Masuk

Tips

Beranda / Tips
Merasa Tak Cukup Bermodal Sertifikat Tukang, Pria Ini Pilih Nguli Dulu Sebelum Melesat Jadi Mandor
Kisah Inspirasi | 24 Jan 2018

Oleh: Hildatun Najah

Jika sebagian orang memilih jalan yang mudah untuk meraih sukses, maka berbeda dengan Sukisno, Duta Tukang Semen Gresik dari Gunung Kidul. Pria yang sudah hampir 18 tahun menekuni bidang konstruksi ini lebih memilih menjadi kuli bangunan dulu meski sertifikat tukang sudah berada dalam genggaman.

Bimbang Saat Masuk SMK: Jurusan Teknik Bangunan vs Pertanian

 (Sumber: dok. Sukisno)

Kisah Sukisno di bidang konstruksi dimulai sejak ia memastikan pilihan untuk masuk ke SMK Jurusan Teknik Bangunan. Kala itu, sedang digalakkan kampanye SMK, menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Kebetulan, SMK tempat Sukisno menimba ilmu itu hanya memiliki dua jurusan: teknik bangunan dan pertanian.

Berkat pemikiran matang serta saran dari berbagai pihak, Sukisno memutuskan untuk terjun ke dunia konstruksi. Keadaan masyarakat yang kala itu sedang dilanda krisis, ditambah banyaknya karyawan pabrik yang di PHK dan keluar pabrik tanpa ketrampilan, semakin memantapkan langkah Sukisno mengambil jurusan teknik bangunan. Baginya, pekerjaan di bidang konstruksi lebih menjamin kehidupannya, karena pembangunan itu tidak pernah berhenti. Ia berpikir panjang mengenai kapasitas pekerjaan teknik bangunan.

“Pembangunan adalah hal yang terus dilakukan sepanjang hidup mereka. Jika saya memiliki ketrampilan disana, selama saya masih mau, mampu, dan sehat berarti saya masih dibutuhkan oleh orang banyak.” kata pria yang tinggal di Gunungan, Banglor, Klaten, Jawa Tengah ini.

Ingin Cari Pengalaman, Sukisno Pilih Jadi Kuli Dulu Meski Sudah Punya Sertifikat Tukang

 (Sumber: dok. Sukisno)

Lulus dari SMK Jurusan Teknik Bangunan pada tahun 2000 dengan mengantongi sertifikat tukang bangunan, tak membuat Sukisno besar kepala. Ia merasa belum memiliki cukup ilmu dan pengalaman untuk menjadi seorang tukang dan memilih mulai dari nol untuk jadi kuli bangunan. Proyek pertama di Klaten, Jawa Tengah, yang ia kerjakan ternyata memaksa Sukisno untuk sejenak berpisah dari keluarga.

Berbekal ilmu dari sekolah dan tekad yang besar untuk mendapat banyak pengalaman, membuat Sukisno tak butuh waktu lama untuk naik pangkat. Hanya sekitar dua tahun berselang, ia diberi kepercayaan oleh mandor proyek yang kala itu juga menjadi bosnya, untuk latihan jadi tukang bangunan. Tentu kesempatan ini tak disia-siakan Sukisno.

Baca Juga: Meski Hidup Sederhana, Ini Balasan Untuk Seorang Kepala Tukang yang Tak Lelah Menabung Kebaikan

Tepat setelah proyek selesai, Sukisno memilih pulang kampung dan memantapkan niat untuk jadi tukang bangunan di desanya. Selain bisa berkumpul dengan keluarga, perbedaan gaji menjadi alasan utama Sukisno untuk tidak merantau lagi dan berhenti jadi kuli. Saat jadi kuli, gaji yang diterima Sukisno berkisar antara 8.500 hingga 12 ribu. Sementara saat menjadi tukang di kampung halamannya, bayaran yang ia terima naik hingga 50 ribu per hari.

Pria yang sangat menghargai makna sebuah proses dam perjuangan itu sempat mengikuti pelatihan Edutrain yang diadakan oleh Semen Gresik di Solo pada 2012 silam. Berkat kesungguhan hati untuk melakukan yang terbaik selama pelatihan dan sertifikasi, Sukisno berhasil menjadi Duta Tukang Bangunan Semen Gresik wilayah Solo. Keberhasilan ini juga memberinya kesempatan untuk mengikuti Jambore Tukang Bangunan Nasional yang saat itu diadakan di Jombang. Jambore yang mempertemukan tukang bangunan dari seluruh Indonesia ini membuatnya bisa belajar lebih banyak mengenai dunia konstruksi, juga menyambung tali persaudaraan dengan tukang dari berbagai daerah lain.

Tukang Bangunan Juga Harus Melek Teknologi

 (Sumber: dok. Sukisno)

Meski kini status pekerjaan Sukisno telah meningkat menjadi seorang mandor, ia tidak pernah mau berhenti belajar. Melalui teknologi yang terus berkembang, Sukisno terus berusaha memperoleh informasi dan ilmu-ilmu terbaru di dunia konstruksi. Baginya, terus belajar adalah salah satu kunci yang membuatnya bisa berada di posisinya saat ini.

Ia juga sangat getol mengajak rekan-rekannya agar tidak ketinggalan teknologi. Tukang yang tidak mengerti teknologi, menurut Sukisno, akan tersingkir oleh zaman yang terus berubah.
“Teknologi itu yang utama. Semuanya membutuhkan teori, dan teknologi yang mengantarkan kesana. Untuk mengetahui teknologi yang lebih maju kita harus mencari tahu. Sekarang kita di lapangan, kebutuhan sudah sesuai dengan (tuntutan) zaman.” terang Sukisno.

Baca Juga: Bertekad Membangun Desa Bersama Tukang Bangunan, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Hari Itu Juga

Selain dari pelatihan dan browsing dari internet, pria yang lahir di Gunung Kidul, 11 Desember 1980 itu juga biasa mendapatkan ilmu pertukangan dari temannya yang berprofesi sebagai guru teknik pertukangan di STM. Keduanya sering berdiskusi mengenai teknik-teknik bangunan hingga teknologi pembangunan terbaru, saling berbagi informasi dan referensi.

 (Sumber: dok. Sukisno)

Ilmu dan pengalaman Sukisno selama ini membuatnya beberapa kali ia dipercaya mengawal proyek konstruksi. Selama proses pengerjaan ini tentu memberi Sukisno untuk berinteraksi dengan tukang bangunan lainnya. Tak jarang ia berbagi pengetahuan dan pengalaman pada tukang lain di sela perbincangan.

Namun, tak semua niat baiknya diterima dengan baik. Ada saja yang tidak berkenan, terutama tukang yang masih baru. “Membuat bimbingan menjadi sulit, terutama dalam konstruksi beton,” jawab Sukisno saat ditanya pengalaman apa yang tidak dapat dilupakannya.

Tekun dan Pantang Menyerah, Resep Sukses Sukisno

Hasil karya Sukisno. (Sumber: dok. Sukisno)

Selain dengan terus menggali ilmu, bagi Sukisno, ketekunan, keuletan dan rasa pantang menyerah adalah modal utama yang membuatnya sukses sekarang. Ditambah kepasrahan atas keputusan Tuhan, membuat Sukisno mampu bertahan di tengah berbagai tantangan hidup.

Bagi pria yang hobi mengoleksi keris ini, pencapaian terbesarnya ialah ketika pemilik rumah puas atas pekerjaannya. Pembangunan yang berhasil membuktikan perencanaan dan proses pembangunan memang sudah direncanakan dengan matang. Ini juga membuktikan kualitas dan kapasitasnya sebagai seorang tukang seklaigus mandor.

Baca Juga: Wow! Ternyata Ini yang Terjadi pada Seorang Tukang Bangunan Setelah Istrinya Mimpi Kejatuhan Bulan

Ketika ditanya apa harapan yang masih ingin ia raih di masa depan, Sukisno menjawab, “Hanya ingin terus bisa mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya untuk kemaslahatan orang banyak.”. Menjadi pekerja konstruksi yang bertanggung jawab dan mampu menunjukkan kualitas yang ia dapatkan dari berbagai pengalaman juga ilmu yang tanpa lelah ia cari.

“Jadi tukang itu harus terus belajar, jangan berhenti mencari tahu. Jangan menutup diri dari teknologi. Jika ada kesempatan ikut pelatihan, ikuti saja. Apapun jenis pelatihannya. Jalani profesi dengan sepenuh hati.”, pesan Sukisno untuk rekan sesama pekerja konstruksi. Ia juga meyakinkan bahwa, apa pun profesinya, jika mau tekun dan sungguh-sungguh, hasilnya akan cukup untuk bekal hidup.***

Editor: Damae Wardani