Masuk

Tips

Beranda / Tips
Sempat Merantau dan Ganti Profesi, Pria Ini Malah Sukses Jadi Kepala Tukang Bangunan di Kampung Sendiri
Kisah Inspirasi | 31 Jan 2018

Oleh: Hildatun Najah

Jika sebagian orang memiliki tujuan yang jelas sebelum merantau, ini tidak berlaku bagi Sugianto, Duta Tukang Semen Gresik di Kabupaten Ponorogo. Lulus STM, ia merantau ke Riau tanpa rencana, pasrah saja kemana kakinya akan melangkah. Ternyata tali takdir justru membawanya kembali dan sukses jadi Kepala Tukang Bangunan di kampung halamannya sendiri.

Sebelum Jadi Tukang, Sempat Merantau ke Riau

Sugianto telah terjun ke dunia pertukangan sejak menempuh bangku Sekolah Menengah Atas. Diantara sekolah yang lain, pria yang lahir di Ponorogo, 1 Januari 1971 ini lebih memilih masuk STM dan mengambil jurusan Teknik Bangunan. Tidak ada alasan khusus, ia hanya suka pada bidang pertukangan kala itu. Berbeda jauh dengan profesi kedua orang tuanya yang merupakan seorang petani.

 (Sumber: dok. Sugianto)

Meski memiliki pengalaman saat praktik di lapangan, tidak lantas membuat Sugianto langsung bekerja sebagai tukang. Setelah lulus STM pada tahun 1992, tanpa alasan khusus, ia merantau ke Sumatra. Dari sekian banyak wilayah di Sumatra, tungkainya berhenti bergerak di Riau dan mendapat pekerjaan di perusahaan kelapa sawit.

Baca Juga: Nekad Keluar Sekolah Demi Nguli, Pria Ini Sukses Jadi Tukang Bangunan di Perantauan

Enam tahun berlalu, sanak saudara telah banyak yang berumah tangga dan menyisakan kedua orang tua yang sudah reta sendirian di kampung halaman. Sebagai bentuk baktinya, ia melepas semua pekerjaannya di Riau dan kembali ke pelukan keluarga. Kembali membiarkan takdir menuntun jalan hidupnya, tak mau berpikir macam-macam.

Setibanya di rumah, ia memutuskan untuk mencoba mempraktikkan pengalaman dan ilmu yang pernah ia dapatkan di bangku STM dulu. Pelan-pelan ia mulai menerima pekerjaan menukang untuk tetangga dan kerabatnya. Hingga pada tahun 1999, ia resmi menjadi tukang bangunan berkat ajakan teman sejawatnya untuk bekerja di Surabaya. Proyek pertamanya adalah merenovasi Sekolah Pengatur Perawatan Gigi.

Berkat Edutrain, Tak Hanya Sukses Jadi Kepala Tukang, Tapi Juga Bisa Membuat Desain

Pada 2010 silam, setelah sebelas tahun menjadi tukang, bapak satu anak ini mendapat kesempatan untuk mengikutri program Pelatihan dan Sertifikasi Tukang (Edutrain) dari Semen Gresik. Selama tiga hari ia belajar teknik pertukangan, mencari pengalaman, mendapatkan teman baru sekaligus berkompetisi dengan mereka. Berkat usahanya, Sugianto berhasil menjadi Duta Tukang Semen Gresik untuk Kabupaten Ponorogo.

Sugianto mengakui kehidupannya banyak berubah setelah mengikuti Edutrain. Dengan terpilihnya ia sebagai Duta Tukang, masyarakat di desanya semakin percaya akan kapasitas dan kemampuannya. Bahkan ia juga mulai diamante untuk jadi kepala tukang. Beberapa kali ia menerima proyek pembangunan sekolah, perumahan, hingga jembatan. Kemampuan Sugianto di bidang konstruksi pun membuatnya berkesempatan untuk diundang dalam berbagai program pelatihan tukang lainnya. Terhitung lebih dari lima kali Sugianto hadir dalam Edutrain.

Baca Juga: Tak Disangka, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Berkat Ketulusannya Mengajari Pemuda Putus Pekolah

Tentu kesempatan untuk berkembang pesat tidak Sugianto sia-siakan. Setelah mendapat ilmu baru mengenai dunia bangunan, ia mulai tertarik pada dunia desain. Di setiap perjalanan pulang pergi ke tempat kerja, ia tak melewatkan kesempatan memperhatikan bangunan di sepanjang jalan. Mengamati dengan seksama desain bangunan yang ada dan belajar dari sana. Hingga kini sudah banyak rumah yang menjadi hasil karyanya. Bukan hanya proses konstruksinya saja, tapi desainnya juga.

“Terkadang dari pemilik rumah ingin membuat desain seperti ini. Tapi tata ruangnya tidak enak dilihat, jadi kita ubah. Terkadang teman-teman juga suka bertanya mengenai desain rumah pada saya. Saya juga pernah membangun rumah yang saya desain sendiri,” ungkap pria biasa menghabisakan waktu luangnya dengan memancing itu.

Bekerja Tanpa Mengeluh, Kunci Sukses Sugiarto

Sugianto akui pekerjaan tukang memang berat, tapi bukan tidak mungkin baginya untuk menikmati profesi ini. Ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan segala yang berhubungan dengan bangunan. Ia bahkan sempat menolak pekerjaan memegang alat berat yang ditawarkan Kepala Desa tempat ia tinggal. Ia lebih memilih meneruskan pekerjaannya menjadi tukang.

Baca Juga: Wow! Ternyata Ini yang Terjadi pada Seorang Tukang Bangunan Setelah Istrinya Mimpi Kejatuhan Bulan

Bagi Sugianto, menjadi tukang yang jujur, terampil, dan tepat waktu saja tidak cukup. Seorang tukang harus bisa bekerja tanpa mengeluh, meski kadang terasa lelah dan gaji tak seberapa. “Kalau bekerja di kampung itu gaji tidak tetap, diterima saja. Yang penting bekerja lancar, bisa membiayai anak sekolah dan memenuhi kebutuhan keluarga.” kata lelaki yang tinggal di Kecamatan Badegan, Ponorogo, itu mengakhiri perbincangan.

Editor: Damae Wardani