Masuk

Tips

Beranda / Tips
Rampung Kuliah Berkat Upah Kuli Bangunan, Komari Kini Jadi Perangkat Desa dan Bisa Naik Haji
Kisah Inspirasi | 15 Nov 2017

Oleh: Hildatun Najah

Lahir di lingkungan keluarga yang mayoritas menjadi tukang, dari bapak hingga kedua kakak laki-lakinya, Komari kecil sudah tidak asing dengan semen, batu, kayu, pasir, atau peralatan dan material pertukangan lainnya. Tak jarang Komari ikut bapaknya bekerja, memperhatikan bagaimana bapaknya membangun sebuah rumah bersama tukang bangunan lain.

Sudah Nguli Sejak SD Hingga Lulus Kuliah

Hingga pada suatu saat, pria asal Nganjuk ini tertarik untuk mencoba. Ia membantu pekerjaan bapaknya dan sebagai upahnya ia diberi sarapan. Bagi Komari yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar, meski hanya diberi sebungkus nasi, mendapatkan hasil dari pekerjaan yang dilakukannya sangatlah menyenangkan. Bahkan selama SMP Komari memanfaatkan waktu libur untuk menjadi kuli.

(Sumber ilustrasi: disini)

Selepas SMA, Komari melanjutkan pendidikannya di IAIN Surabaya dengan mengambil jurusan Syariah. Komari menumpang di rumah saudara, tepatnya di Desa Tambak Sawah, Waru, Sidoarjo, dan mulai mencoba pekerjaan kuli bangunan yang melayani jasa konstruksi di sekitar rumah saudaranya.

Baca Juga: Kuli Aduk Modal “Dengkul” Ini Sukses Berbisnis dengan Omzet Ratusan Juta

Sebagian besar biaya kuliah, Komari dapatkan dari pekerjaan kuli bangunan. Hal ini pula yang membuat Komari memutuskan untuk menjalani profesi sebagai tukang selepas ia kuliah tahun 1987.

Pagi Ngantor, Sore Nukang

(Komari saat masih menjadi tukang. Sumber: dok. Komari)

Selama menjadi tukang, Komari sangat gemar menabung. Kala itu, gajinya masih Rp. 1.500 per hari. Sedikit demi sedikit ia sisihkan sebagian penghasilannya. Hingga tahun 1991 Komari berhasil membuat rumah dengan uang yang ia kumpulkan dari pekerjaannya sebagai tukang.

Pada 2000 silam, pria yang kini berusia 55 tahun ini ingin mencoba peruntungan lain dengan mendaftar sebagai perangkat desa. Namun kecintaannya pada dunia pertukangan tak lantas ia tinggalkan. Waktu kerja yang hanya setengah hari di kantor desa memberi kesempatan pada bapak tiga anak ini untuk nyambi kerja bangunan.

Berhasil Naik Haji dan Dua Anaknya Jadi Sarjana 

(Kedua anak Komari menjadi Sarjana. Sumber: dok. Komari)

Berkat kerja kerasnya ini, Komari berhasil naik haji pada tahun 2008 lalu. Tak hanya itu, Komari pun bisa menyekolahkan kedua putranya hingga mendapat gelar sarjana.

“Waktu itu saya menjadi tukang di sore hari selepas pekerjaan saya di kantor desa. Penghasilannya saya kumpulkan, ditambah dengan penghasilan dari usaha toko kecil di depan rumah. Alhamdulillah, saya sudah berangkat haji.” ujar Komari.

Meski Sudah Jadi Pemborong, Komari Memilih Perangkat Desa Saja

Di tengah kesibukannya sebagai perangkat desa, beberapa kali Komari juga menjadi pemborong. Ia membawa teman dan sanak saudaranya di kampung untuk membantu pekerjaannya. Bahkan tidak sekali dua kali Komari harus mengerjakan dua bangunan di tempat yang berbeda karena banyaknya permintaan pelanggan.

(Komari saat bertugas sebagai Perangkat Desa. Sumber: dok. Komari)

Namun, mulusnya karir di bidang konstruksi ini harus berakhir karena kesibukannya menjadi perangkat desa sejak 2015. Jam kerjanya yang semakin padat tidak memungkinkannya bekerja lagi sebagai tukang maupun pemborong.

Baca Juga: Ini Tips Sukses Ala #PakJago Agar Tukang Bangunan Bisa Naik "Pangkat"

Pesan Komari untuk Rekan Tukang Bangunan

Meski begitu, Komari mengaku banyak pengalaman yang telah ia dapatkan selama menjadi tukang. Ia belajar untuk lebih percaya diri dan mau belajar dari kesalahan. “Seorang tukang harus bekerja dengan giat dan mau terus belajar.” kata Komari.

Ia juga menyarankan pada rekan sesame tukang untuk selalu percaya dengan kemampuan diri sendiri, agar hasil maksimal bisa dicapai dan tidak mengecewakan pelanggan. Terlebih, ia mengingatkan untuk selalu jujur. “Jangan lupa bahwa kita selalu diawasi oleh Allah, bukan hanya juragan saja,” pesan Komari menutup perbincangan.

Editor: Damae Wardani