Masuk

Tips

Beranda / Tips
Jangan Salah Hitung, Begini Cara Menentukan Siku-siku pada Bouwplank
Konstruksi Sipil | 03 Jan 2018

Oleh: Dwi Klarasari

Bouwplank (papan bangunan) adalah papan yang dipasang pada patok-patok yang ditanam pada lahan untuk menentukan titik-titik as bangunan sesuai gambar denah. Pemasangan bouwplank merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan pengukuran lahan dan penentuan denah rumah. Salah satu hal yang terpenting dalam pekerjaan ini adalah menentukan sudut siku-siku.

Mengapa penting? Karena patokan siku-siku ini akan menentukan ketepatan berbagai pekerjaan konstruksi (pembuatan pondasi, dinding), pekerjaan finishing (pemasangan ubin, plafon), bahkan kelak juga mempengaruhi pembuatan atau perletakan furnitur. Seperti kita tahu, kebanyakan material finishing dan furnitur memiliki bentuk siku.

Baca Juga: Mengenal SIPJAKI, Sistem Pembinaan Jasa Konstruksi Nasional

Penetapan sudut siku-siku diperlukan baik pada pemasangan bouwplank dan penentuan as bangunan dari rumah sederhana hingga bangunan berlantai banyak. #PakJago mencatat ada 2 cara untuk menetapkan sudut siku-siku pada tahap pembuatan bouwplank, yaitu dengan theodolit dan dengan rumus Pythagoras.

Menggunakan Theodolit

(Sumber: disini)

Theodolit adalah alat ukur tanah, yang biasa digunakan oleh juru ukur tanah atau surveyor juga Dengan theodolit dapat diukur sudut vertikal maupun sudut horizontal untuk menentukan jarak tegak ataupun jarak mendatar antara dua titik di lapangan. Jadi, dengan bantuan theodolit dapat ditentukan sudut siku-siku dan ketinggian suatu titik. Alat ini juga dapat dimanfaatkan untuk pemetaan situasi dan pengamatan matahari.

Ada berbagai jenis theodolit, dari yang harus dihitung manual hingga theodolit digital. Alat ukur yang dilengkapi perangkat optik ini memiliki tingkat ketelitian relatif tinggi. Jadi, penggunaan theodolit untuk menentukan sudut siku-siku di lapangan sangat akurat. #SahabatJagoBangunan perlu berlatih untuk melakukan pengukuran dengan theodolit.

Menggunakan Rumus Pythagoras

Dalam Matematika dikenal suatu dalil bernama Teorema Pythagoras, yang menunjukkan hubungan antara panjang sisi-sisi dalam segitiga siku-siku. Teorema ini menyatakan bahwa dalam segitiga siku-siku, di mana C sudut siku-siku, c sisi miring, dengaan a dan b sisi penyiku, berlaku rumus c2 = a2 + b2 atau dikatakan “kuadrat sisi terpanjang (miring) sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi penyiku.” Untuk lebih jelas, lihatlah ilustrasi berikut ini.

Dengan Dalil Pythagoras kita bisa menentukan panjang sisi yang lain bila 2 sisi yang lain diketahui.
Contoh: Jika sisi a=3 dan sisi b=4 maka sisi c dapat dicari dengan rumus c2 = a2 + b2.

c2 = 32 + 42
c2 = 9 + 16
c = (akar dari) 25 = 5

Jadi, sisi a=3, sisi b=4, dan c=5

Berdasarkan perhitungan Dalil Pythagoras dikenal pola angka seperti halnya pola 3-4-5 di atas, di mana nilai terbesar adalah ukuran sisi miring. Beberapa pola angka yang lain, misalnya 6-8-10; 9-12-15; 12-16-20. atau dibuat kelipatan 10, seperti 30-40-50; 60-80-100; dst.. Jika perbandingan panjang sisi-sisi segitiga memenuhi Dalil Pythagoras berarti sudut di depan sisi miring atau sisi terpanjang adalah sudut siku-siku (90˚).

Dalil Pythagoras ini dapat digunakan untuk perhitungan dalam beragam bidang termasuk bidang sipil dan arsitektur. Jadi, dengan rumus tersebut #SahabatJagoBangunan dapat menentukan sudut siku-siku pada bouwplank. Bagaimana caranya? Ikuti langkah-langkah berikut.

1. Tentukan satu titik (yang ingin ditetapkan sebagai sudut siku-siku), misalnya titik A. Pasang patok pada titik tersebut.

2. Dari titik tersebut ukurlah masing-masing sisi segitiga yang panjangnya memenuhi Dalil Pythagoras. Misalnya pola angka 60-80-100 centimeter.

3. Tarik benang dari titik A ke titik B hingga panjang sisi penyiku AB = 60 cm, lalu pasang patok B. Kemudian tarik benang dari titik A ke titik C hingga panjang sisi penyiku AC = 80 cm lalu pasang patok C. Untuk lebih jelas, lihat ilustrasi berikut.

(Sumber: disini)

4. Kemudian tarik benang dari patok B ke patok C dan hitunglah panjangnya. Jika sisi miring BC tersebut memiliki panjang 100 cm berarti sudut A sudah siku-siku (90˚). Sebaliknya, jika panjang BC tidak tepat 100 cm (belum tercapai pola angka 60-80-100) berarti sudut A belum siku-siku. Lakukan pergeseran patok B dan/atau C sedemikian rupa sehingga tercapai pola angka tepat 60-80-100 (AB=60 cm, AC= 80 cm, dan BC=100 cm).

5. Dengan sudut siku-siku A dan dua sisi penyiku sebagai patokan, tentukan titik-titik lain pada bouwplank dan titik-titik as bangunan sesuai denah. Gunakan Dalil Pythagoras untuk mengecek sudut siku-siku pada bagian-bagian lain.

Baca Juga: Agar Rumah Tampak Lebih “Cantik”, Ini 3 Hal yang Wajib Anda Tahu Sebelum Membeli Keramik

Semoga pengetahuan yang #PakJago bagikan ini bermanfaat. Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu di artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani