Masuk

Tips

Beranda / Tips
Jangan Asal Beli, Begini Cara Memilih Pasir yang Baik untuk Material Konstruksi
Konstruksi Sipil | 26 Dec 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Kekokohan konstruksi sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan bangunan pembentuknya. Karenanya untuk menghasilkan bangunan yang kuat dan kokoh sekaligus estetis diperlukan material yang tepat serta berkualitas baik. Kali ini #PakJago hendak membahas tentang pasir sebagai salah satu bahan bangunan yang banyak digunakan sebagai agregat halus. Misalnya, pada pondasi, pasangan dinding, plesteran, maupun konstruksi beton. Lalu, bagaimana cara memilih pasir yang baik? Ikuti ulasan #PakJago berikut ini, yuk.

Jenis Pasir dan Syarat Penggunaannya

Di pasaran dijual beragam jenis pasir yang ditambang dari berbagai tempat di alam, seperti sungai, laut, rawa, gunung atau pun bukit. Seiring kemajuan tersedia pula pasir yang diproduksi (pabrikasi) dengan cara menggiling bebatuan dan menyaringnya hingga didapat butiran dengan diameter sesuai kebutuhan. Pasir memiliki ukuran butiran hingga 5 mm, dan warnanya beragam (putih, abu-abu, cokelat, hitam) tergantung tempat penambangan.

Baca Juga: Cinta Produk Lokal, Percantik Rumah Anda Dengan Pasangan Batu Koral Asli Indonesia

Dalam konstruksi jenis agregat halus ini dibedakan menurut penggunaannya, yaitu pasir urug, pasir pasang, pasir plester, dan pasir beton. Pasir urug yang digunakan untuk pengurugan —di bawah pondasi, lantai, dan sebagainya— biasanya cenderung bercampur lumpur dan kerikil. Pasir pasang yang relatif bersih (sudah dicuci) dengan butiran relatif halus digunakan untuk pekerjaan pasangan pondasi dan dinding.

Pasir plester yang digunakan untuk plesteran juga memiliki karakteristik bersih dan halus. Sementara, pasir beton atau cor yang dipakai untuk membuat campuran beton (sloof, balok, plat) relatif lebih kasar, keras, dan tidak menggumpal jika digenggam serta cenderung berwarna hitam.

Dalam Standar Nasional Indonesia ditetapkan beberapa syarat untuk kualitas pasir yang baik, terutama untuk bahan campuran pembuatan beton (SNI S-04-1989-F tentang agregat halus).
• Agregat halus terdiri dari butir-butir tajam dan keras.
• Butir agregat halus harus bersifat kekal (tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca).
• Agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5%, jika lebih dari 5% harus dicuci.
• Agregat halus tidak mengandung bahan organik.
• Modulus kehalusan butir berkisar antara 1,5 -3 ,8 mm terdiri atas butiran yang bervariasi.

Cara Memilih Pasir yang Baik

(Sumber: disini)

Untuk memilih pasir berkualitas, diketahui beberapa cara sederhana maupun yang menggunakan teknik khusus. #SahabatJagoBangunan dapat memilih mana cara paling praktis.

1. Pasir yang baik tidak mengandung kotoran (bahan organik seperti daun kering, ranting lapuk, lumut) atau bercampur dengan bahan lain (lumpur, kerikil, dan batuan). Pasir yang bersih (sudah melalui proses pencucian) biasanya lebih mahal dibandingkan pasir yang kotor dan bercampur lumpur. Jadi, pasir yang lebih mahal biasanya memiliki kualitas lebih baik. Meskipun demikian, untuk memastikan #SahabatJagoBangunan harus mengeceknya.

2. Pengecekan pasir dapat dilakukan dengan melihat butiran dan menggenggamnya. Pasir yang baik memiliki butiran yang keras dan tajam. Jika digenggam dan dibuka pasir terurai dengan mudah berarti minim kandungan lumpur. Coba genggam pasir dengan dua telapak tangan. Sesaat kemudian buka genggaman dan jatuhkan pasir dengan menepukkan kedua telapak tangan.

Apabila pasir jatuh dengan mudah dan telapak tangan segera bersih tanpa ada pasir yang menempel dan mengotori tangan, berarti pasir memiliki kualitas yang relatif baik. Sebaliknya, jika pasir menempel dan mengotori tangan berarti agregat halus ini cenderung memiliki kandungan lumpur yang tinggi. Artinya, kualitasnya kurang baik.

Baca Juga: Selain Untuk Sirkulasi Udara, Ternyata Posisi Jendela Sangat Berpengaruh Pada Kesehatan, Lho..

3. Pengecekan dapat juga dilakukan dengan memasukkan genggaman tangan berisi pasir ke dalam air. Semakin tinggi kualitas pasir, relatif tidak mudah terlarut dalam air.

4. Pengujian kandungan lumpur dalam pasir juga dapat dilakukan dengan memasukkan pasir ke dalam botol (±1/2-nya) tambah air hingga 2/3 lalu kocok dan diamkan kira-kira 24 jam. Jika endapan lumpur yang terbentuk kurang dari 5% berarti pasir relatif baik.

Demikian uraian #PakJago tentang cara praktis memilih pasir yang baik untuk bahan bangunan. Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu di artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani