Masuk

Tips

Beranda / Tips
Lakukan 6 Cara Ini Untuk Membuat Bekisting Kokoh dan Anti Ambrol
Konstruksi Sipil | 06 Jan 2018

Oleh: Dwi Klarasari

Beton yang keras dengan bentuk tertentu sesuai keinginan dihasilkan dari campuran beton plastis. Sarana untuk menampung beton plastis saat dituang (dicor) dan berproses mengeras menjadi bentuk tertentu dinamakan bekisting atau cetakan beton. Bekisting bersifat sementara karena akan dibongkar bila beton sudah kering dan mampu menahan bebannya.

Bekisting menjadi kebutuhan mutlak dalam konstruksi beton konvensional yang dikerjakan di lapangan. Meskipun bersifat nonpermanen, bekisting harus berkualitas serta memenuhi syarat kestabilan, kekakuan, kekuatan, kekokohan, dan kemanan. Terkait hal ini #PakJago ingin berbagi seluk-beluk bekisting dan tips agar bekisting mampu menahan beban tanpa risiko ambrol.

Bagian-Bagian dan Material Bekisting

 (Sumber: disini)

Bentuk dan dimensi bekisting disesuaikan dengan bentuk dan dimensi konstruksi beton yang direncanakan —sloof, balok, kolom, pelat lantai, tangga, dan berbagai konstruksi beton lain. Seperti halnya cetakan, salah satu sisi bekisting—biasanya bagian atas—terbuka (berlubang) untuk menuangkan adukan beton. Pada kosntruksi beton bertulang, bekisting melingkupi baja tulangan yang dirangkai menurut aturan tertentu.

Baca Juga: Yakin Konstruksi Balok Beton Anda Kuat? Cek Dulu 3 Ciri-Ciri Ini

Secara umum, bekisting terdiri dari cetakan (papan kayu, pelat baja), penjepit atau klem, penahan cetakan, dan juga gelagar (pada balok atau pelat beton) penahan bekisting yang bertumpu pada tiang perancah. Perancah terdiri dari tiang perancah, balok penahan, baji, klem, dan landasan.

Bekisting konvensional umumnya terbuat dari kayu. Untuk cetakannya dapat digunakan papan kayu atau multipleks dilengkapi kayu usuk sebagai penahan. Sementara untuk perancah atau penyangga bekisting dapat digunakan balok kayu, kayu dolken (bulat utuh), atau bambu. Bekisting kayu atau multipleks kebanyakan sekali pakai. Kalau terpaksa akan dipakai ulang harus dibersihkan.

Bekisting yang dapat dipakai berkali-kali berbahan pelat baja, aluminium). Sementara perancahnya terbuat dari batang atau pipa-pipa logam berkonsep knock down. Di lapangan, material kayu dan baja sering dikombinasikan menyesuaikan kebutuhan.

Apa Penyebab Runtuhnya Bekisting?

 (Sumber: disini)

Sebagaimana konstruksi bangunan lain, bekisting dan tiang perancah bekisting juga memiliki risiko runtuh. Apa saja penyebabnya? Berikut beberapa sebab yang dapat memicu ambruknya bekisting atau perancahnya.

 Perancah tidak didirikan di atas permukaan tanah atau bidang yang rata. Akibatnya posisi tiang perancah cenderung miring atau tidak stabil.

 Material perancah tidak memenuhi syarat kekuatan minimal untuk mendukung beban/muatan bekisting saat beton dicor —termasuk menahan bobot para pekerja yang melakukan pemadatan— atau setelah beton menjadi keras.

 Pengikatan antarbagian bekisting atau perancah bekisting kurang kuat, sehingga lepas atau longgar saat terdampak getaran. Misalnya oleh getaran vibrator saat pemadatan beton.

 Kualitas material bekisting atau perancah bekisting kurang bagus. Misalnya kayu untuk tiang perancah dalam kondisi rapuh atau keropos.

 Terjadi gangguan luar yang tidak mampu ditahan oleh bekisting dan tiang-tiang perancah, misalnya getaran gempa atau tumbukan benda keras.

Tips Membuat Bekisting yang Kokoh

 (Sumber: disini)

Proses pembuatan bekisting harus teliti dan minim kesalahan terutama berkaitan dengan bentuk, dimensi, dan kekuatannya. Pembuatan bekisting untuk konstruksi apa pun pada prinsipnya sama. Untuk menghindari risiko ambrol, setidaknya bekisting harus memenuhi syarat kestabilan, kekakuan, kekuatan, kekokohan, dan keamanan.

 Perancah harus didirikan di atas landasan atau bidang lantai yang rata sehingga memenuhi syarat kestabilan. Bekisting tidak mengalami perubahan bentuk dan tiang perancah dapat berdiri stabil (tidak mudah goyah). Alasi tiang dengan landasan berupa papan yang rata atau sejenisnya Jika konstruksi beton berada tepat di atas tanah, alih-alih menggunakan bekisting buatlah lantai kerja dari beton rabat sebagai alas.

 Penuhi syarat kekakuan dengan memastikan sambungan atau ikatan antarbekisting dan/atau antarperancah benar-benar kuat dan tidak berpotensi mengalami pergeseran atau deformasi (perubahan bentuk) saat menahan beban. Jika perlu, ditambahkan klem penguat.

 Perhitungkan jumlah perancah bekisting agar kuat menahan beban material (beton) sekaligus bobot para tukang yang bekerja di atasnya. Syarat keamanan juga harus terpenuhi.

 (Sumber: disini)

 Berikan tiang penahan diagonal yang cukup stabil pada bekisting vertikal, misalnya bekisting untuk kolom, beton (shear wall), dan sebagainya.

 Meskipun bekisting adalah struktur nonpermanen, gunakan material berkualitas agar syarat kekuatan terpenuhi. Pastikan papan kayu untuk bekisting dan balok atau bambu untuk tiang tidak rapuh, keropos, ataupun mudah patah. Demikian pula bila menggunakan material logam, pastikan tidak dalam kondisi berkarat. Pastikan bekisting mampu menahan beban selama jangka waktu proses pematangan beton.

Baca Juga: Jangan Salah Hitung, Begini Cara Menentukan Siku-siku pada Bouwplank

 Meskipun kekuatan dan kekokohan harus diutamakan, bekisting dan perancah harus dibuat sedemikian rupa agar kelak mudah dibongkar tanpa merusak konstruksi beton yang telah jadi. Pastikan membongkar bekisting setelah usia beton terpenuhi.

Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu di artikel-artikel #PakJago yang lain.

Edior: Damae Wardani