Masuk

Tips

Beranda / Tips
Pondasi Setempat, Solusi Terbaik untuk Tanah Bergerak
Konstruksi Sipil | 15 Nov 2019

Oleh: Amin Zainullah

Pada daerah yang kondisi tanahnya bergerak atau lembek, ketika musim hujan tanahnya seolah menyatu, namun ketika musim kemarau akan retak-retak selebar hampir 15 cm. Hal ini dikarenakan air menguap dan butiran tanah tidak ada lekatan. Kedalaman retakan ada yang mencapai 1,50 meter untuk daerah yang ekstrim.

Situasi dan kondisi seperti ini kurang cocok jika dibuat pondasi dari pasangan batu kali, karena untuk mencapai tanah keras dan stabil harus menggali sampai dalam, hingga kira-kira 1,60 meter. Pada kedalaman tersebut diasumsikan mencapai tanah yang “sehat”, yakni sudah stabil da tidak retak ketika musim panas dengan tegangan ijin sekitar 2 kg/cm (0,2 N/mm2).

Kedalaman pondasi akan menyebabkan borosnya biaya karena bertambahnya kebutuhan batu, pasir, dan semen. Bahkan ada yang mencapai 2-3 kali dibanding kebutuhan material pondasi pada tanah yang stabil dengan kedalaman sekitar 80 cm.

Baca Juga: Berapa Biaya Pengerjaan Fasad Berbahan Aluminium Composite Panel (ACP)? Begini Cara Menghitungnya

Masalah pemasangan pondasi batu alam ini juga terjadi di kota-kota besar, meskipun bukan karena alasan tanah yang retak, namun harga batu kali atau batu gunung semakin hari semakin mahal karena sulit didapat. Jika ada pun ternyata biaya angkut sudah mahal.

Solusi terbaik adalah mengganti pondasi lajur (batu alam) yang berbentuk trapesium dengan pondasi setempat/pondasi telapak/footplat. Pondasi ini juga lazim disebut dengan pondasi cakar ayam. Meskipun istilah cakar ayam kurang tepat, namun sudah terlanjur populer dan yang terpenting pengertiannya dapat dipahami dengan benar.

Pondasi setempat untuk bangunan tidak bertingkat, tulangan rangkap diameter 12 mm kolom ukuran 20x20 (Sumber: dok. recovery tsunami Aceh / Jago Bangunan).

Pondasi setempat tidak melulu untuk bangunan tingkat. Untuk bangunan 1 lantai pun juga cocok. Jarak ideal antara satu pondasi ke pondasi lainnya adalah 3-4 meter, dengan ukuran sekitar 80 cm x 80 cm x tebal 20 cm. Bisa juga ukurannya tidak bujur sangkar, tetapi persegi misal 70 cm x 90 cm x tebal 20 cm.

Jika kondisi tanahnya gambut atau berlumpur, maka sebelum dicor, pondasi bagian bawahnya dipasang trucuk dahulu dengan kedalaman antara 2-5 meter melihat kondisi tanah setempat. Trucuk itu bisa digunakan bambu Ori yang tua atau kayu gelam/dolken/kayu ulin dengan jumlah sekitar 9 hingga 16 buah per titik pondasi sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Gampang Banget, Begini Cara Menghitung Kebutuhan Material untuk Pasangan Pondasi dari Batu Alam

Cara ini sangat lazim dilakukan di Kalimantan yang kondisi tanahnya labil. Untuk pemancangan bisa dilakukan secara konvensional menggunakan kerekan dan pemberat, kemudian dinaikkan dan diturunkan agar memukul ujung kayu bagian atasnya, kemudian trucuk masuk ke dalam tanah (dipancang).

Pada bangunan besar dan bertingkat tinggi, trucuk ini digantikan dengan tiang pancang atau borpile. Ada juga yang menyebut dengan teknik Strauss. Bedanya, kalau tiang pancang adalah tiangnya sudah dicetak dulu, baru dipancangkan. Sedangkan borpile maka tanah dibor dahulu, kemudian dipasang rangkaian besi dengan beugel spiral baru dimasukkan adukan beton, serta dipadatkan.

(Sumber: dok. recovery tsunami Aceh / Jago Bangunan).

Pembesian untuk pondasi setempat ini, jika hanya mengantisipasi gaya vertikal, maka cukup dipasang bagian bawahnya saja. Namun, untuk mengantisipasi terjadinya gempa yang mengakibatkan adanya gaya horizontal dan dapat membahayakan pondasi, maka lebih aman dipasang tulangan rangkap.

Jika rumah tinggal baik 1 atau 2 lantai, dapat digunakan besi berdiameter 12 mm, dengan jarak sekitar 10-12 cm. Perlu diingat bahwa selimut beton untuk konstruksi di bawah tanah minimal 3 cm. Jika ukuran cor pondasi 80 cm x 80 cm x 20 cm, maka ukuran tekukan besi bagian luarnya adalah 74 cm x 74 cm x 14 cm.

Untuk lebar 74 cm, jika jaraknya 10 cm, maka jumlah besinya 74 : 10 = 7,4 (dibulatkan 8 buah), ditambah bagian tepi 1 menjadi 9 buah. Dikarenakan 2 arah, maka jumlah besinya = 2 x 9 = 18 buah. Panjang 1 tekukan besi = (2x0,74)+ (2 x0,14) + kait (2x 0,10) = 1.48 + 0,28 + 0,20 = 1.96 meter.

Jika satu pondasi jumlahnya 18 buah, maka kebutuhan panjangnya = 18 x 1,96 = 35,28 meter. jika 1 batang besi dianggap panjang minimal adalah 10,70 meter (termasuk bagian yang terbuang), maka per pondasi memerlukan 35,28 / 10,70 = 3,3 batang.

Baca Juga: Beri Kesan Ruangan Modern dan Mewah Dengan Lantai dan Dinding Batu Granit

Untuk lebih mudahnya, kita hitung dengan 3,3 batang/per titik. Jika bangunan 6 m x 6 m memerlukan pondasi 9 titik, maka keperluan besi = 9 x 3,3 = 29,7 dibulatkan 30 batang.

Selanjutnya, kita beranjak pada penghitungan terkait kolom. Jika rumah tidak lebih dari satu lantai, cukup ukuran 20 x 20 saja. Meski demikian, pondasi ini sebenarnya juga sesuai untuk bangunan bertingkat. Jika memang nantinya ada rencana untuk menambah lantai, maka pasanglah kolom dengan ukuran cukup besar, yakni 20 x 30, dengan besi minimal 12 mm berjumlah 6 buah. Jika dananya cukup, bisa dipasang besi ulir D-13 berjumlah 6 buah, sehingga konstruksinya akan sangat kuat.

Memang beugel bisa saja menggunakan besi 6 mm dengan jarak 15 cm. Namun untuk bangunan bertingkat lebih aman jika menggunakan besi diameter 8 mm dan jarak sekitar 17 cm, atau maksimal 20 cm.

Untuk sloof, karena sloofnya menggantung, maka pasang sloof dengan dimensi agak tinggi. Yakni antara 30 - 35 cm dengan lebar 15-20 cm, sehingga cukup kaku ketika dibebani dinding batako, bata merah, atau bata ringan. Untuk besi, sebaiknya gunakan besi 12 mm sebanyak 6 buah, dengan beugel sama dengan kolom, yaitu diameter 8 mm jarak 17 cm.


Sloof gantung, ukuran 20x30 tulangan pokok diameter 12 berjumlah 6 buah atau besi ulir D-13 (Sumber: dok. recovery tsunami Aceh / Jago Bangunan).

Kolom dan sloof tanpa pasangan batu kali di bawahnya, sangat kaku dan siap menahan beban tembok di atasnya (Sumber: dok. recovery tsunami Aceh / Jago Bangunan).

Baca Juga: 5 Inspirasi Desain Rumah Modern Minimalis 1 Lantai Dengan Bentuk Atap Pelana, Elegan Banget! #TanyaPakJago

=====
Mau konsultasi gatis seputar konstruksi, desain bangunan, atau RAB? #TanyaPakJago saja.

Pak Jago nantikan konsultasi Anda melalui call center 0800 108 8888 (bebas pulsa), kotak pesan di Fanpage Jago Bangunan, atau menu konsultasi di website jagobangunan.com.
=====

Editor: Damae Wardani