Masuk

Tips

Beranda / Tips
9 Dasar Konstruksi Rumah Sederhana Tahan Gempa Ini Sudah Diterapkan Leluhur Sejak Dulu, Lho..
Konstruksi Sipil | 16 Aug 2017

Oleh: Jerie

#SahabatJagoBangunan, Indonesia terletak di puncak batuan dasar yang terhubung dari Sabang sampai Merauke. Ini mengakibatkan gempa bisa terjadi berulang secara periodik dan bangunan rumah sederhana menjadi sasaran empuk kehancurannya. Karenanya konstruksi bangunan rumah sederhana, terutama untuk daerah rawan bencana, sebaiknya menerapkan dasar perencanaan bangunan tahan gempa.

Konstruksi bangunan baik kayu, bambu, baja, blok beton, maupun beton bertulang sangat cocok dengan sistem rangka kaku -yang umum digunakan pada bangunan rumah sederhana. Sistem rangka kaku ini membuat bangunan ringan serta memiliki daya tahan tinggi terhadap gempa.

Bahkan sistem rangka kaku ini sudah diterapkan para leluhur pada bangunan rumah adat tradisional Indonesia, yang sudah teruji tahan gempa. Diantaranya rumah adat Krong Bade (Aceh), Gadang (Sumatera Barat), Joglo (Jawa Tengah), Gapura Candi Bentar (Bali), Dalam Loka (NTB), Musalaki (NTT), Panjang (Kalimantan Barat), Tongkonan (Toraja-Sulawesi Selatan), Tambi (Sulawesi Tengah), dan Honai (Papua).

Lalu bagaimana bangunan dengan rangka kaku itu mampu bertahan dari bencana gempa? Berikut ini #PakJago akan menjelaskan tentang 9 dasar konstruksi tahan gempa untuk rumah sedehana yang menerapkan rangka kaku. Simak, yuk!

- Denah bangunan dibuat sederhana dan simetris (seperti bentuk kotak, bujur sangkar, bulat, atau segienam).

- Pemisahan struktur bangunan serta bangunan tidak terlalu panjang. Perbandingan lebar bangunan : panjang bangunan = 1 : 2.

- Dinding penyekat dan lubang bukaan pintu atau jendela dibuat simetris sesuai sumbu bangunan.

- Pondasi harus ditempatkan di tanah keras yang kering, padat, dan merata kekerasannya.

Sebaiknya tinggi pondasi lebih dari 45 cm dari muka tanah. Gunakan pondasi menerus mengikuti panjang bangunan. Sebaliknya, pondasi bertangga dengan kedalaman berbeda tidak diperkenankan.

- Pondasi setempat atau umpak harus diikat kuat satu sama lainnya dengan sloof. Untuk kondisi tanah lunak dapat menggunakan pondasi plat beton.- Bidang dinding bangunan dibuat membentuk kotak tertutup.

- Atap dibuat yang seringan mungkin.

Perhatikan pemilihan lokasi bangunan. Untuk lahan perbukitan, pilih daerah lereng yang stabil. Bila gempa terjadi di lawasan ini, tanah tidak langsung longsor. Sementara untuk tanah dataran, pilih daerah yang tidak memiliki jenis tanah sangat halus dan tanah liat sensitif (tanah mengembang).

Desain struktur bangunan memiliki daktilitas (kekuatan dan kekakuan) yang baik, kelenturan pada strukturnya, dan daya tahan terhadap kerusakan.

Nah, itu dia dasar-dasar konstruksi bangunan yang harus diterapkan jika ingin rumah sederhana yang kokoh dan tak lekas hancur saat terjadi gempa. Semoga bermanfaat.

#SahabatJagoBangunan, untuk mendapat informasi lebih lanjut dan diskusi seputar arsitek, sipil, dan pertukangan Anda bisa berkonsultasi melalui website maupun call center – bebas pulsa di nomor 0800-188-5656. Ikuti dan simak terus artikel-artikel #PakJago berikutnya, ya.

 

Editor: Damae Wardani