Masuk

Tips

Beranda / Tips
Ini Dia Penyebab Permukaan Keramik Menggembung dan Pecah, Serta Cara Mencegahnya
Konstruksi Sipil | 26 Dec 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Pernahkah #SahabatJagoBangunan mendapat komplain dari klien bahwa keramik yang Anda kerjakan menggembung atau terangkat? Lalu, kondisi terburuk yang terjadinya adalah retak dan pecah. Masih ada tukang bangunan maupun orang awam mengeluhkan insiden yang dikenal juga sebagai “popping up” ini.

Penggembungan permukaan keramik, apalagi sampai retak dan pecah, tentu akan merusak keindahan lantai dan perlu biaya besar untuk perbaikan; keramik sejenis pun belum tentu masih tersedia di pasaran. Sebenarnya apa penyebabnya? #PakJago mencatat beberapa penyebab popping up sekaligus tindakan antisipasi yang dapat dilakukan.

Penyebab Terjadinya Keramik Menggelembung dan Pecah

(Sumber: disini)

Beberapa hal berikut diketahui sebagai pemicu terjadinya penggembungan atau terangkatnya ubin keramik yang dapat berujung pada retak dan pecahnya ubin keramik tersebut.

Baca Juga: Glass Block, Cara Mudah Menerangi Ruangan Tanpa Lampu

• Kualitas adukan untuk lantai atau mortar perekat keramik kurang bagus. Adukan yang kurang bagus dapat disebabkan rasio bahan yang kurang tepat atau rendahnya kualitas bahan, terutama semen (daya rekatnya kurang).

• Kualitas ubin keramik kurang bagus, sehingga semen sulit menempel. Ubin kualitas rendah juga tidak tahan pada terjadi muai-susut (perubahan suhu rendah ke tinggi, atau sebaliknya secara berulang-ulang).

• Pengisian nat (celah antarkeramik) tidak dilakukan dengan benar. Misalnya, bahan nat terlalu kental atau encer dan nat tidak sepenuhnya terisi.

• Beban yang dipikul oleh lantai ubin keramik melebihi kemampuannya.

• Permukaan tanah di bawah lantai kerja mengalami pergerakan atau penurunan (ambles). Hal ini biasanya terjadi jika bangunan atau rumah berada di atas tanah labil, di daerah rawan gempa atau longsor, di tepi jalan raya yang memiliki getaran kuat karena dilewati banyak kendaran besar dan berat, dekat pabrik dengan mesin produksi bergetaran tinggi, atau dekat proyek yang menerapkan pemancangan tiang. Potensi penurunan tanah juga dapat terjadi jika lantai cukup lama terendam air atau banjir.

(Sumber: disini)

• Kondisi lantai kerja di bawah ubin keramik basah atau terlalu lembab. Hal ini bisa terjadi karena genangan banjir atau adanya rembesan air dari dalam tanah.

Begini Cara Mencegah Penggelembungan Keramik

Berbagai pemicu terjadinya penggembungan lantai keramik di atas dapat diantisipasi apabila #SahabatJagoBangunan melakukan berbagai upaya berikut.

• Untuk membuat mortar perekat keramik, gunakan material berkualitas —semen berkualitas bagus dan pasir tidak mengandung lempung. Rasio semen-pasir pun harus tepat, misalnya 1:6, dan pengadukan harus merata sehingga dihasilkan mortar yang homogen.

Agar lebih praktis gunakan mortar instan (tile adhesive)— namun ikuti petunjuk pengenceran dari pabrik. Aplikasikan mortar perekat secara merata, jangan sampai menyisakan rongga, karena akan menjebak udara yang kelak dapat memuai dan mendorong keramik.

• Pilih jenis keramik berkualitas bagus dan memenuhi standar internasional ISO. Jika terpaksa menggunakan jenis keramik berkualitas sedang atau rendah, sebaiknya lakukan perendaman (minimal 1 jam) sebelum material tersebut dipasang.

Baca Juga: Yuk, Kenali Kelebihan dan Kekurangan Konstruksi Bangunan Kayu Sebelum Anda Membangun

• Saat pemasangan keramik, upayakan jarak nat tidak dibuat terlalu rapat. Selain itu, jangan lupa memberi celah pada sisi yang berbatasan dengan dinding. Sebagai alternatif celah di pada batas dinding tersebut dapat juga diisi bantalan karet atau bahan fleksibel lain.

• Buat adonan pengisi nat dengan kekentalan tepat (tidak terlalu encer atau kental) dan merata. Jika menggunakan pengisi nat instan (tile grout), ikuti petunjuk produsen. Kerjakan pengisian nat (grouting) setelah perekat keramik kering, dan lakukan secara tepat. Mula-mula bersihkan nat dengan kape dan pastikan tidak ada udara terjebak di bawah keramik, lalu aplikasikan bahan pengisi nat dengan kape plastik dengan arah melintang dan sejajar. Pastikan bahan pengisi benar-benar masuk ke dalam nat secara penuh dengan memberi tekanan ringan.

(Sumber: disini)

• Aplikasikan jenis keramik yang sesuai dengan beban lantai. Misalnya, untuk lantai carport pilihlah jenis keramik yang diproduksi khusus dengan kemampuan menahan beban berat perabot atau kendaraan.

• Keramik yang menggembung dan berujung retak atau pecah, yang disebabkan oleh bencana alam (tanah bergerak, longsor, gempa, getaran sekitar, ataupun banjir) hanya dapat diatasi dengan menghindari daerah rawan bencana. Hal ini tentu sudah harus diketahui sebelum bangunan didirikan. Namun, untuk tingkat kelembapan tinggi dari dalam tanah masih dapat diminimalkan dengan membuat lantai kerja (di bawah keramik) dari campuran kedap air.

• Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, misalnya: pertama, pemasangan keramik dengan area relatif luas atau pada lantai atas dianjurkan menerapkan expansion joint, yaitu sambungan yang berfungsi mengantisipasi pergeseran struktur, di mana bahan pengisi nat selain grout juga bahan elastis seperti bantalan karet atau srytofoam.

Selanjutnya, pemasangan keramik pada dak beton, pastikan dak beton telah melewati proses waterproofing. Selain itu terapkan juga jarak nat yang lebih lebar (sampai 3 mm), bisa juga pengisi nat dikombinasi dengan bahan elastis.

Demikian informasi dari #PakJago tentang sebab-sebab terjadinya penggembungan keramik dan cara mengantisipasinya. Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Sampai bertemu di artikel-artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani