiliki bakat di bidang jasa konstruksi, sebagai tukang bangunan, tukang cat, tukang kayu, tukang las, dan berbagai keterampilan tukang lainnya.

Tak ingin menyiakan potensi tersebut, Lapas II B Singaraja yang dipimpin Risman Somantri, bekerjasama dengan Kementerian PUPR, menggelar Pelatihan dan Uji Sertifikasi bagi warga binaan, pada 29 Januari - 1 Februari 2019. Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV (yang membawahi wilayah Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, dan NTT) mendatangkan instruktur bidang konstruksi bangunan untuk memberi pelatihan. Kegiatan ini juga didukung oleh Bidang Jasa Konstruksi Dinas PUPR Provinsi Bali, dengan mendatangkan peralatan Mobil Training Unit untuk pelatihan bidang K-3.

Proses pembukaan acara Pelatihan & Uji Sertifikasi Pekerja Konstruksi di Lapas Kelas II B Singaraja, (sumber gambar: dok. Balai Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Kementerian PUPR).

Pelatihan ini tak lain bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para warga binaan sebagai tukang bangunan, terutama untuk tukang batu dan tukang cat. Pelatihan secara intensif dilakukan selama 1 minggu, dengan pembagian waktu 5 hari untuk pelatihan dan 1 hari untuk uji sertifikasi. Sejumlah 36 napi mengikuti pelatihan tukang batu, sementara 19 warga binaan lainnya berlatih menjadi tukang cat. Hebatnya, meski pekerjaan bangunan identik dengan laki-laki, dalam Lapas Kelas 2 B Singaraja itu juga terdapat 5 warga binaan wanita yang antusias belajar jadi tukang cat.

Baca Juga: Mau Ikut Sertifikasi Tukang Pasang Bata, Juru Gambar, atau Juru Ukur? Baca Panduan Ini Dulu

Dalam proses pelatihan, peserta dibagi dalam 4 kelompok (masing-masing 9 orang), ditambah 1 warga binaan yang memiliki pengalaman membangun, sehingga tiap kelompok terdiri dari 10 orang. Warga binaan yang sudah berpengalaman tersebut memberi contoh sekaligus menjadi penyemangat bagi napi lainnya. Mereka tampak dengan senang hati melaksanakan pelatihan, mulai menggali, memindahkan batako, mengaduk, memasang pondasi, hingga melakukan pengelasan konstruksi atap dengan besi hollow.

Proses pelaksanaan Pelatihan dan Uji Sertifikasi Tukang Batu di Lapas Kelas II B Singaraja, (sumber gambar: dok. Balai Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Kementerian PUPR).

Untuk pelatihan tukang cat, warga binaan ini mengerjakan pengecatan ruang dalam Lapas. Ada yang mengecat kayu/kusen, tembok, dan juga ada yang membuat mural (seni melukis dinding) dengan lukisan khas Bali maupun gambar kartun. Meski terbilang durasinya sebentar karena bergantian dengan kelompok lain, namun hasil pelatihan tersebut tetap berkualitas dan indah.

Baca Juga: Wow! Begini Cara Memasang Bata Ringan yang Cepat dan Tepat Hingga 30 Meter Per Hari

Selain memberikan berbagai program pembinaan, Lapas Singaraja juga membuka usaha pencucian sepeda motor yang dijalankan oleh para warga binaan. Pembangunan tempat pencucian motor ini pun dikerjakan sendiri oleh penghuni Lapas yang memiliki keterampilan membuat pondasi, membuat tembok, memplester, memasang keramik, mengelas, hingga memasang instalasi listrik maupun perlengkapan lain, seperti air dan kompresor.

Proses pelaksanaan Pelatihan dan Uji Sertifikasi Tukang Cat di Lapas Kelas II B Singaraja, (sumber gambar: dok. Balai Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Kementerian PUPR).

Seiring banyaknya pelanggan yang puas dengan pelayanan pencucian motor, Lapas mengembangkan usahanya dengan membangun cafe persis di sebelah tempat cuci motor. Sembari motor dicuci, pelanggan bisa menikmati makanan, minuman, dan live music yang disuguhkan para warga binaan. Menarik sekali, bukan?

Baca Juga: Antisipasi Bencana, Penuhi Dulu 7 Syarat Bangunan Rumah Kokoh dan Tahan Gempa Ini

Bagi para warga binaan, kesempatan berkarya di luar tembok Lapas merupakan sesuatu yang langka. Selain berinteraksi dengan masyarakat, melihat lalu lalang orang dan kendaraan di jalan saja sudah cukup menjadi hiburan yang menyenangkan. Tentu pengawalan terhadap mereka cukup ketat, di samping kerjasama yang baik dan saling percaya dari para penghuni Lapas agar tidak melarikan diri.

Proses pelaksanaan pelatihan tentang bangunan sederhana di Lapas Kelas II B Singaraja, (sumber gambar: dok. Balai Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Kementerian PUPR).

Beruntung masyarakat Bali memiliki kepercayaan bahwa, kemanapun mereka pergi, pasti akan ada kerinduan yang sangat dalam untuk pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan keluarga. Kepercayaan tersebut membuat para warga binaan di Bali memiliki kesadaran tinggi untuk tidak lari dari Lapas. Kesadaran inilah yang juga menjadi salah satu faktor keberhasilan berbagai program pembinaan dan pelatihan yang dilakukan Lapas Singaraja.

Sebagian besar warga binaan yang mengikuti pelatihan ini sudah hampir bebas dalam waktu dekat, sehingga diharapkan keterampilan yang dipelajari bisa menjadi bekal untuk menyongsong lembaran baru pasca keluar dari Lapas. Ditambah sertifikat keterampilan, khususnya bidang konstruksi, mereka lebih percaya diri untuk berkiprah dan berkontribusi positif di masyarakat kelak.

Baca Juga: Peduli Tukang, Semen Indonesia Bekerjasama dengan Kementerian PUPR

=====
Mau konsultasi gatis seputar konstruksi, desain bangunan, atau RAB? #TanyaPakJago saja.

Pak Jago nantikan konsultasi Anda melalui call center 0800 108 8888 (bebas pulsa), kotak pesan di Fanpage Jago Bangunan, atau menu konsultasi di website jagobangunan.com.
=====

Editor: Damae Wardani