Masuk

Tips

Beranda / Tips
Ingin Bangunan Anda Tahan Gempa?– Perhatikan 5 Hal Penting Ini
Konstruksi Sipil | 01 Mar 2021

Ingin Bangunan Anda Tahan Gempa?– Perhatikan 5 Hal Penting Ini

 

Bangunan tahan gempa pasti menjadi prioritas bagi Anda yang tinggal di Indonesia. Ini karena posisi Indonesia yang tepat berada di tengah-tengah Lingkaran Api Pasifik sehingga gempa bumi dan letusan gunung berapi seringkali terjadi.

Bangunan tahan gempa dibangun menggunakan struktur dan teknik tersendiri dibandingkan bangunan biasa. Jika Anda ingin membangun bangunan tahan gempa, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian khusus, yakni sebagai berikut.

1. Tanah yang Padat dan Keras

Tanah yang padat dan keras menjadi bagian penting bangunan tahan gempa karena berfungsi sebagai tumpuan pondasi untuk mengalirkan beban bangunan. Pondasi tahan gempa tidak begitu berarti jika tidak berdiri di atas tanah padat dan keras. Untuk itu, sebelum memulai proses pembangunan, Anda perlu melakukan survei untuk memastikan kualitas tanah di mana bangunan akan berdiri.

 

Jika tanah kurang keras, Anda perlu memperkuat lapisannya dengan membiarkan tanah galian konstruksi selama beberapa hari. Sesaat setelah tanah digali, lakukan pemadatan secara manual serta melakukan penyiraman air.

 

Tanah yang padat

 

2. Pondasi dengan Kedalaman yang Cukup

Kedalaman pondasi bangunan tahan gempa bergantung pada bangunan. Jika bangunan hanya 1 lantai, pondasi batu kali dengan kedalaman 45 cm direkomendasikan. Jika bangunan mempunyai 2 lantai, kedalaman pondasi batu kali hendaknya 60 cm.

Pondasi batu kali bangunan tahan gempa juga perlu dibuat dengan perbandingan pasir dan semen yang tepat. Agar kuat dan kokoh, perbandingan pasir dan semen yang direkomendasikan adalah 1:4.

 

Pondasi kedalaman yang disarankan : 45 cm (bangunan 1 lantai) dan 60 cm (bangunan 2 lantai)

 

3. Pondasi Bangunan Menerus (Tidak Terputus)

 


Selain kedalaman dan perbandingan pasir semen yang tepat, kunci bangunan tahan gempa juga ada pada pondasi yang dibangun secara menerus alias tidak terputus. Memang, pondasi menerus akan memakan biaya lebih banyak. Namun, demi keselamatan penghuni bangunan nantinya, sebaiknya tetap dilakukan.

 Pondasi bangunan menerus

 

4. Sloof atau Balok Pengikat Pondasi

Setelah pondasi dibuat, langkah selanjutya adalah membuat sloof atau yang dikenal sebagai balok pengikat pondasi. Sloof merupakan jenis konstruksi beton bertulang yang di desain khusus luas penampang dan jumlah pembesiannya disesuaikan dengan kebutuhan beban di atasnya.

Sloof berfungsi mendistribusikan beban dari bangunan atas ke pondasi, sehingga beban yang tersalurkan di setiap titik di pondasi tersebar merata. Selain itu sloof juga berfungsi sebagai pengunci dinding dan kolom agar tidak roboh apabila terjadi pergerakan tanah.

Perbandingan bahan yang direkomendasikan untuk membuat sloof adalah 1 semen : 2 pasir : 2 split (koral).

  

 Sloof beton bertulang

 

 





5. Ikatan Sloof, Pondasi, dan Kolom

Setelah membuat pondasi dan sloof dengan benar, langkah terakhir yang menentukan ketahanan semua bagian adalah ikatan antara sloof, pondasi, dan kolom.

Anda perlu memastikan kolom atau tulangan besi telah terpasang dengan baik sebelum mengikatnya dengan beton. Ikatan antara 3 hal ini akan menentukan kekuatan pondasi bangunan tahan gempa Anda. Pasalnya, ikatan inilah yang bertugas untuk menyalurkan beban gempa secara keseluruhan dari atas hingga bawah bangunan. Jika ikatan kuat, maka saat gempa terjadi, bangunan tidak akan hancur.

 

 Konsultasi Jago Bangunan

Kunci dari bangunan tahan gempa adalah saat Anda membangun pondasinya. Persiapan tanah yang padat, pondasi batu kali, sloof, hingga ikatannya, harus dilakukan dengan tepat. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai bangunan tahan gempa atau hal mengenai konstruksi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui website Jago Bangunan dan Facebook Jago Bangunan.