Masuk

Tips

Beranda / Tips
Boleh Menghemat Biaya Material, Tapi Jangan Untuk Bangunan Struktural Pada Rumah Tinggal
Konstruksi Sipil | 15 Feb 2020

Oleh: Amin Zainullah

#SahabatJagoBangunan, kekuatan bangunan rumah ditentukan oleh kekuatan struktural mulai dari bagian paling bawah, yakni pondasi, sloof, kolom, ring balok, kuda-kuda, dan penutup atap. Hingga bagian non struktural seperti tembok, plesteran, plafon, pasangan keramik, cat, alat saniter, kusen, pintu, jendela, engsel, dll.

Seringkali kami mendapatkan pertanyaan yang tampak seolah “menawar” ukuran pondasi dan ukuran besi yang lebih kecil dengan alasan penghematan. Faktor ekonomi tentu akan selalu menjadi perhatian. Namun jika kita menghemat biaya pada pekerjaan pondasi, justru akibatnya di masa depan akan menjadi pemborosan, karena perbaikan struktur yang bermasalah akan lebih sulit dan lebih mahal ketimbang saat pertama kali membangun.

Untuk itu, perhatikan hal-hal berikut agar pekerjaan struktur bangunan menjadi kuat dan kokoh:

1. Kekerasan tanah yang akan dibangun.

Untuk membangun pondasi konvensional dengan batu alam yang berbentuk trapesium, maka galian harus mencapai tanah keras/tanah asli dengan daya dukung sekitar 2 kg/cm2 atau 0,2 N/mm2, ditandai dengan kerasnya cangkulan ketika menggali pondasi serta kepadatan tanahnya. Tanah asli akan berbeda perlakuannya dengan tanah urug.

Jika tegangan tanah rendah/gambut masih bisa dicarikan solusi dengan memancang atau membuat bore pile/strauss sampai mencapai tanah keras Sehingga orang tidak lagi takut membangun di atas tanah lunak, karena gaya gesek tiang pancang dengan tanah akan menghasilkan kekuatan daya dukung yang cukup. Terlebih lagi jika memancangnya hingga mencapai tanah keras. Kedalamannya relatif, ada yang 2 meter tetapi ada yang hingga 8 meter.

2. Ukuran pondasi

Pondasi sederhana berbentuk trapesium untuk rumah tak bertingkat bisa dibuat ukuran bawah 70 cm, ukuran atas 30 cm dan tinggi 70 cm. Campuran yang digunakan 1 semen : 6 pasir.

Sumber: dok. Jago Bangunan.

Saat ini lebih banyak dibuat pondasi setempat/cakar ayam. Kami kerap mendapat pertanyaan, apakah kuat membangun rumah 1 lantai di atas tanah bergerak dengan pondasi setempat ukuran 60x60 tebal 15 cm dengan besi 8 mm?

Dengan kata lain, arah bahasannya adalah penghematan. Namun jika daya dukung tanah cukup kuat, bisa saja dengan ukuran seperti itu dipakai tetapi jarak besi yang 8 mm diperdekat hingga 5 cm-an (lebih rapat) agar menghasilkan kekuatan menahan gaya yang memadai.

Sumber: dok. Jago Bangunan.

Jika kondisi tanahnya bergerak, maka disarankan menggunakan ukuran 80x80 dengan tebal 20 cm, karena semakin luas permukaan telapak pondasi akan semakin kuat ketahanan menerima beban di atasnya, terlebih jika tulangannya memakai besi 12 mm dengan jarak 10 cm. Sehingga tulangan pokok di bawah berjumlah 8 buah x 2 karena bersilangan menjadi 16 buah.

Lebih kuat lagi jika ditambah pembesian atas meskipun bagian atas tidak harus pakai 12mm, cukup 10mm saja dan jumlahnya cukup 6 buah x 2 atau 12 buah. Penambahan lapisan atas adalah untuk menahan jika ada momen, karena beban bangunan tidak hanya vertikal saja, terkadang ada juga yang horizontal seperti angin atau gempa atau akibat getaran kendaraan yang lewat.

Baca Juga: Tukang Bangunan Juga Harus Bisa Membuat Analisa RAB, Latihan Dulu, Yuk!

3. Ukuran kolom

Kolom di bawah sloof disebut pedestal. Umumnya dibuat ukuran sama dengan kolom yang di atas sloof, untuk bangunan rumah tinggal yang tidak bertingkat bisa diambil ukuran 20x30 dengan besi 4 buah diameter 12 mm. Jika beban besar rumah 2 lantai bisa dipilih ukuran lebih besar 25x35 sedangkan untuk rumah 3 lantai atau lebih dibuat 30x40, dengan besi 6 buah diameter 12 mm.

4. Ukuran sloof

Ukuran sloof ditentukan oleh jarak kolom.Semakin jauh semakin tinggi ukurannya. Pada bentangan sampai 3,50 meter bisa diambil ukuran 15x30. Untuk bentangan antara 3,50-5,00 diambil ukuran 20x40. Besi yang digunakan 4 buah diameter 12 mm dengan beugel 8mm jarak 15 cm.

Contoh pedestal, sloof, dan kolom yang dikerjakan sesuai ukuran standar (sumber: dok. Jago Bangunan).

5. Ring balok

Pada akhir pasangan tembok dipasang balok keliling agar pasangan stabil. Ukuran ring balok pada rumah tidak bertingkat cukup 15x20, besi 4 buah diameter 10 mm dengan beugel 6 mm jarak 15 cm.

Baca Juga: Begini Cara Cepat Menghitung Kebutuhan Besi Beton Untuk Pembesian Pondasi, Kolom, dan Dak

6. Balok struktur

Ukuran tinggi balok struktur atau balok yang menahan plat/dak setidaknya 1/12 kali bentangan. Semisal lebar bentangan 5 meter maka tinggi balok 500 cm / 12 = 41,6 cm bisa dibulatkan 40 cm dan lebarnya sebesar setengah tinggi yaitu 40/2= 20 cm sehingga ukuran balok 20/40. Jumlah besi yang lazim adalah 6 diameter 16 mm ulir dan beugel 8 mm jarak 15 cm.

7. Plat/dak

Tebal standar untuk plat adalah 12 cm agar tidak bergetar, kuat dan juga tidak rembes, namun di lapangan banyak yang ditipiskan menjadi 10 cm bahkan ekstrimnya berani membuat dengan ketebalan 8 cm, akibatnya dak bergetar ketika ada benda bergerak dan tidak nyaman dipakai karena keramiknya banyak yang terlepas/popping akibat lenturan plat.

Semua campuran beton untuk pekerjaan struktur rumah tinggal cukup menggunakan perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil.

Jika kita berpikir jauh ke depan, penghematan ukuran maupun material untuk membuat bangunan struktural, bukanlah langkah yang tepat. Daripada bermasalah di kemudian hari dan menghabiskan lebih banyak biaya untuk perbaikan, lebih baik sejak awal pekerjaan dilakukan sesuatu standar, bukan?

Baca Juga: Begini Cara Memasang Bore Pile untuk Pondasi Rumah Bertingkat Sederhana

=====
Mau konsultasi gatis seputar konstruksi, desain bangunan, atau RAB? #TanyaPakJago saja.

Pak Jago nantikan konsultasi Anda melalui call center 0800 108 8888 (bebas pulsa), kotak pesan di Fanpage Jago Bangunan, atau menu konsultasi di website jagobangunan.com.
=====

Editor: Damae Wardani