Masuk

Tips

Beranda / Tips
Khas Indonesia, Arsitektur Bangunan Ini Cocok untuk Negara Dua Musim
Desain Bangunan | 09 Nov 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Arsitektur bangunan sangat dipengaruhi oleh iklim dan musim. Hal ini tak jauh berbeda dengan pemilihan pakaian. Beda iklim dan musim, beda pula rancangan bangunannya. Tentu #SahabatJagoBangunan juga mengamati hal ini, bukan?

Nah, pada artikel ini, #PakJago akan membahas bagaimana hubungan bangunan dan musim. Apa perbedaan antara bangunan di wilayah dua musim dengan empat musim, bagaimana pula kekhasan bangunan dua musim? Simak penjelasan #PakJago, yuk!

Hubungan antara Bangunan dan Musim

Iklim dipengaruhi letak astronomis (letak suatu tempat dilihat dari posisi garis lintang dan bujur). Secara astronomis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa yang berklim tropis. Karena pengaruh rotasi dan revolusi bumi, daerah beriklim tropis hanya memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Sebaliknya, wilayah yang jauh dari khatulistiwa, wilayah subtropis memiliki 4 musim (semi, panas, gugur, dan dingin). Bahkan yang terjauh dari khatulistiwa hanya ada musim dingin.

(Sumber: disini)

Di daerah kutub yang hanya mengalami musim dingin, bangunan benar-benar dibuat rapat tanpa bukaan. Di wilayah subtropis, seperti Asia Timur, sebagian Eropa, dan Amerika, yang mengalami 4 musim, bangunan masih dirancang dengan bukaan dan kaca-kaca transparan. Namun, bangunan tetap mengantisipasi datangnya musim dingin. Dinding relatif tebal, atap dan dinding relatif rapat, menjelang musim dingin celah-celah pada jendela dan pintu juga disegel. Hal ini untuk mengantisipasi terbuangnya panas dan masuknya udara dingin.

Baca Juga: 3 Trik Mudah Membuat Rumah yang Berkisah tentang Hobi

Di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya. Karena mendapat sinar matahari sepanjang tahun dan memiliki tingkat kelembapan tinggi, bangunan justru dirancang dengan banyak bukaan. Apabila di negara tropis dipaksakan model bangunan berkonsep subtropis maka cenderung kurang nyaman jika tidak dilengkapi penghawaan buatan (air conditioner). Jadi, jelaslah mengapa model bangunan, termasuk rumah tinggal, di setiap negara berbeda-beda bentuknya.

Arsitektur Tropis

Berangkat dari bangunan tradisional, konsep yang paling sesuai untuk bangunan di wilayah tropis seperti Indonesia dikenal sebagai arsitektur tropis. Konsep arsitektur tropis berusaha mengadaptasi kondisi iklim tropis yang memiliki ciri-ciri: mendapat sinar matahari sepanjang tahun serta memiliki tingkat kelembapan tinggi, juga mengalami musim hujan dan kemarau secara bergantian.

Berikut ini #PakJago uraikan beberapa kekhasan arsitektur tropis yang ada di Indonesia.

(Sumber: Majalah Rumahku)

• Atap tinggi dengan sudut kemiringan relatif landai (±30˚) tergantung bahan penutup atap. Atap yang tinggi bertujuan menyediakan ruang bawah atap (loteng) yang cukup lapang sehingga dapat meredam panas. Kemiringan tersebut cukup baik untuk mengalirkan air hujan dengan lancar, berguna mencegah tempias air hujan lewat lubang atap dan juga rembesan, serta dapat mengantisipasi melorotnya genteng (tanah liat).

• Teritisan (overstek atau overhang) dibuat cukup lebar untuk mencegah tempias hujan membasahi dinding atau masuk ke bangunan lewat bukaan, terutama pada musim hujan yang berangin. Teritisan juga berfungsi membatasi jumlah sinar matahari langsung yang masuk ke dalam bangunan terutama saat matahari pada posisi rendah.

(Sumber: Majalah Rumahku)

• Memiliki banyak bukaan atau lubang penghawaan alami yang berguna mengurangi tingkat kelembapan di dalam bangunan. Biasanya diterapkan sistem ventilasi silang (horizontal maupun vertikal). Ruang dalam juga diupayakan memiliki plafon yang cukup ringgi.

• Konstruksinya lebih sederhana sehingga dapat diaplikasikan lebih banyak jenis material, baik bahan-bahan alami (kayu, bambu, dan sebagainya) maupun bahan produk teknologi.

Baca Juga: Green Bulding, Konsep Rumah Asri yang Bikin Anda Selalu Ingin Segera Pulang

• Orientasi bangunan dibuat dengan mempertimbangkan lintasan matahari (timur-barat) dan arah angin. Bukaan dan dinding transparan (kaca) idealnya mengarah ke utara atau selatan sehingga tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

• Untuk mencegah silau dan sengat matahari dan mengurangi paparan panas matahari ke dinding atau langsung ke dalam bangunan, pada sisi luar bangunan diterapkan elemen naungan (sun shading), dan kulit kedua bangunan (secondary skin).

(Sumber: Majalah Rumahku)

• Lingkungan dibuat untuk mendukung kenyamanan termal dan visual ruang dalam. Misalnya dengan menyediakan ruang hijau dan kolam, yang berpotensi mendinginkan udara, terutama di musim kemarau. Di musim kemarau, pepohonan juga berfungsi sebagai peneduh dan penyaring polusi terutama debu.

Demikian informasi #PakJago tentang karakteristik bangunan untuk wilayah tropis dengan dua musim. Semoga bermanfaat.

Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu pada artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani