Masuk

Tips

Beranda / Tips
Rumah Tumbuh, Konsep Pembangunan Bertahap yang Bisa Langsung Ditempati
Konstruksi Sipil | 04 Oct 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Konsep membangun rumah secara bertahap, atau sering disebut konsep rumah tumbuh, biasanya diterapkan untuk mengantisipasi keterbatasan dana. Setelah tahap pembangunan pertama, rumah ini sudah bisa ditempati. Kelak ketika dana sudah tersedia, pembangunan dapat dilanjutkan lagi.

Meski bertahap, sebaiknya sejak awal sudah direncanakan bagaimana rumah ideal yang diinginkan. #PakJago mencatat ada dua konsep rumah tumbuh, yakni rumah tumbuh horizontal (satu lantai) dan rumah tumbuh vertikal (dua lantai atau lebih). Keduanya hanya berbeda arah pengembangan, namun tetap memperhitungkan kesinambungan dalam tahap pembangunan sehingga tidak terjadi pembongkaran yang membutuhkan banyak biaya lagi.

Rumah Tumbuh Horizontal 

(Sumber: disini)

Pada konsep horizontal, rumah dikembangkan atau diperluas ke samping. Hasil akhirnya berupa rumah satu lantai sesuai desain. Rumah tidak perlu menerapkan struktur berkekuatan khusus, cukup seperti membangun rumah satu lantai biasa.

Namun, denah harus direncanakan secara matang, dan pertimbangkan ruang apa yang harus disediakan lebih dahulu agar dapat ditempati dengan layak. Misal, membangun rumah dengan 3 kamar tidur dalam 2 tahap. Pada tahap 1 bisa dibuat ruang tamu, 2 kamar tidur, ruang keluarga, kamar mandi, dapur, dan area cuci.

Untuk menjaga ikatan yang stabil, seluruh pondasi dapat dibangun pada tahap 1. Pada tahap 2 (tanpa harus membongkar), dapat ditambahkan kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, dan garasi. Konsep rumah tumbuh horizontal ini perlu juga memperhatikan perencanaan atap, agar atap pada tahap 1 dan tahap 2 memiliki kesinambungan. Selain aman dari kebocoran, juga harus bernilai estetis sehingga rumah pun tampak indah meski belum selesai dibangun.

Rumah Tumbuh Vertikal

(Sumber: disini)

Hasil akhir rumah tumbuh vertikal adalah bangunan bertingkat (dua lantai atau lebih). Artinya, penambahan ruang mengarah ke atas. Konsep ini cocok untuk lahan terbatas di perkotaan. Contoh, rumah 4 kamar untuk keluarga baru yang berencana memiliki 2 anak. Tahap 1 bisa dibangun lantai satu, dan setelah dana tersedia dan anak tumbuh besar dapat dibangun lantai 2.

Pada lantai satu dibuat 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang duduk, kamar mandi, dapur dan area cuci. Rencanakan lantai dua untuk tambahan kamar tidur dan ruang pelengkap lain. Rencanakan denah secara matang agar tahap pembangunan ke atas berjalan lancar.

  • Struktur utama

Selain denah, pertimbangkan kekuatan struktur. Pondasi harus kuat menopang bangunan 2-3 lantai. Kombinasikan pondasi lajur batu belah dengan pondasi setempat. Pilih jenis pondasi setempat sesuai kedalaman tanah keras.

(Sumber: disini)

Jika tanah keras ada pada permukaan dangkal pilih pondasi dangkal, seperti pondasi tapak atau cakar ayam. Jika tanah keras jauh dari permukaan, pilih jenis pondasi dalam seperti pondasi sumuran atau tiang pancang. Lakukan tes sondir untuk mengetahui daya dukung tanah.

Sloof, kolom struktur, dan balok juga harus dirancang untuk bangunan bertingkat. Seperti kita tahu, ketiga elemen tersebut merupakan struktur utama yang berperan menyalurkan beban bangunan ke pondasi. Dimensi dan pembesian pondasi, sloof, kolom, dan balok, sebaiknya dihitung secara tepat dengan bantuan ahlinya.

  • Atap

Ada beberapa pilihan rencana atap. Pertama, menggunakan rangka dan penutup atap sederhana dan relatif murah jika kelak tidak akan dipakai lagi. Kedua, menggunakan rangka dan penutup atap yang kelak dapat digunakan sebagai atap permanen jika lantai dua sudah dibangun.

(Sumber: disini)

Untuk yang kedua ini, ukurannya harus sesuai dengan atap permanen dan material yang dipilih harus kuat serta tahan lama. Ketiga, menerapkan atap datar (dak beton) yang kelak dapat berfungsi sebagai lantai untuk bangunan di atasnya. Jika demikian, dimensi dan penulangan plat lantai juga harus dihitung secara tepat oleh ahlinya. 

  • Tangga

Ada keuntungannya jika tangga menuju lantai 2 sekaligus dibangun pada tahap 1. Dengan adanya tangga maka atap dak dapat difungsikan --sampai saat dilakukannya pembangunan tahap 2. Misal, digunakan sebagai area jemuran, atau untuk menyimpan sisa material yang masih dapat digunakan (buat atap sementara untuk melindunginya).

Boleh jadi #SahabatJagoBangunan berkesempatan menggarap rumah dengan konsep rumah tumbuh. Diskusikan perencanaan proyek sebaik mungkin dengan klien. Idealnya Anda dapat mengerjakan seluruh tahapan sampai rumah terbangun utuh. Pengerjaan yang dan tepat pasti akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.

Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih lanjut atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil, dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656.

Editor: Damae Wardani