Masuk

Tips

Beranda / Tips
5 Tahun Jadi Guru Tak Ada Hasil, Lulusan Sarjana Pendidikan Ini Malah Sukses Jadi Mandor
Kisah Inspirasi | 13 Feb 2018

Oleh: Hildatun Najah

Hidup memang tidak pernah mulus dan penuh kejutan. Begitu pula kehidupan Edih, Duta Tukang Semen Gresik di Tasikmalaya, Jawa Barat. Empat tahun berjuang demi jadi sarjana pendidikan dari hasil nukang, kesuksesannya sebagai Mandor justru diraih saat ia berani melepas seragam guru –profesi impiannya.

Tertarik dengan Pertukangan Sejak Kecil

Sejak kecil, dunia konstruksi bukanlah hal yang asing bagi Edih. Kakeknya yang juga berprofesi sebagai tukang sering mengajak Edih ke tempat kerjanya. Bata, kayu, suara gergaji hingga  bau adukan semen sudah biasa ia temui. Bahkan Edih kecil biasa membuat bermain dengan tanah kering yang ia kreasikan menjadi bata. Menumpuknya hingga menyerupai dinding rumah.

 (Sumber Ilustrasi: disini)

Baca Juga: Nekad Keluar Sekolah Demi Nguli, Pria Ini Sukses Jadi Tukang Bangunan di Perantauan

Bakat Edih kian terasah seiring mulai masuk Sekolah Menengah Atas (1984), ia mulai sering ikut orang tuanya bekerja bangunan. Sedikit demi sedikit ia belajar mengenai proses pembangunan di sela kegiatannya sebagai pelajar. Edih juga mengisi hari-hari libur sekolahnya dengan membantu tukang lain sekaligus menambah ilmu.

Keterbatasan biaya memaksa Edih harus menunda pendidikan lanjutan ke Perguruan Tinggi seperti teman Edih yang lain. Beruntung Edih memiliki pengalaman dan pengetahuan di dunia konstruksi untuk bekal awal bekerja sebagai tukang. Ia mulai mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi bisa menyiapkan biaya kuliah. Setahun berselang, tabungan Edih cukup untuk mencecap bangku perkuliahan dengan mengikuti kelas karyawan.

 (Sumber Ilustrasi: disini)

Baca Juga: Merasa Tak Cukup Bermodal Sertifikat Tukang, Pria Ini Pilih Nguli Dulu Sebelum Melesat Jadi Mandor

Kegiatan Edih sebagai tukang terus berlanjut sembari menuntut ilmu di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Pendidikan Agama Islam, sejak 1990. Namun kesibukan perkuliahan tak membuat Edih berhenti bekerja. Justru ia kian semangat agar bisa menamatkan pendidikan S1 sebagaimana impiannya. Jadilah keseharian sebagai mahasiswa dan tukang terus Edih jalani hingga ia lulus 4 tahun kemudian.

Lepas Profesi Impian Demi Jadi Kepala Tukang

Berhasil menyelesaikan kuliah dari jurusan pendidikan tidak serta merta membuat karir Edih sebagai guru berjalan mulus. Lima tahun mengabdi di sekolah, karirnya sama sekali  tak mengalami peningkatan. Ia terus menjadi guru honorer, bahkan pernah bekerja sebagai penjaga sekolah. Terang saja ia merasa pekerjaannya sebagai guru SD dan SMP tidak membuahkan banyak hasil.

Keadaan ini berbanding terbalik dengan karirnya di bidang konstruksi. Pekerjaan tukang yang terus Edih jalani bahkan saat ia menjadi guru membuatnya semakin kaya akan pengalaman. Maka pada tahun kelima itu ia memutuskan untuk melepas seragamnya sebagai guru. Sejak itu pula Edih mulai mendapatkan kesempatan untuk menjadi kepala tukang pada beberapa proyek seperti rumah tiga tingkat, sekolah, dan masjid.

 (Sumber Ilustrasi: disini)

Kesungguhan Edih menekuni pekerjaan konstruksi membuatnya berkesempatan untuk ikut program Pelatihan dan Sertifikasi Tukang Bangunan (Edutrain) yang diadakan oleh Semen Gresik di kota tempat tinggalnya, Tasikmalaya. Dari sana, ia semakin belajar banyak hal terkait konstruksi dan membuatnya kian percaya diri untuk berkarir di bidang ini. Bahkan ia berhasil menempati peringkat pertama dalam kompetisi yang diadakan di Edutrain. Mengalahkan ratusan peserta lainnya dan berkesempatan mengikuti Jambore Tukang di Malang.

Resep Sukses Edih: Kepercayaan Klien Harus Jadi Prioritas Utama

Di usia yang tidak lagi muda membuat tenaga Edih tidak sekuat dulu. Terlebih pekerjaan tukang sudah ia jalani selama hampir 34 tahun. Bahkan Edih sudah berhasil mengantarkan kedua anaknya hingga menjadi sarjana. Edih merasa lelah dan menginginkan pekerjaan yang lebih santai. Ia berharap bisa memiliki warung kecil sebagai pengganti profesinya sebagai tukang.

(Sumber Ilustrasi: disini)

Baca Juga: Bertekad Membangun Desa Bersama Tukang Bangunan, Ini yang Didapat Seorang Mantan Kuli Hari Itu Juga

Namun, Edih masih memiliki tanggungan untuk dua anaknya lagi yang masih duduk di bangku SMK dan SD. Untuk saat ini, Edih terpaksa melupakan keinginan membuat warung dan berharap terus diberi kemampuan untuk bekerja di bidang konstruksi.

Bagi Edih, salah satu kunci sukses menjadi seorang tukang ialah terus berusaha meningkatkan kapasitas dan kemampuan. Tidak lupa kejujuran serta kedisiplinan akan membuat klien semakin percaya dan mau menggunakan jasanya lagi. Kepuasan pelanggan harus menjadi prioritas utama. “Terus meningkatkan kinerja dan kepercayaan konsumen, harus selalu dilakukan oleh seorang pekerja bangunan,” pesan Edih mengakhiri wawancara.

Editor: Damae Wardani