Masuk

Tips

Beranda / Tips
Nasib Memang Tak Bisa Ditebak, Kuli Bangunan yang Hanya Lulus SMP Ini Berhasil Jadi PNS
Kisah Inspirasi | 23 Nov 2017

Oleh: Hildatun Najah

Pepatah bilang, “Kitalah yang menciptakan setiap kesempatan dalam hidup dan bukan orang lain.”, tampaknya berlaku dalam kehidupan Kusno. Langkahnya bermula dari pekerja serabutan, penjaga toko, kuli bangunan, hingga kini 7 tahun sudah Kusno menjadi PNS. Bagaimana kisahnya?

Menikah Dulu, Jadi Kuli Kemudian

Setelah lulus SMP, Kusno terpaksa berhenti sekolah karena tak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Kusno kesulitan mencari pekerjaan karena ia hanya memiliki ijazah SMP. Ini membuat Kusno bekerja serabutan selama 3 tahun. Pekerjaan serabutan itu mengantarkan Kusno pada dunia pertukangan.

(Sumber: dok. Kusno)

Beruntung, Kusno mendapatkan kesempatan bekerja di toko sepatu pada 1987. Bahkan Kusno diminta untuk mengelola cabang toko sepatu di beberapa kota, seperti Cilacap, Tegal dan Purwokerto. Inilah yang membuat Kusno hidup berpindah sesuai dengan perintah bosnya. Lima tahun berselang, Kusno menikah dengan Kusmayanti dan dikarunia seorang putri setahun kemudian.

Baca Juga: Rasidi, Mantan Kuli yang Sukses Jadi Wakil Kepala Sekolah dan Pengusaha Mangga dengan Omzet Ratusan Juta

Sayangnya di tahun keenam, toko sepatu di Purwokerto yang saat itu sedang Kusno kelola tidak dapat berjalan dengan baik dan membuat toko ditutup. Kondisi tersebut memaksa pria kelahiran 18 Desember 1967 ini, memutuskan untuk keluar karena tidak ingin dipindahtugaskan ke gudang dengan gaji rendah. Sejak itulah karir Kusno sebagai kuli bangunan dimulai.

Pagi Nukang, Malam Jaga

(Sumber: dok. Kusno)

Kehidupan kuli, Kusno jalani selama dua tahun. Bapak dua anak ini akhirnya berhasil menjadi tukang pada 1995 dan pertama mengerjakan proyek di kantor Inspektorat. Bersama dengan itu, Kusno mulai mencari tambahan karena gaji tukang yang saat itu masih 5000 rupiah perhari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

Beruntung ada tawaran untuk menjadi petugas jaga malam di tempat ia bekerja sebagai tukang. Tak  mau menyiakan kesempatan, tawaran itu Kusno terima. Pekerjaan ganda ia jalani selama 5 tahun.

Pada 2000 silam, Kusno berpindah tugas malam ke kantor dinas. Di tahun yang sama, pria kelahiran Purwokerto ini juga mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan yang diselenggarakan oleh Semen Gresik.

Nasib Baik Terus Berpihak

(Sumber: dok. Kusno)

Setelah pelatihan, tawaran pun mengalir deras. Sayangnya, pekerjaan di kantor dinas menuntut Kusno untuk berjaga siang dan malam. Hal ini yang membuat pekerjaannya sebagai tukang hanya bisa ia lakukan pada Sabtu dan Minggu saja.

Hingga pada 2006, Kusno mendapat kesempatan kali kedua (setelah sebelumnya ditolak karena kala itu usianya mencapai batas), untuk mengajukan diri menjadi PNS berdasar surat Kementrian Dalam Negeri. Namun kali ini nasib berpihak pada Kusno, ia berhasil masuk dan mulai mengikuti pelatihan CPNS pada tahun 2008.

Kini Kusno berkantor di DPPKBP3A Kabupaten Banyumas, Jl. Dr. Soeparno No. 24. Uniknya, tahun ini ia baru saja merampungkan pendidikan setara SMA, jadi saat itu ia nekat hanya bermodal ijazah SMP.

Liku Perjuangan Kusno Selama Menjadi Tukang

(Sumber: dok. Kusno)

Pria yang kini menetap di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, bersama keluarganya ini mengaku mendapat banyak pengalaman yang tidak mampu ia lupakan kala menjadi tukang. Beberapa kali ia terjatuh dari ketinggian yang membuat urat kakinya membengkak dan mengakibatkan Kusno tidak dapat berjaalan selama sebulan. Tidak hanya itu, kaki Kusno juga pernah bengkak karena tertimbun semen saat melakukan pengecoran sedari siang hingga malam hari.

Baca Juga: Disiplin dan Jujur, Kunci Sukses Tukang Batu yang Kini Jadi Pemborong Beromzet 20 Juta

Meski sosok ayah bagi Evi dan Anggi yang berusia 50 tahun ini sudah tak lagi menjadi tukang sejak tahun 2008, Kusno menganggap pekerjaan Kusno dulu yang ikut mengantarkannya hingga saat ini. Ia belajar artinya bekerja dengan baik, maksimal dan dari hati. Ditambah dengan kejujuran, Kusno, mampu membuat pelanggan puas, bahkan direkomendasikan kepada orang lain.

“Konstruksi sekarang lebih maju, pemborong (harus) lebih bertanggung jawab. Jika tidak begitu, tukang yang menjadi korban.” kata Kusno menyuarakan harapannya. Ia juga berpesan untuk rekan sesama tukang agar selalu jujur dalam bekerja, tidak asal garap, dikerjakan sebaik-baiknya, dan dilakukan  dari hati. Semata agar hasil bangunan sesuai keinginan pelanggan dan tidak mengecewakan.

Editor: Damae Wardani