Masuk

Tips

Beranda / Tips
Nekad Keluar Sekolah Demi Nguli, Pria Ini Sukses Jadi Tukang Bangunan di Perantauan
Kisah Inspirasi | 09 Feb 2018

Oleh: Hildatun Najah

Gejolak masa muda mungkin pernah dirasakan banyak orang, termasuk Seger, Duta Tukang Semen Gresik untuk Kabupaten Jepara. Di masa mudanya, ia nekad keluar dari sekolah yang dipilihkan orang tua dan pergi ke Jakarta untuk jadi kuli bangunan. Perantauannya berlanjut ke Jambi, Palembang, dan Kalimantan Utara yang hingga kini sudah berlangsung selama 30 tahun.

Keluar dari SMA, Seger Memilih Jadi Kuli Bangunan

Perbedaan pemikiran dan keinginan membuat Seger memutuskan untuk keluar dari SMA tahun 1987. Ia tak sanggup lagi mengayuh sepeda sejauh 15 km, menghabiskan banyak waktunya di jalan untuk mencari ilmu di tempat yang tidak diinginkannya. Ia lebih memilih ikut teman-teman bermainnya ke Jakarta, mencoba menjadi kuli bangunan di proyek perumahan. Sejak itulah kisahnya di dunia konstruksi dimulai.

 (Sumber: dok. Seger)

Alih-alih mengeluh dengan pilihan hidup yang memaksanya banting tulang, Seger justru menikmati pekerjaan itu lantaran ia bisa mendapatkan banyak ilmu pertukangan. Tidak hanya memasang bata, ia juga belajar pembesian, membuat plester, acian, hingga motif. Meski gaji yang diterimanya hanya naik 400 rupiah dari 2100 di tahun kedua ia bekerja kala itu, namun ada kepuasan tersendiri yang dirasakan Seger. Genap dua tahun bekerja, Seger memutuskan kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan sekolahnya.

Baca Juga: Merasa Tak Cukup Bermodal Sertifikat Tukang, Pria Ini Pilih Nguli Dulu Sebelum Melesat Jadi Mandor

Kala itu, ia berkeinginan untuk medapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan meneruskan pendidikannya yang tertunda. Meski ia tetap lebih suka menghabiskan waktu libur semesternya untuk bekerja di proyek dibanding berleha-leha di rumah. Pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan selama nguli, menjadi modal awal untuk mencoba profesi tukang bangunan. Setiap musim libur sekolah tiba, Seger menetap di Jakarta untuk jadi tukang di berbagai proyek bangunan. Pekerjaan itu ia tekuni hingga lulus sekolah.

Namun ternyata, keinginan untuk bekerja di tempat yang lebih baik itu harus ditelan bulat-bulat. Setelah mencoba menjadi sales selama sebulan setelah lulus, Seger memutuskan kembali ke proyek di Jakarta, berkat saran seorang teman. “Ya kita terus sharing dengan teman, meminta pendapat. Lalu ada saran yang membuat saya tertarik, katanya tekuni saja apa yang sudah ditekuni. Tidak usah menekuni bidang lain yang belum diketahui.” kenang Seger.

Kemantapan hati Seger untuk menekuni bidang pertukangan juga didorong oleh hasil dari program Edutrain Semen Gresik pada 2010 silam di Jepara. Wujud kepedulian Semen Gresik melalui pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan ini membuat Seger makin percaya diri untuk menggarap berbagai proyek di Ibu Kota. Bersama teman-teman seperjuangan dari kampung halaman, Seger bertahan di Jakarta hingga 2012.

Mengejar Proyek di Berbagai Daerah

(Sumber: dok. Seger)

Baca Juga: Bertekad Membangun Desa Bersama Tukang Bangunan, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Hari Itu Juga

Setelah menghabiskan 20 tahun waktunya di Jakarta, Seger melanjutkan perantauan ke Sumatra. Tepatnya di kota Jambi dan Palembang. Bersama teman-teman, ia rampungkan satu proyek ke proyek yang lain. Meski begitu, ia tidak menetap di Sumatra. Selama tiga tahun, ia sering pulang pergi ke kampung halamannya di Jepara.

Tidak hanya di Sumatra, Seger juga berkesempatan mengerjakan beberapa proyek di Kalimantan. Sejak 2015, ia masih sering bolak-balik Jepara-Kalimantan untuk mengerjakan beberapa proyek, seperti perumahan, sekolah, gor, hingga gereja. Yang berbeda, kini ia tidak lagi mengikuti teman sejawatnya, melainkan menjadi karyawan sebuah perusahaan konstruksi untuk ditempatkan di Kalimantan Utara.

Saking tak bisanya diam di rumah, Seger bahkan tetap menerima tawaran pekerjaan pertukangan di sela waktu kepulangannya di rumah. Lumayan, untuk menambah tabungan guna menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. “Yang penting ada biaya untuk hidup sehari-hari, anak sekolah, memfasilitasi anak-anak, (dan) yang penting kehidupan (kami) tidak tertinggal dari orang lain,” ungkap Seger.

Ulet dan Terampil, Resep Sukses Ala Seger

Bagi Seger, keuletan dan keterampilan seorang tukang menjadi modal utama dalam pekerjaan di bidang konstruksi. Jika seorang tukang rajin, ulet dan terampil, maka ia bisa membuat klien puas seklaigus mengambil hati kliennya agar bisa direkomendasikan untuk proyek berikutnya. Karena itulah, hingga kini Seger tak pernah mencari pekerjaan. Sebaliknya, banyak klien rela mengantri hanya demi proyeknya dikerjakan oleh tangan terampil seorang Seger.

Baca Juga: Tak Disangka, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Berkat Ketulusannya Mengajari Pemuda Putus Pekolah

“Tekunilah pekerjaan Anda, insha-Allah akan membawa berkah.” kata Seger mengakhiri perbincangan.

Editor: Damae Wardani