Masuk

Tips

Beranda / Tips
Mencegah Kerusakan pada Beton
Konstruksi Sipil | 31 Jan 2021

Beton banyak digemari untuk berbagai kebutuhan konstruksi karena sifatnya yang kuat dan tahan lama. Namun, beton yang tidak dibuat dengan prosedur yang semestinya akan mudah mengalami kerusakan.

Untuk mencegahnya, kita harus mengenal jenis kerusakan yang ada dan apa saja penyebabnya. Sehingga kita bisa melakukan langkah-langkah pencegahan untuk mengantisipasi kerusakan.

Nah sekarang, mari kita bahas apa saja penyebab kerusakan beton yang paling sering ditemui serta bagaimana langkah pencegahannya? Berikut penjelasannya. 

 

  

1. Tinggi Jatuh Pengecoran

Penyebab kerusakan beton yang paling sering ditemui adalah tinggi jatuh pengecoran yang jaraknya terlalu besar. Bila mengabaikan jarak maksimum yang direkomendasikan, adonan beton yang terdiri dari campuran semen dan batu kerikil menjadi tidak rata.

Untuk mencegahnya, disarankan tinggi jatuh pengecoran maksimal 1,5 meter. Dengan jarak maksimal 1,5 meter, pengecoran dilakukan lapis demi lapis sehingga campuran semen dan batu kerikil dapat lebih rata. Tebal tiap lapis juga tidak boleh lebih panjang dari batang mesin vibrator, yakni tidak lebih dari 50 cm.

2. Kesalahan Penggunaan Vibrator

Vibrator digunakan untuk memadatkan adonan beton yang telah dimasukkan ke dalam bekisting. Seperti namanya, mesin ini dapat menghasilkan getaran di bagian kepala vibrator. Sehingga saat kepala vibrator dimasukkan ke adonan beton, adonannya jadi lebih padat dan rata dalam bekisting. Ini karena udara yang terjebak dalam adonan dapat keluar. 

Beton akan cepat mengalami kerusakan apabila proses pemadatan beton menggunakan mesin vibrator tidak dilakukan dengan benar. Pekerja konstruksi sebaiknya menggunakan vibrator sesuai dengan SNI 03-3976, yang secara ringkas sebagai berikut : 

  • Adonan beton telah dituang ke dalam bekisting.
  • Mesin vibrator telah diposisikan di dekat bekisting.
  • Jaga jarak selang agar tidak terlalu jauh dari adonan beton yang akan digetar.
  • Hidupkan mesin vibrator, masukkan bagian kepala ke dalam adonan beton
  • Getarkan kepala vibrator pada 1 area sekitar 10 detik.
  • Pindahkan ke area lain yang jaraknya sekitar 30-40 cm dari area sebelumnya.
  • Pastikan kepala vibrator tidak menyentuh langsung bekisting.
  • Jarak kepala vibrator dengan sisi bekisting yang dianjurkan adalah 10-12 cm.

 

3. Kesalahan Pembesian

Rangka besi untuk beton sangat penting dalam menentukan ketahanan beton. Jika rangka besi disusun tidak sesuai standar, beton akan cepat rusak. Oleh karenanya, pelaksana dan pengawas perlu melakukan pemeriksaan sebelum tulang besi dipasang menjadi bekisting. Selain itu, desain tulang besi dan tahu beton juga harus sesuai dengan peraturan SNI.

Standar desain tulang besi yang sesuai dengan SNI adalah sebagai berikut.

 

 

4. Pelepasan Bekisting

Agar adonan beton benar-benar kering sempurna, sebaiknya pelepasan bekisting dilakukan ketika beton mencapai usia minimal 1 bulan atau sekitar 28 hari. Bekisting yang dilepas saat usia beton belum 1 bulan akan dapat berakibat retak dan lepasnya tulangan besi, sehingga beton tidak lagi menjadi material konstruksi yang kuat dan tahan lama.

 

Konsultasi Jago Bangunan

Solusi paling tepat untuk mencegah beton agar tidak mudah rusak adalah dengan memastikan proses pembuatan beton telah dilakukan sesuai standar prosedur yang ada. Jika Anda menggunakan beton precast, pastikan juga bahwa produsen beton tersebut memang memiliki kualitas bagus.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar beton atau hal konstruksi lain, silahkan langsung menghubungi kami melalui website Jago Bangunan dan Facebook Jago Bangunan.