Masuk

Tips

Beranda / Tips
Pastikan Anda Sudah Tahu Hal Ini, Sebelum Membuat Pondasi untuk Rumah 2 Lantai
Konstruksi Sipil | 22 Nov 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Pondasi untuk rumah dua lantai harus lebih kuat daripada rumah satu lantai. Hal ini tidak mengherankan, mengingat beban yang ditopang juga jauh lebih berat. Kekokohan pondasi menentukan kemampuannya menopang seluruh beban bangunan sehingga tidak goyah apalagi roboh.

Berikut ini #PakJago akan mengulas jenis pondasi yang sesuai untuk rumah 2 lantai dan hal-hal yang perlu diketahui sebelum menentukannya.

Syarat Penentuan Pondasi

Penentuan jenis, bentuk, dan dimensi pondasi untuk rumah dua lantai harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal berikut.

• Beban yang harus ditopang pondasi

Meliputi beban mati (beban sendiri dan konstruksi bangunan yang bersifat tetap), beban hidup (penghuni, perabot, dan lain-lain yang bersifat tak tetap), beban gempa, beban angin, dan sebagainya. Material yang lebih ringan membuat bobot bangunan juga lebih ringan.

(Sumber: disini)

Misalnya, rumah papan tentu lebih ringan daripada rumah berdinding bata dengan dak beton. Bangunan dengan kombinasi rangka atap kayu dan genteng tanah liat tentu lebih berat daripada bangunan yang memakai rangka baja ringan dan genteng metal.

Baca Juga: Material, Alat, dan Teknik Pengecoran Balok yang Wajib Diketahui Tukang Bangunan

• Jenis dan kondisi tanah

Penyelidikan tanah harus dilakukan lebih dahulu, karena ada banyak jenis tanah dengan kepadatan dan daya dukung berbeda-beda. Ada tanah berbatu yang keras, tanah berpasir, tanah liat yang lunak, dan sebagainya. Kondisi tanah pun beragam, ada yang stabil ada pula yang labil.

Pondasi yang cocok untuk jenis tanah keras belum tentu tepat diterapkan pada tanah lunak. Jadi, penerapan jenis pondasi disesuaikan jenis dan kondisi tanah di mana rumah akan dibangun. Lakukan penyelidikan tanah (soundir) pada beberapa titik, terutama pada titik pemasangan pondasi.

• Kondisi lingkungan

Kondisi lingkungan di sekeliling lahan maupun wilayah secara lebih luas perlu diketahui. Misalnya, lingkungan setempat rawan gempa maka harus diterapkan pondasi yang dapat menahan gaya-gaya akibat goncangan gempa.

Pondasi untuk Rumah 2 Lantai

(Sumber: disini)

Berikut ini beberapa pilihan jenis pondasi yang dapat diterapkan untuk rumah 2 lantai.

• Pondasi menerus batu kali

Jenis pondasi dangkal ini hanya cocok diterapkan jika tanah keras berada tidak jauh dari permukaan tanah (≤1 m). Penampang pondasi menerus biasanya berbentuk trapesium, dengan tinggi = lebar bawah, dan menyatu dengan sloof.

Pondasi yang juga diterapkan untuk bangunan satu lantai ini, bisa dipakai untuk bangunan 2 lantai namun yang relatif sederhana. Jenis pondasi ini bisa juga diganti dengan pelat beton lajur.

• Pondasi tapak (foot plate)

Jenis pondasi setempat ini, cocok diterapkan pada tanah yang padat ataupun relatif lembek. Pondasi ini dibuat dari beton bertulang berbentuk tapak persegi dengan tiang yang terhubung dengan kolom utama (struktural).

(Sumber: disini)

Pondasi dengan kedalaman sekitar 1-3 meter ini mampu menahan beban bangunan 2-3 lantai. Jika perlu, pada kondisi tanah tertentu, pondasi tapak dapat dikombinasikan dengan pondasi menerus batu kali untuk mendukungnya.

• Pondasi cakar ayam

Pondasi ini memiliki daya dukung relatif kuat dan mampu menopang beban bangunan 2 lantai pada beragam jenis dan kondisi tanah. Terlebih jika rumah berada di daerah labil, seperti perbukitan, atau pada struktur tanah yang relatif lunak.

Pondasi ini terdiri dari plat beton bertulang, tebal ±10-12 cm, menyatu dengan pipa-pipa beton bertulang pada bagian bawahnya. Struktur demikian akan menjaga kestabilan struktur bangunan dan mengantisipasi terjadinya penurunan.

• Pondasi tiang (sumuran, bore pile, atau strauss pile)

Jika posisi tanah keras cukup dalam (6-30 meter), jenis pondasi yang cocok adalah pondasi tiang (tiang pancang, sumuran, dan bore pile atau strauss pile). Prinsip pondasi ini adalah menanam tiang beton ke dalam tanah.

(Sumber: disini)

Untuk rumah tinggal, pilihan yang pas adalah sumuran dan bore pile atau strauss pile. Pondasi sumuran dibuat seperti menggali sumur lalu dicor beton. Sementara, bore pile dan strauss pile, cara pembuatannya sama yaitu tanah dilubangi dengan bor, dipasangi tulangan besi dan bekisting pipa, lalu dicor beton.

Baca Juga: Begini Aturan dan Tahapan yang Harus Anda Tahu Sebelum Membuat Pagar dan Selokan

Bedanya proses penggalian bore pile dengan mesin bor, sedangkan strauss pile dengan bor manual. Selain pengerjaannya lebih cepat, diameter dan kedalaman bore pile juga melebihi strauss pile yang hanya bisa mencapai diameter 30 cm dan kedalaman <10 m.

Sayangnya, mesin diesel pada bore pile menimbulkan bising. Namun, pengeboran tanah tidak menimbulkan getaran yang mengganggu seperti pada pondasi tiang pancang.

Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu di artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani