Masuk

Tips

Beranda / Tips
Begini Aturan dan Tahapan yang Harus Anda Tahu Sebelum Membuat Pagar dan Selokan
Konstruksi Sipil | 21 Nov 2017

Oleh: Dwi Klarasari

Pagar dan selokan adalah bagian bangunan, termasuk di rumah tinggal, yang sangat penting. Pagar berkaitan erat dengan privasi dan sistem keamanan, sedangkan selokan berhubungan dengan sistem drainase. Dalam pembangunan, keduanya bisa jadi saling berkaitan atau memengaruhi. Berikut #PakJago uraikan hal-hal prinsip terkait pembuatan pagar dan selokan.

Aturan Membuat Pagar dan Selokan

Pagar yang membatasi lahan hunian termasuk hak milik pribadi dan harus dibangun di lahan pribadi. Selain mempertimbangkan aspek kekuatan, keamanan, dan estetika, pembuatannya juga harus mempertimbangkan aspek sosial dan regulasi. Berikut penjelasannya.

• Hindari membuat pagar tepat pada garis batas lahan, apalagi di luar batas karena berarti menggunakan lahan umum/orang lain. Demikian juga bila membuat fitur lansekap, seperti bangku, bak sampah, dan carport.

(Sumber: disini)

• Ikuti regulasi pemerintah setempat atau pengembang. Misalnya, jika rumah ada di kawasan berkonsep hunian tanpa pagar, sebaiknya pembuatan pagar tidak dipaksakan. Jika tak ada regulasi, pagar bisa dibangun sesuai keinginan. Untuk keamanan dan privasi bisa dibuat pagar tertutup setinggi ±1,8-2,5 meter; untuk antisipasi bising bisa dibuat pagar tebal setinggi ±1,8-2 meter; dan sebagainya.

Baca Juga: Ini Cara Memasang Talang Metal yang Benar Agar Air Hujan Tidak Merusak Bangunan

• Di permukiman yang relatif aman, idealnya pagar tidak sepenuhnya menutup relasi dengan lingkungan luar. Mengingat perlunya keramahan, kerukunan dan tenggang rasa, idealnya tinggi pagar dibuat ±0,9-1,2 meter dengan desain transparan. Pagar solid (tembok atau dinding beton) yang terlalu tinggi juga berpotensi menutup aliran udara serta penyinaran matahari. Hal ini akan mengurangi kenyamanan rumah sendiri juga tetangga.

Bagaimana dengan selokan? Berbeda dengan pagar, selokan yang ada di luar rumah biasanya dibangun pada lahan umum dan terhubung dengan selokan tetangga. Selanjutnya, sistem drainase lingkungan akan terhubung ke pembuangan utama (sungai, danau, atau laut.).

Jadi, pembuatan selokan perlu disesuaikan dengan sistem drainase lingkungan setempat, mencakup lebar, kedalaman, kemiringan, juga tingkat ketertutupan. Kesepakatan masyarakat setempat, mungkin juga mencakup aspek estetika, seperti keseragaman material atau finishing.

Tahapan pembuatan pagar dan selokan

Dalam perencanaan rumah, idealnya posisi pagar dan selokan juga ditetapkan. Pembuatan pagar dan selokan bisa dilakukan secara terpisah, tetapi bisa juga dilakukan secara berurutan. Jika dana terbatas, utamakan pembangunan selokan karena berkaitan dengan sistem pembuangan air kotor dan air hujan dari rumah tinggal. Berikut tahap-tahap pembuatannya yang bisa disesuaikan dlam pengerjaan di lapangan.

(Sumber: disini)

• Pertama, tentukan desain pagar dan selokan, terkait bentuk, ukuran dan material. Pagar bisa berupa dinding bata, batu, kayu, baja, hollow, atau kombinasi. Tentukan juga material untuk selokan, apakah bata plesteran, cor beton, beton pracetak (U-ditch), atau yang lain; terbuka atau tertutup; dan sebagainya.

• Lakukan pengukuran untuk menentukan dimensi dan elevasi pagar dan selokan. Sebaiknya berikan jarak antara keduanya. Jika lahan cukup luas, pagar bisa dibuat menjorok ke dalam. Pasang bouwplank, gunakan benang untuk pedoman penggalian dan pemasangan pondasi.

• Lakukan pekerjaan galian tanah. Meskipun pondasi pagar bisa di atas tanah, tetapi sebaiknya dibuat di dalam tanah agar pagar lebih kokoh. Kedalamannya disesuaikan jenis pagar, tetapi bisa <1 m. Sementara, kedalaman selokan disesuaikan sistem drainase setempat yang sudah terbangun. Sesuaikan juga dengan materialnya, misalnya dipakai U-ditch ukuran 30×30 cm (lebar×tinggi).

(Sumber: disini)

• Lakukan pengerjaan pondasi. Jenis pondasi tergantung jenis pagar. Untuk pagar tembok atau kombinasi tembok dengan material lain (kayu, dan besi hollow) bisa dibuat pondasi lajur batu kali atau bata merah, plat menerus, atau tapak. Namun, untuk pagar sederhana cukup dibuat pondasi setempat untuk kolom atau tiang antarpagar (misalnya setiap jarak 1,5- 5 meter). Sementara untuk selokan U-ditch, bisa dibuat lantai kerja (sirtu dan batu kosong).

• Selanjutnya, buat dinding pagar dari bahan terpilih. Misalnya, pagar tembok plesteran, pagar dinding bata ekspose, batu alam, kayu, metal (besi holow, baja, dsb.), atau kombinasinya. Pilihlah sesuai tingkat keamanan dan keindahan yang diinginkan. Sementara untuk selokan, bisa dipasang U-ditch yang telah disiapkan dengan memperhatikan kemiringan sesuai aliran air.

Baca Juga: Menawan, Perpaduan Batu Alam dan Bata Merah Ini Bisa Diterapkan Dimana Saja

Pemasangan U-ditch pada area pintu masuk harus dilengkapi penutup (bisa berupa beton pracetak atau besi penutup selokan). Bagian ini harus cukup kuat, terutama jika nantinya juga dilewati kendaraan. Pastikan selokan terhubung sempurna dengan saluran drainase dari dalam rumah. Lakukan penyemenan pada celah antar-buis beton dan buat perkuatan pada sisi atas kanan-kirinya misalnya berupa bata plesteran.

(Sumber: disini)

• Jika pagar sudah selesai, bisa dipasang pintu pagar (sebelumnya bisa dipesan atau dirangkai tersendiri). Lanjutkan dengan tahap finishing agar pagar lebih indah. Terakhir, jika perlu, bisa dipasang pengaman elektronik dan perangkat elektrik agar pagar bisa dibuka-tutup otomatis.

Sementara, pastikan selokan kering sempurna sebelum dioperasikan. Untuk keamanan dan mengantisipasi kotoran masuk, bagian yang terbuka bisa dipasang besi penutup selokan. Area antara pagar dan selokan bisa dimanfaatkan sebagai ruang hijau.

Semoga berbagai informasi dari #PakJago terkait pembuatan pagar dan selokan ini berguna. Jika #SahabatJagoBangunan ingin mendapatkan informasi lebih banyak atau berdiskusi seputar arsitektur, sipil dan pertukangan, silakan kunjungi website kami atau hubungi call center bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Jangan lupa simak artikel #PakJago yang lain.

Editor: Damae Wardani